Solution For: 5 produsen mobil China diprediksi raih pendapatan hingga kuadriliunan

Prediksi Pendapatan Produsen Mobil Tiongkok dan Perkembangan Industri Otomotif

Solution For – Dari Jakarta, CEO Xpeng, He Xiaopeng, mengungkapkan bahwa lima perusahaan otomotif Tiongkok diperkirakan akan mencapai pendapatan hingga triliunan yuan dalam beberapa tahun ke depan. Dia menyoroti bahwa tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan-perusahaan tersebut bisa mencapai ratusan miliar yuan. Dalam diskusi tentang inovasi di sektor industri, He Xiaopeng menyebutkan contoh Beijing Auto Show 2026 sebagai acuan penting. Menurut data kurs saat ini, 1 triliun yuan setara dengan sekitar 2,5 kuadriliun rupiah.

Kinerja Perusahaan Otomotif Tiongkok di Pasar Global

Menurut laporan Carnewschina yang diterbitkan Senin (4/4) waktu setempat, untuk mencapai pendapatan sebesar itu, produsen mobil perlu menjual lebih dari 7 juta unit kendaraan per tahun. Jumlah tersebut bisa bervariasi tergantung pada rata-rata harga mobil yang dijual. Saat ini, hanya lima produsen otomotif global yang memiliki tingkat pendapatan serupa, yaitu Toyota, Volkswagen Group, Hyundai Motor Group, Stellantis, dan General Motors. He Xiaopeng tidak merinci nama kelima perusahaan Tiongkok yang dimaksud, tetapi data tahun lalu menunjukkan bahwa BYD menjadi perusahaan dengan pendapatan tertinggi, mencapai 803,9 miliar yuan (sekitar 2 kuadriliun rupiah).

Lima perusahaan teratas tersebut juga mencakup SAIC Motor dengan pendapatan 646,1 miliar yuan (Rp1,6 kuadriliun), Geely sebesar 345,2 miliar yuan (Rp878 triliun), Chery 300,2 miliar yuan (Rp763,5 triliun), dan Great Wall Motors (GWM) sekitar 222,8 miliar yuan (Rp566,5 triliun). Hal ini menunjukkan dominasi produsen Tiongkok dalam pasar otomotif global, terutama dalam sektor kendaraan listrik baru (NEV).

Perdebatan tentang Teknologi EREV dan BEV

He Xiaopeng juga menyoroti masalah “involusi” yang dihadapi industri otomotif di Tiongkok. Menurutnya, sektor ini akan mencapai tahap perkembangan yang sehat ketika tidak lagi terjadi sekitar 150 peluncuran mobil baru secara bersamaan dalam satu acara seperti Beijing Auto Show. Dalam kondisi seperti itu, Xpeng, Nio, dan Li Auto diperkirakan bisa mencapai keuntungan tahunan lebih dari 50 miliar yuan (Rp127,15 triliun).

Dalam pandangan He Xiaopeng, mobil dengan teknologi EREV—yang merupakan kendaraan listrik yang didorong sepenuhnya oleh motor listrik, tetapi dilengkapi mesin bensin kecil sebagai generator—merupakan tahap peralihan yang penting. Ini disebabkan oleh ketimpangan distribusi energi dan kebutuhan pasar global. Sementara itu, William Li, pendiri Nio, memiliki pendapat berbeda. Dia menekankan bahwa perusahaan hanya fokus pada BEV (kendaraan listrik murni), dengan perspektif tujuan akhir sebagai panduan utama.

“Nio hanya mengembangkan BEV karena kami melihatnya sebagai solusi jangka panjang. Teknologi EREV adalah langkah transisi, tetapi kami berkomitmen untuk mencapai kendaraan listrik penuh,” kata William Li.

Kinerja Xpeng di Tengah Tantangan Subsidi Pemerintah

Menurut data terkini dari China EV DataTracker, Xpeng mencatat penjualan 94.693 kendaraan NEV secara global dari Januari hingga April 2026, mengalami penurunan 27,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini, kata He Xiaopeng, berdampak pada pasar mobil domestik Tiongkok yang sedang mengalami krisis jangka pendek. Krisis tersebut dipicu oleh penghapusan bertahap subsidi pemerintah untuk sektor NEV.

Sebelumnya, Xpeng mengungkapkan target penjualan hingga 600.000 unit kendaraan tahun ini. Perusahaan berencana meluncurkan SUV full-size Xpeng GX untuk memacu penjualan. Meski menghadapi tantangan, Xpeng tetap optimis bahwa inovasi teknologi dan strategi pemasaran akan membantu merealisasikan target tersebut. Di sisi lain, CEO Xpeng menyatakan bahwa perusahaan akan terus beradaptasi dengan perubahan pasar dan kebijakan regulasi.

“Kami mengakui perubahan besar yang dilakukan Nio tahun lalu. Perusahaan besar seperti itu mampu bertransformasi dengan cepat, dan kami melihatnya sebagai contoh yang baik untuk industri otomotif,” ujar He Xiaopeng.

Pengaruh Subsidi Pemerintah terhadap Pertumbuhan Industri

Subsidi pemerintah yang diberikan secara bertahap menjadi faktor kunci dalam pertumbuhan industri otomotif Tiongkok. Di sisi lain, kebijakan ini juga berdampak pada kestabilan pasar. Dengan penghapusan subsidi, produsen mobil harus meningkatkan efisiensi operasional dan berfokus pada inovasi teknologi untuk tetap bersaing. Dalam konteks ini, Xpeng dan perusahaan lain menghadapi tantangan tetapi tetap berupaya memperkuat posisi mereka.

He Xiaopeng menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan Tiongkok perlu mengambil langkah strategis untuk mengatasi persaingan global. Ini termasuk pengembangan produk yang lebih beragam, pemanfaatan teknologi EREV sebagai alat transisi, serta meningkatkan kualitas layanan pelanggan. Meski demikian, ada perbedaan pandangan antara perusahaan-perusahaan dalam memilih jalan yang paling efektif.

Perkembangan Teknologi dan Strategi Pemasaran di Tiongkok

Pasar otomotif Tiongkok terus berkembang, dengan teknologi kendaraan listrik menjadi pusat perhatian. Perusahaan-perusahaan seperti BYD, SAIC, dan Geely telah membuktikan kekuatan mereka dalam menjual kendaraan berbasis listrik. Namun, keberhasilan ini tidak lepas dari peran subsidi pemerintah yang sebelumnya memicu peningkatan produksi dan penjualan.

Di sisi lain, perusahaan seperti Nio dan Xpeng menyoroti pentingnya ekosistem teknologi dan inovasi. He Xiaopeng mengatakan bahwa Beijing Auto Show 2026 menjadi bukti bahwa industri ini sedang berkembang pesat. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kelebihan peluncuran mobil baru dalam satu acara dapat mengganggu kualitas produk dan kepercayaan konsumen. “Kita perlu mengurangi jumlah peluncuran secara bertahap agar industri bisa berkembang secara stabil,” tambahnya.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa Tiongkok tidak hanya menjadi pelaku pasar global tetapi juga inovator dalam se