Topics Covered: Anggota DPR sebut “Banyumas Ngibing” jadi penggerak wisata budaya

Anggota DPR Sebut ‘Banyumas Ngibing’ Jadi Penggerak Wisata Budaya

Topics Covered – Banyumas, Jawa Tengah, menjadi sorotan dalam upaya mempromosikan kebudayaan sebagai bagian dari sektor pariwisata. Anggota Komisi VII DPR RI, Siti Mukaromah, menilai kegiatan “Banyumas Ngibing 24 Jam Menari” dapat menjadi penggerak signifikan bagi pengembangan pariwisata budaya. Kegiatan ini diadakan di Pendopo Adipati Marapat, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, pada Sabtu, dan menjadi momentum untuk menegaskan peran budaya dalam membangun identitas lokal serta meningkatkan daya tarik wisatawan.

Dalam sambutannya, Siti menggarisbawahi pentingnya budaya dalam menjaga keunikan daerah. Menurutnya, seni tradisi bukan hanya simbol kebanggaan, tetapi juga elemen kunci dalam ekosistem pariwisata nasional. “Budaya adalah warisan yang mampu mengikat generasi masa kini dengan nilai-nilai masa lalu, sekaligus memperkaya pengalaman wisata yang dihadirkan kepada pengunjung,” jelas Siti. Ia menambahkan, kegiatan yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional ini memberikan peluang untuk menginspirasi pemuda dalam menanamkan rasa cinta budaya dan kreativitas seni.

“Kami berharap, ‘Banyumas Ngibing’ menjadi wadah bagi pengembangan seni yang bisa diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia. Jika tidak kita, siapa lagi yang akan menghidupkan budaya lokal ini?” kata Siti, yang akrab disapa Mbak Erma.

Kegiatan yang memasuki tahun kedua ini menunjukkan komitmen kuat para pelaku seni, budayawan, dan masyarakat dalam merawat tradisi. Siti menyebutkan, inisiatif seperti ini membuktikan bahwa seni tradisi tidak hanya bisa lestari, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari atraksi wisata yang diminati. Ia juga menyoroti peran Rianto, maestro tari asal Banyumas, sebagai penggagas acara yang diharapkan mampu memperkuat jaringan ekspresi seni lintas daerah.

Keterlibatan generasi muda dalam “Banyumas Ngibing” menjadi poin penting. Siti mengungkapkan, para peserta yang menari secara bergantian selama 24 jam tanpa henti menunjukkan semangat pewarisan budaya yang berkelanjutan. “Ini bukan hanya perayaan, tetapi juga pembuktian bahwa seni tradisi bisa diakses dan dinikmati oleh generasi muda dengan cara yang modern,” ujarnya. Menurutnya, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana budaya lokal dapat diterjemahkan menjadi atraksi nasional bahkan internasional.

Keterkaitan Budaya dan Pariwisata

Budaya dan pariwisata memiliki hubungan yang saling mendukung, terutama setelah adanya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2025 tentang Kepariwisataan. Dalam pernyataannya, Siti menegaskan bahwa undang-undang ini mengakui budaya sebagai elemen vital dalam kepariwisataan. “Dengan kebijakan ini, kita diberi ruang untuk mengintegrasikan seni tradisi dalam strategi promosi pariwisata,” tambahnya.

Kegiatan “Banyumas Ngibing” menurut Siti, menjadi contoh nyata bagaimana budaya dapat dikembangkan secara sistematis. “Kegiatan ini menunjukkan keterpaduan antara pelestarian tradisi dan inovasi, sehingga memperkaya ekosistem pariwisata yang ada,” kata anggota DPR itu. Ia juga berharap kegiatan ini mampu menciptakan daya tarik ekonomi lokal, terutama melalui akses wisatawan yang tertarik pada pertunjukan seni tradisional.

“Kami sepenuhnya memberi apresiasi tinggi kepada Mas Rianto sebagai pelaku utama acara ini. Keterlibatan masyarakat lokal dalam mengadakan kegiatan semacam ini sangat berarti, karena mereka adalah yang paling memahami nilai-nilai tradisi,” tutur I Made Dharma Suteja, Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan.

I Made Dharma Suteja menyoroti berbagai aspek yang ditampilkan dalam “Banyumas Ngibing.” Menurutnya, kegiatan ini menyatukan upaya pelestarian, pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, serta pembinaan budaya sebagai fondasi untuk mempertahankan tradisi. “Ini merupakan langkah penting dalam menjaga keberlanjutan seni tradisional, terlepas dari tantangan modernisasi,” kata dia.

Kegiatan yang diikuti oleh penari dari Banyumas maupun daerah lain, menurut I Made, mencerminkan kerja sama lintas wilayah dalam meramaikan budaya Nusantara. “Dengan melibatkan banyak pihak, acara ini menjadi bentuk ekspresi kolektif yang menginspirasi penari dari segala latar belakang,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi partisipasi penari asing yang berpartisipasi, sehingga memberikan perspektif global pada seni Banyumas.

Dalam pandangannya, “Banyumas Ngibing” memiliki potensi untuk berkembang menjadi agenda budaya yang berskala nasional dan internasional. “Kegiatan ini bisa menjadi model bagaimana budaya lokal dapat ditingkatkan menjadi daya tarik utama, terutama bagi wisatawan yang menginginkan pengalaman budaya yang autentik,” jelas I Made. Ia menekankan bahwa pengelolaan budaya yang baik akan menciptakan nilai ekonomi dan sosial yang signifikan.

Kompetisi tari selama 24 jam tanpa henti, menurut Siti, merupakan bentuk keberanian dan semangat generasi muda dalam mempertahankan tradisi. “Ini juga menunjukkan bagaimana seni bisa menjadi alat komunikasi yang memperkuat rasa kebangsaan,” ujarnya. Dengan momentum Hari Pendidikan Nasional, Siti berharap kegiatan ini bisa menjadi sarana pendidikan melalui praktik langsung, sehingga memperkaya pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai kebudayaan.

Sebagai penggerak pariwisata budaya, “Banyumas Ngibing” diharapkan mampu menciptakan jaringan kerja sama antar daerah, sekaligus memperkenalkan seni Banyumas ke berbagai kalangan. “Kita perlu membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan, dan budaya adalah salah satu fondasi utamanya,” kata Siti. Ia menilai kegiatan ini bisa menjadi trigger bagi pertumbuhan industri kreatif di Banyumas, terutama di bidang seni tari dan budaya tradisional.

Dengan adanya partisipasi penari dari berbagai daerah dan luar negeri, kegiatan ini dianggap sebagai wujud kolaborasi yang kuat. “Ini membuktikan bahwa budaya Banyumas tidak hanya diminati dalam lingkup lokal, tetapi juga mampu menjangkau audiens yang lebih luas,” ujar I Made. Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan budaya sebagai alat promosi, agar wisatawan tidak hanya menikmati keindahan fisik suatu tempat, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung dalam seni tradisional.

Dalam rangka menjaga keberlangsungan seni tradisi, “Banyumas Ngibing” dianggap sebagai contoh yang sukses. Siti berharap kegiatan ini terus berkembang menjadi momentum rutin, terutama untuk mengangkat seni Banyumas sebagai bagian dari identitas Jawa Tengah. “Kami menantikan langkah lebih besar dari para pelaku seni dan pemerintah daerah untuk memperkuat pengaruh acara ini,” tutupnya.