Special Plan: China akan terapkan tarif dagang nol persen bagi 53 negara Afrika
China Akan Terapkan Kebijakan Tarif Nol Persen bagi 53 Negara Afrika
Peluncuran Kebijakan Tarif Periode 2026-2028
Special Plan – Dalam pengumuman resmi yang dilakukan Beijing, Tiongkok mengumumkan kebijakan tarif nol persen (zero-tariff) yang akan berlaku untuk 53 negara Afrika, mulai 1 Mei 2026 hingga 30 April 2028. Kebijakan ini dirancang untuk meningkatkan akses perdagangan antara kedua belah pihak dan menunjukkan komitmen Tiongkok dalam memperkuat hubungan bilateral. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menjelaskan bahwa kebijakan ini diterima dengan baik oleh Afrika dan menjadi bagian dari upaya Tiongkok untuk memperluas kebijakan bebas tarif secara unilateral.
“China mencatat antusiasme yang tulus dan respons positif dari negara-negara Afrika terkait kebijakan tarif nol persen ini. Ini adalah langkah strategis yang menggambarkan kemauan Tiongkok untuk mendorong liberalisasi perdagangan dengan standar tinggi,” ujar Lin Jian dalam konferensi pers yang diadakan Rabu (29/4).
Dalam konteks ini, Tiongkok menegaskan bahwa kebijakan tersebut akan menciptakan peluang baru bagi ekspor produk Afrika ke China. Lin Jian menekankan bahwa kebijakan ini tidak hanya merupakan inisiatif ekonomi tetapi juga simbol dari kerja sama yang lebih dalam antara kedua belah pihak.
Pengembangan dari Kebijakan Awal
Kebijakan tarif nol persen ini dikembangkan dari kebijakan sebelumnya yang hanya berlaku untuk 33 negara Afrika yang termasuk dalam Kelompok Negara-Negara Kurang Berkembang (LDC). Pengembangan tersebut dipicu oleh pidato Presiden Xi Jinping pada 5 September 2024 di Beijing, dalam Konferensi Tingkat Tinggi Forum Kerja Sama China-Afrika (FOCAC). Kebijakan ini menjadi langkah penting dalam upaya Tiongkok untuk memperluas keterbukaan perdagangan secara bertahap.
“Kebijakan ini menunjukkan kemauan China untuk memikul tanggung jawab internasional lebih besar dan meningkatkan kebijakan bebas tarif yang berstandar tinggi,” tambah Lin Jian.
Menurut Lin Jian, kebijakan tersebut juga bertujuan membangun komunitas China-Afrika yang kuat secara ekonomi. Ia mengatakan bahwa kebijakan ini merupakan peristiwa penting yang menandai era baru dalam hubungan antara kedua negara, terutama di tengah meningkatnya tindakan proteksionis dan kebijakan satu pihak di dunia internasional.
Peluang Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan
Lin Jian menjelaskan bahwa kebijakan tarif nol persen akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Tiongkok dan Afrika. “Ini akan memungkinkan lebih banyak produk berkualitas dan unik dari Afrika menjangkau rumah tangga di China, sehingga meningkatkan kesejahteraan bersama,” tuturnya. Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan membantu perusahaan-perusahaan Tiongkok menjelajahi pasar Afrika, menciptakan peluang investasi, dan meningkatkan kapasitas industri di wilayah tersebut.
“Kebijakan ini akan memperkuat kerja sama perdagangan, industri, dan investasi antara China dan Afrika. Kami berharap ini menjadi lingkungan yang kondusif untuk mendorong liberalisasi dan fasilitasi perdagangan global,” ungkap Lin Jian.
Lin Jian juga menyebutkan bahwa Tiongkok akan terus menandatangani perjanjian kemitraan ekonomi bersama negara-negara Afrika. Selain itu, pihaknya berencana meningkatkan “jalur hijau” untuk impor produk pertanian dan pangan Afrika ke China, guna memudahkan alur perdagangan bilateral.
Dukungan Finansial yang Signifikan
Dalam periode dua tahun kebijakan tarif nol persen, Tiongkok juga memberikan dukungan finansial yang besar kepada negara-negara Afrika. Diketahui bahwa hingga 2027, Tiongkok akan menyediakan dana sebesar 360 miliar RMB (sekitar Rp780 triliun) dalam bentuk pinjaman, bantuan, dan investasi. Dengan rincian, 210 miliar RMB (sekitar Rp456 triliun) berupa pinjaman, 80 miliar RMB (sekitar Rp173 triliun) dalam bentuk bantuan, serta minimal 70 miliar RMB (sekitar Rp152 triliun) sebagai investasi dari perusahaan-perusahaan Tiongkok.
“Kami siap bekerja sama dengan Afrika untuk memperkaya kebijakan tarif nol persen dan mengubahnya menjadi motor penggerak kerja sama ekonomi yang berkualitas tinggi. Ini juga akan menjadi sumber dorongan solidaritas dan kolaborasi di kawasan Selatan Global,” kata Lin Jian.
Lin Jian menambahkan bahwa kebijakan ini akan membuka akses pasar yang lebih luas bagi ekspor Afrika ke Tiongkok. Ia juga menyebut bahwa kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya jangka panjang Tiongkok untuk meningkatkan kesejahteraan bersama dengan negara-negara Afrika, serta memperkuat perdagangan bilateral dalam era yang penuh tantangan.
Konteks Diplomasi dan Kebijakan Internasional
Dalam konteks hubungan diplomatik, Tiongkok memiliki hubungan dengan seluruh negara di Benua Afrika, kecuali Eswatini yang lebih mengakui Taiwan sebagai satu-satunya negara Afrika yang tidak terlibat dalam kebijakan ini. Pengumuman resmi menyebutkan bahwa kebijakan zero-tariff hanya berlaku untuk produk yang berada dalam kuota tarif. Tarif “in-quota” akan diturunkan ke nol persen, sementara produk “out-of-quota” tetap dipertahankan.
Lin Jian menjelaskan bahwa kebijakan tarif nol persen ini diharapkan meningkatkan alur perdagangan antar Asia dan Afrika. Dengan pengurangan tarif, produk Afrika akan lebih kompetitif di pasar Tiongkok, yang merupakan pasar besar dengan konsumsi yang tinggi. Ini diharapkan mendorong ekspor Afrika ke Tiongkok dan menciptakan keseimbangan dalam perdagangan bilateral.
Kebijakan ini juga bertujuan memperkuat kerja sama antar sektor, seperti industri, investasi, dan pengembangan infrastruktur. Lin Jian menyebut bahwa Tiongkok akan terus mengejar pendekatan kerja sama yang saling menguntungkan, dengan kebijakan tarif nol persen sebagai bentuk komitmen terhadap ekonomi inklusif dan kolaborasi global.
Di tengah dampak dari ketegangan di Timur Tengah dan meningkatnya kebijakan proteksionis, Lin Jian menegaskan bahwa Tiongkok bersedia membagi peluang dan mengembangkan hubungan yang lebih kuat dengan Afrika. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini akan menjadi batu loncat dalam membangun komunitas ekonomi yang lebih kuat dan berkelanj
