Key Discussion: DEN tekankan energi nuklir dorong pembangunan berkelanjutan

DEN tekankan energi nuklir dorong pembangunan berkelanjutan

Peran Energi Nuklir dalam Pertumbuhan Ekonomi

Key Discussion – Dalam sebuah diskusi panel yang berlangsung di Jakarta, Sripeni Inten Cahyani, anggota Dewan Energi Nasional (DEN), menggarisbawahi peran energi nuklir sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan Indonesia di masa depan. Menurutnya, kebutuhan akan sumber energi baru, termasuk tenaga nuklir, semakin mendesak, mengingat banyak negara di dunia saat ini mengembangkan alternatif ini. Inten menyampaikan pandangan tersebut saat berbicara dalam acara bertajuk “Pemimpin Amerika dalam Strategi Energi Nuklir yang Bersih” yang diadakan di @america Jakarta, Selasa (tanggal tertentu).

Inten menegaskan bahwa pengembangan energi nuklir tidak hanya menjadi pilihan strategis, tetapi juga diperlukan untuk memenuhi target pembangunan nasional. “Jika hampir semua negara mulai mengarah pada penggunaan energi nuklir, maka tidak ada salahnya Indonesia ikut serta dalam perjalanan ini. Jika tidak, kita akan ketinggalan, dan saat ini kita membutuhkan pasokan listrik dengan kapasitas besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” jelasnya. Menurut Inten, energi nuklir menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi yang meningkat dan upaya pengurangan emisi karbon.

“Kalau tidak, ya, malah percuma dan saat ini kita membutuhkan listrik dengan kapasitas yang besar untuk menjadi pendorong ekonomi, pertumbuhan ekonomi itu; itu kata kuncinya sebenarnya,” kata Inten.

Kesadaran Masyarakat dan Tantangan Penyebaran

Menurut Sripeni Inten Cahyani, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap energi baru dan terbarukan, termasuk energi nuklir, masih tergolong rendah. Berdasarkan data yang dikumpulkan DEN, tingkat dukungan masyarakat terhadap penggunaan energi nuklir di Asia Tenggara hanya mencapai 39 persen. Angka ini menunjukkan bahwa masih ada banyak keraguan terkait manfaat dan keamanan teknologi nuklir.

Inten menilai kesadaran publik merupakan faktor krusial dalam mempercepat pengembangan industri energi nuklir di Indonesia. “Kita perlu membangun kesadaran bahwa energi nuklir bukanlah ancaman, melainkan solusi yang efisien untuk kebutuhan jangka panjang,” tambahnya. Untuk itu, dia mengusulkan bahwa generasi muda harus dijadikan pilar dalam memperkuat pemahaman masyarakat tentang pentingnya energi nuklir sebagai bagian dari kebijakan energi nasional.

“Young generation ini, dia bisa berpikir dengan jernih, bisa melihat bahwa sebenarnya ini kebutuhan dan ini masa depan, gitu , ya. Kebutuhan dan masa depan; dan kemudian mereka hanya perlu diminta untuk firm saja,” ucapnya.

Keamanan Teknologi Nuklir dan Implementasinya

Inten juga menyoroti penggunaan teknologi nuklir yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. “Banyak orang masih ragu tentang keamanan, tetapi kita sebenarnya sudah berinteraksi dengan teknologi nuklir melalui paparan radiasi dari rontgen atau penggunaan alat medis lainnya,” katanya. Inten menegaskan bahwa radiasi yang dikeluarkan dalam skala kecil tidak berbahaya, dan dengan sistem keselamatan yang terus berkembang, teknologi nuklir dapat dipercaya untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan.

Selain itu, Inten menambahkan bahwa penggunaan energi nuklir memiliki potensi besar dalam mengurangi ketergantungan pada sumber daya energi fosil, yang berdampak negatif pada lingkungan. “Teknologi ini telah diterapkan secara luas di berbagai negara, dan kita juga perlu memanfaatkannya untuk memperkuat kapasitas produksi listrik nasional,” ujarnya. Menurutnya, keberhasilan pengembangan energi nuklir akan bergantung pada kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.

Perkembangan Lokasi Potensial Pembangkit Listrik Nuklir

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah berhasil mengidentifikasi 28 lokasi potensial untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia. Dari jumlah tersebut, tiga lokasi telah melalui proses evaluasi lengkap, dengan satu di antaranya terletak di Jepara, Jawa Tengah, dan dua lokasi lain berada di wilayah Bangka Belitung. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kriteria seperti ketersediaan air, stabilitas geologis, dan aksesibilitas infrastruktur.

Inten menekankan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk menciptakan sistem energi yang lebih berkelanjutan. “Indonesia membutuhkan infrastruktur energi yang mampu memenuhi permintaan listrik di masa depan, dan PLTN menjadi salah satu pilihan yang layak,” katanya. Dengan kapasitas listrik yang besar, PLTN diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap kebutuhan energi nasional, terutama dalam menghadapi tantangan seperti kenaikan permintaan energi dan kekeringan di sejumlah daerah.

Mengenai tantangan masyarakat, Inten berharap pemerintah dapat meningkatkan transparansi dan komunikasi terkait manfaat serta risiko dari energi nuklir. “Kita perlu menjelaskan bahwa teknologi ini aman, teruji, dan bisa menjadi bagian dari solusi energi global,” ujarnya. Ia menilai bahwa dengan perubahan persepsi, masyarakat akan lebih terbuka dalam menerima energi nuklir sebagai pilihan utama untuk pembangunan berkelanjutan.

Dalam rangka mendorong penerimaan publik, DEN dan BRIN juga berencana mengadakan kampanye edukasi yang lebih luas. “Kampanye ini akan mencakup pelibatan masyarakat lokal, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan,” jelas Inten. Dengan demikian, Indonesia bisa mempercepat proses pengembangan PLTN dan menempatkan diri sebagai negara yang mampu memanfaatkan teknologi nuklir secara optimal.

Kehadiran energi nuklir di Indonesia juga diharapkan dapat mendorong inovasi dalam sektor energi. “Kita perlu membangun ekosistem yang mendukung penelitian dan pengembangan teknologi nuklir, sehingga bisa menghasilkan solusi yang sesuai dengan kondisi lokal,” tegas Inten. Menurutnya, hal ini penting karena setiap negara memiliki kebutuhan dan karakteristik yang berbeda, sehingga perlu disesuaikan dengan keadaan geografis dan sosial di Indonesia.

Dengan pengembangan PLTN, Indonesia juga bisa memperkuat posisinya dalam arena ekonomi global. “Kita perlu bersaing secara global,