Aceh punya potensi kuat hadirkan wisata sejarah dan edukasi bencana
Daftar Isi
Aceh Dorong Wisata Sejarah dan Edukasi Bencana yang Berkelanjutan
Programamal.com – Aceh dinilai memiliki modal besar untuk mengembangkan pariwisata yang bukan sekadar menawarkan pemandangan, melainkan juga pengalaman belajar tentang sejarah, budaya, serta kesiapsiagaan menghadapi bencana. Potensi tersebut terlihat dari keterlibatan warga di desa wisata hingga keberadaan sejumlah ruang memorial tsunami di Banda Aceh.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa meninjau sejumlah destinasi di Aceh Besar dan Banda Aceh pada Minggu (13/9). Agenda itu mencakup kunjungan ke Desa Wisata Nusa atau Gampong Nusa di Kabupaten Aceh Besar, Museum Kapal PLTD Apung, serta Museum Tsunami Aceh.
“Saya melihat pariwisata Aceh memiliki kekuatan yang sangat besar. Dengan semangat kolaborasi bersama berbagai pihak, kita berharap dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, mengembangkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, sekaligus menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat,” kata Ni Luh.
Gampong Nusa dan keterlibatan masyarakat
Gampong Nusa berada di lingkungan perbukitan dan persawahan yang menjadi bagian dari daya tarik alamnya. Desa ini pernah masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia atau ADWI pada 2021. Pengembangan kunjungannya bertumpu pada pengalaman yang melibatkan penduduk setempat secara langsung.
Wisatawan dapat mengenal kuliner tradisional, kerajinan, pertunjukan seni budaya, hingga pilihan homestay. Pola tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk menjadi pelaku utama dalam aktivitas pariwisata, sambil mempertahankan ciri budaya yang melekat pada desa.
Dalam kunjungan tersebut, Ni Luh juga menyaksikan pengolahan Sie Itek, hidangan bebek kari khas Aceh. Masakan ini menggunakan beragam rempah dan dimasak dengan cara tradisional memakai beulangong, yakni kuali tanah liat. Pengalaman kuliner seperti ini memperlihatkan bahwa tradisi pangan dapat menjadi bagian penting dari atraksi wisata, bukan hanya pelengkap perjalanan.
Pengembangan potensi lokal yang dikerjakan bersama warga dipandang penting untuk membangun destinasi berkualitas. Selain dapat mendukung perekonomian masyarakat, pendekatan tersebut membantu menjaga nilai budaya dan kearifan yang menjadi identitas daerah.
Memahami tsunami melalui ruang memorial
Dimensi lain dari pariwisata Aceh hadir melalui destinasi yang mengingatkan pengunjung pada tsunami 2004, salah satu bencana terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Museum Kapal PLTD Apung menjadi salah satu penanda peristiwa tersebut sekaligus gambaran tentang kekuatan masyarakat Aceh untuk bangkit.
Sebelum tsunami, kapal PLTD Apung berada di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Gelombang setinggi sekitar sembilan meter menyeret kapal sepanjang 63 meter dengan bobot sekitar 2.600 ton itu hingga kurang lebih lima kilometer ke daratan. Kapal tersebut kini berada di tengah kawasan permukiman dan telah dikembangkan sebagai museum serta sarana pembelajaran mengenai tsunami.
Keberadaan kapal di lokasi akhirnya memberi gambaran nyata mengenai dahsyatnya gelombang saat itu. Bagi pengunjung, pengalaman melihat objek tersebut dapat memperkuat pemahaman bahwa mitigasi bencana perlu menjadi bagian dari kesadaran sehari-hari, terutama di kawasan yang memiliki kerentanan terhadap bencana alam.
Museum Tsunami Aceh juga menghadirkan pembelajaran dengan pendekatan yang reflektif. Sejumlah ruang dirancang agar pengunjung dapat mengenal peristiwa tsunami melalui pengalaman visual, emosional, dan informasi ilmiah. Salah satunya ialah lorong tsunami yang menggambarkan suasana ketika gelombang datang.
Di museum itu terdapat sumur doa dengan sekitar 3.600 nama korban pada dindingnya. Cahaya dari bagian atas ruangan menjadi simbol hubungan spiritual serta doa kepada Tuhan. Unsur memorial ini menempatkan museum bukan hanya sebagai tempat penyimpanan informasi, tetapi juga ruang untuk mengenang mereka yang terdampak.
Pengunjung juga dapat menemukan Jembatan Perdamaian yang dihiasi bendera dari berbagai negara pemberi bantuan bagi Aceh setelah tsunami. Ruang tersebut melambangkan solidaritas, perdamaian, serta proses kebangkitan. Selain itu, ruang kenangan menyimpan dokumentasi foto, sementara monitor interaktif menyajikan penjelasan ilmiah tentang tsunami.
“Wisata berbasis edukasi di Museum Kapal PLTD Apung dan Museum Tsunami Aceh ini begitu penting sebagai ruang untuk melakukan kontemplasi sekaligus membangun pemahaman pengunjung mengenai peristiwa bencana alam dan langkah-langkah mitigasinya,” kata Ni Luh.
Destinasi yang memberi makna
Pengembangan wisata sejarah dan edukasi bencana memberi Aceh peluang untuk menghadirkan perjalanan yang lebih bermakna. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat tempat, tetapi juga diajak memahami pengalaman masyarakat, nilai solidaritas, dan perjalanan pemulihan setelah bencana.
Ni Luh menekankan bahwa destinasi perlu berfungsi sebagai ruang belajar mengenai kebencanaan, ketangguhan warga, solidaritas, dan kebangkitan Aceh. Dengan demikian, wisata dapat mempertemukan kepentingan ekonomi, pelestarian budaya, serta penyebaran pengetahuan mitigasi bencana.
Kementerian Pariwisata akan melanjutkan dukungan bagi pengembangan pariwisata Aceh melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, pengelola destinasi, masyarakat, dan pemangku kepentingan lain. Kerja sama tersebut diharapkan memperkuat pariwisata yang berkelanjutan sekaligus memberi manfaat yang nyata bagi warga setempat.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Aceh punya potensi kuat hadirkan wisata?
Aceh punya potensi kuat hadirkan wisata is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Aceh punya potensi kuat hadirkan wisata matter?
Aceh punya potensi kuat hadirkan wisata matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.