New Policy: Risiko hipertensi naik, dokter sebut MCU mampu kurangi beban kesehatan
Risiko Hipertensi Naik, Dokter Sebut MCU Mampu Kurangi Beban Kesehatan
New Policy – Jakarta, Antaranews — Profesional kesehatan di bidang okupasi, Dr. Muchammad Arief Gunawan dari Klinik Pertamina IHC, mengungkapkan bahwa penyakit hipertensi dan diabetes kini lebih sering terjadi pada usia 30-an. Hal ini membuat pemeriksaan kesehatan menyeluruh (MCU) menjadi penting untuk mengurangi tekanan kesehatan yang dialami perusahaan. Menurut Arief, kebiasaan hidup modern, seperti stres kronis, kurang tidur, dan gaya hidup kurang aktif, menjadi faktor utama penyebab kondisi ini. “Pada masa lalu, penyakit hipertensi dan diabetes lebih banyak ditemukan pada usia di atas 40 tahun, namun kini mulai terpantau di kelompok usia 30-an. Pola hidup dan lingkungan kerja yang berubah menjadi penyebab utamanya,” jelasnya di Klinik Pertamina IHC Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Selasa.
MCU: Solusi Efektif untuk Produktivitas dan Biaya
Dalam wawancara, Arief menekankan bahwa MCU tidak hanya memantau kondisi kesehatan pekerja, tetapi juga mencegah timbulnya komplikasi yang lebih serius. Ia mencontohkan biaya MCU untuk satu karyawan berkisar antara Rp1 hingga Rp2 juta, sementara biaya pengobatan serangan jantung bisa mencapai Rp150 hingga Rp200 juta. “Dengan mendeteksi masalah lebih awal, perusahaan bisa menghindari biaya besar di masa depan,” tambahnya. Menurut Arief, MCU membantu mengidentifikasi risiko kesehatan berdasarkan karakteristik industri, sehingga intervensi yang diberikan lebih tepat sasaran dan hemat.
“Stres dalam kadar tertentu baik untuk menjaga produktivitas, tetapi jika berlebihan, bisa menyebabkan burnout. Konsumsi kopi berlebihan juga perlu diimbangi dengan istirahat yang cukup,” ujar Arief.
Arief menjelaskan bahwa stres tidak selalu negatif. Ada batas normalnya untuk menjaga kinerja optimal, tetapi bila melebihi batas, akan merusak kesehatan jangka panjang. Ia menambahkan, kebiasaan mengonsumsi kopi setiap hari dianggap sebagai salah satu cara pekerja mengatasi stres. Namun, konsumsi kopi berlebihan harus dikontrol agar tidak menjadi faktor penyumbang tekanan darah tinggi. “Dalam survei terhadap salah satu perusahaan, sekitar 70 persen karyawan mengonsumsi kopi secara rutin. Hal ini mencerminkan tingkat stres yang tinggi di lingkungan kerja,” katanya.
Konteks Industri dan Faktor Paparan
Menurut Arief, setiap industri memiliki risiko kesehatan yang berbeda. Contohnya, sektor tambang memiliki potensi paparan debu silika yang masuk ke saluran pernapasan, sementara industri migas berisiko tinggi terhadap paparan bahan kimia. “Pekerja di lokasi terpencil sering mengalami isolasi sosial, tingkat obesitas yang mencapai 50–60 persen, dan kelelahan akibat aktivitas yang terbatas,” ujarnya. Dalam skenario ini, MCU menjadi alat untuk mengukur dampak lingkungan kerja terhadap kesehatan pekerja.
Di sisi lain, pekerja kantor atau work from office (WFO) menghadapi risiko lain, seperti gaya hidup sedentari dan kurangnya aktivitas fisik. “Lingkungan kerja yang terang kurangnya pencahayaan dapat memicu kelelahan mata, yang bisa berujung pada gangguan penglihatan. MCU membantu menemukan masalah ini sebelum memburuk,” terang Arief. Ia juga menyoroti bahwa penilaian kesehatan harus melibatkan analisis spesifik untuk setiap jenis pekerjaan, karena faktor risiko bisa sangat beragam.
“Jika ingin menilai dampak perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, MCU menjadi salah satu metode yang dapat melibatkan analisis lebih luas,” paparnya.
Lebih lanjut, Arief menyebutkan bahwa pemeriksaan kesehatan menyeluruh memungkinkan perusahaan mengambil langkah tepat waktu untuk mengurangi risiko penyakit kronis. Misalnya, dalam industri tambang, pemeriksaan rutin bisa mendeteksi gejala penyakit paru-paru akibat debu, sementara di industri migas, MCU bisa mengidentifikasi efek bahan kimia terhadap sistem kardiovaskular. “Program kesehatan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri akan lebih efektif dalam menjaga kesehatan pekerja,” katanya.
Keseimbangan Antara Stres dan Kesehatan
Arief juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara stres dan istirahat. “Stres adalah bagian dari kehidupan, tetapi jika tidak diatur, akan memicu berbagai masalah kesehatan. Pekerja kantor sering mengalami tekanan mental karena beban tugas yang berat, sementara pekerja di lapangan mungkin mengalami stres karena lingkungan kerja yang berisik atau kurangnya fasilitas pemulihan,” jelasnya. Ia menyarankan bahwa perusahaan perlu memberikan kebijakan yang mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan kesehatan, seperti jam istirahat yang cukup dan fasilitas olahraga.
Dalam konteks ini, MCU tidak hanya sekadar pengecekan rutin, tetapi juga alat untuk memantau pola hidup dan lingkungan kerja. “Dengan data yang diperoleh dari MCU, perusahaan bisa menyesuaikan program kesehatan mereka. Misalnya, di industri migas, kami memberikan penekanan pada pemeriksaan jantung dan paru-paru, sementara di sektor kantor, kami fokus pada kelelahan mata dan tekanan darah,” tutur Arief. Hal ini menunjukkan bahwa MCU adalah investasi yang cerdas untuk kesehatan jangka panjang.
Langkah Kecil, Dampak Besar
Arief menambahkan bahwa kebiasaan harian pekerja berperan besar dalam mencegah penyakit. “Meski kehidupan modern mengharuskan pekerja menyesuaikan diri dengan rutinitas sibuk, ada cara untuk mengurangi risiko. Misalnya, memastikan pencahayaan di ruang kerja yang cukup, serta mengatur jam tidur agar tidak terganggu,” paparnya. Ia juga menyebutkan
