New Policy: ANTARA gelar pameran foto “Perisai Tunas” dukung sosialisasi PP Tunas
ANTARA Gelar Pameran Foto “Perisai Tunas” untuk Dukung Sosialisasi PP Tunas
New Policy – Jakarta – Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA resmi meluncurkan pameran fotografi jurnalistik bertajuk “Perisai Tunas” di ANTARA Heritage Center (AHC), Pasar Baru, Jakarta Pusat, pada 25 Juni hingga 10 Juli 2026. Acara ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melindungi anak-anak dari dampak negatif ruang digital, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 yang mengatur tata kelola sistem elektronik dalam perlindungan anak (PP Tunas).
Komitmen ANTARA dalam Membangun Generasi Emas
Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Beni Siga Butarbutar, menjelaskan bahwa pameran ini merupakan langkah strategis dalam menyebarkan kebijakan PP Tunas ke berbagai lapisan masyarakat. Menurutnya, media memiliki peran penting dalam memperkuat upaya pemerintah melalui konten visual yang dapat membangun kesadaran kolektif. “Pameran ini menggambarkan bagaimana fotografi bisa menjadi alat komunikasi yang efektif, membantu negara menyebarluaskan program perlindungan anak di era digital,” ujarnya saat membuka acara tersebut di Jakarta Pusat, Kamis.
Tema yang Mewakili Harapan Bangsa
Tema “Perisai Tunas” dipilih untuk menyoroti peran generasi muda sebagai tunas bangsa yang perlu dilindungi dan dibina. Dalam konteks perkembangan teknologi digital yang pesat, Beni menekankan bahwa pameran ini menggambarkan bagaimana anak-anak dapat diberdayakan melalui pendidikan, kreativitas, solidaritas, serta nilai-nilai kemanusiaan. “Fotografi ini memperlihatkan upaya konkret untuk melindungi anak dalam ruang digital, sekaligus menegaskan bahwa mereka adalah masa depan bangsa yang perlu diperkuat,” tambahnya.
Karya Foto yang Menjelajahi Realitas Digital
Pameran ini menampilkan 45 karya foto tunggal dan tiga karya foto cerita yang dikumpulkan dari pewarta fotografi ANTARA. Karya-karya tersebut mengungkapkan berbagai aspek kehidupan, termasuk realitas sosial masyarakat, aktivitas edukatif, ketahanan generasi muda, serta semangat gotong royong dalam menghadapi tantangan teknologi. Salah satu fokus utama adalah bagaimana anak-anak memanfaatkan media digital secara produktif, sekaligus menyoroti kelemahan yang mungkin timbul dari penggunaan teknologi yang tidak terarah.
Sosialisasi yang Lebih Masif dan Berkelanjutan
Beni menyatakan pameran ini menjadi awal dari rangkaian sosialisasi yang lebih luas mengenai PP Tunas. “Kami berencana mengembangkan berbagai produk jurnalistik lainnya, seperti artikel, infografis, dan video, untuk memperkuat penerapan regulasi ini,” katanya. Ia menilai, perluasan informasi tentang perlindungan anak di ruang digital sangat penting untuk menciptakan generasi yang sehat secara mental dan kognitif. “Anak-anak yang kuat di masa kini akan menjadi fondasi pembangunan bangsa di masa depan,” tambahnya.
Peran Media dalam Memberdayakan Generasi Muda
Menurut Beni, pameran foto “Perisai Tunas” tidak hanya sekadar penampilan karya, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa media dapat menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menjaga kesejahteraan anak. “ANTARA berkomitmen untuk terus menghadirkan konten yang relevan dan inspiratif, baik di dalam maupun luar negeri, guna mendorong peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya regulasi ini,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa penggunaan teknologi digital saat ini harus disertai dengan pendidikan dan pengawasan yang ketat untuk meminimalkan risiko negatif.
Pameran ini juga diharapkan mampu memberikan gambaran nyata tentang bagaimana teknologi bisa menjadi alat pendidikan dan penguatan nilai-nilai sosial. Contohnya, foto-foto yang menampilkan anak-anak mengikuti pelatihan digital, berpartisipasi dalam kegiatan kreatif, atau memanfaatkan media sosial untuk memperkuat komunitas lokal. Dengan menampilkan karya-karya tersebut, ANTARA ingin mengajak publik untuk melihat sisi positif dan potensi yang ada dalam ruang digital.
Kebutuhan yang Tidak Pernah Berhenti
Beni menyoroti bahwa tuntutan perlindungan anak di era digital adalah sesuatu yang tidak bisa dipenuhi dalam satu hari. “Kami akan terus mengembangkan berbagai bentuk pemberitaan agar informasi tentang PP Tunas dapat mencapai seluruh lapisan masyarakat, terutama yang paling rentan terhadap dampak teknologi,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga media dan pihak terkait, seperti pemerintah, organisasi masyarakat, serta pendidik, untuk memastikan keberlanjutan program ini.
Dalam perjalanan sosialisasi, pameran foto “Perisai Tunas” diharapkan menjadi titik awal yang memicu diskusi lebih dalam mengenai peran teknologi dalam pendidikan anak. Beni menjelaskan bahwa kebijakan PP Tunas tidak hanya berupa aturan, tetapi juga konsep yang perlu diterapkan secara nyata di setiap aspek kehidupan sehari-hari. “Fotografi ini menjadi jembatan antara teori dan praktik, membantu masyarakat memahami bagaimana PP Tunas bisa diimplementasikan di lingkungan sekitar,” tuturnya.
Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Menurut Beni, pameran ini juga merupakan bentuk penghargaan terhadap karya-karya pewarta foto ANTARA yang berhasil menggambarkan peran anak-anak dalam ruang digital. “Karya-karya ini tidak hanya menarik, tetapi juga menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya perlindungan dan pemberdayaan anak-anak,” katanya. Ia berharap, melalui pameran ini, masyarakat dapat lebih menghargai upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan media untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.
Pameran “Perisai Tunas” diharapkan menjadi pengingat bahwa teknologi digital, meskipun memberikan manfaat besar, juga memerlukan pengawasan yang cermat. Dengan menampilkan berbagai realitas yang ada, ANTARA ingin memicu kesadaran kolektif dan mendorong partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat dalam membangun sistem perlindungan anak yang lebih baik. “Kami percaya bahwa media bisa menjadi mitra yang kuat dalam mendorong perubahan sosial, termasuk dalam hal melindungi generasi muda,” tutur Beni.
Kelanjutan dan Upaya Terus-Menerus
Beni menambahkan bahwa keberhasilan sosialisasi PP Tunas bergantung pada keterlibatan semua pihak. “ANTARA akan terus mengeluarkan informasi yang jelas dan akurat tentang perlindungan anak di ruang digital, baik melalui media cetak maupun digital,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa pameran ini merupakan bagian dari inisiatif lebih luas yang bertujuan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan teknologi sejak dini.
Dengan menggabungkan kekuatan fotografi dan jurnalistik, ANTARA mencoba memperkuat pesan sosialisasi PP Tunas. “Konten visual memiliki kekuatan komunikasi yang lebih langsung dan mudah dipahami, terutama oleh kalangan yang kurang familiar dengan regulasi ini,” jelas Beni. Ia berharap, melalui pameran ini, masyarakat bisa mengambil langkah konkret dalam melindungi anak-anak dari ancaman ruang digital, sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif.
Kehadiran pameran foto “
