What Happened During: Tren wisata dalam kota akan berkembang seiring aksesibilitas
Tren Wisata Dalam Kota Menjadi Semakin Menarik
Kemudahan Aksesibilitas Mendorong Pertumbuhan Industri Wisata Kota
What Happened During – Jakarta, sebuah kota metropolitan yang terus berkembang, menjadi salah satu contoh nyata bagaimana aksesibilitas memengaruhi tren wisata dalam kota. Abimantra Pradhana, pendiri platform SANA Kenal Kota yang bergerak di bidang eksplorasi urban, mengungkapkan bahwa minat masyarakat terhadap kunjungan ke destinasi lokal akan terus meningkat seiring kemudahan dalam mencapai berbagai titik tujuan. “Aksesibilitas menunjukkan sejauh mana masyarakat mampu bergerak dengan mudah di kota, baik melalui transportasi umum maupun jalan kaki,” jelasnya, setelah menghadiri acara “Gojek Jalan Jajan” di Jakarta, Kamis lalu.
Dalam wawancara tersebut, Abimantra menyoroti perubahan signifikan dalam sistem transportasi kota Jakarta dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya, pengembangan kereta MRT (Moda Raya Terpadu) yang sebelumnya belum ada, kini menjadi salah satu sarana utama dalam menghubungkan wilayah-wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau. Selain itu, perluasannya jaringan Transjakarta juga mempermudah mobilitas pengunjung ke berbagai tempat, termasuk daerah-daerah yang sebelumnya dianggap terpencil. “Kini, kita sedang melihat pembangunan MRT yang akan mencapai Kota Tua dalam tiga tahun ke depan. Bayangkan, nanti kita bisa sampai ke Glodok hanya dengan satu kali naik MRT. Ini adalah kemudahan yang belum kita alami sebelumnya,” tambahnya.
“Kemudahan aksesibilitas bukan hanya tentang kecepatan, tetapi juga tentang kenyamanan dan keberlanjutan. Dengan transportasi yang lebih terjangkau, kota menjadi lebih hidup dan menarik untuk dikunjungi,” kata Abimantra.
Dari sisi ekonomi, Abimantra mengungkapkan bahwa pengembangan aksesibilitas membuka peluang baru bagi pelaku usaha, terutama generasi muda yang lebih kreatif dan inovatif. “Banyak pengusaha mulai bermunculan di sekitar stasiun MRT atau tempat-tempat strategis lainnya, memanfaatkan kesempatan ini untuk menawarkan layanan yang lebih lengkap. Mereka menargetkan wisatawan yang ingin menghabiskan waktu di kota dengan aktivitas yang beragam,” imbuhnya. Hal ini juga berdampak pada pemerataan ekonomi, karena daerah yang sebelumnya terisolasi kini bisa lebih mudah dikembangkan sebagai pusat wisata.
Dalam konteks kebudayaan, Abimantra menekankan bahwa wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, semakin tertarik pada pengalaman yang bisa dinikmati bersama. “Mereka mencari sesuatu yang menyenangkan untuk dibagikan, seperti kuliner khas, budaya unik, atau produk kreatif. Kota yang memiliki keragaman sejarah, seni, musik, dan tradisi menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin merasakan kehidupan kota secara lebih mendalam,” jelasnya. Tren ini juga berdampak pada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap keunikan wilayah mereka sendiri.
“Kita bisa melihat peningkatan minat terhadap wisata sports tourism, di mana orang berlibur ke kota bukan hanya untuk belanja, tetapi untuk mengikuti acara olahraga seperti lomba maraton. Ini membuka peluang baru untuk mengembangkan jenis wisata yang lebih sehat dan dinamis,” tambah Abimantra.
Menurutnya, aksesibilitas yang memadai bukan hanya meningkatkan jumlah pengunjung, tetapi juga menumbuhkan ekosistem wisata yang lebih kuat. “Kota yang memiliki akses transportasi yang baik akan lebih mudah menarik wisatawan dari berbagai lapisan, termasuk mereka yang ingin mengeksplorasi daerah-daerah dengan tingkat kepadatan yang berbeda,” katanya. Hal ini berarti, kota tidak hanya menjadi pusat bisnis atau pusat kehidupan, tetapi juga sebagai tempat yang bisa diakses oleh seluruh kalangan.
Pengembangan transportasi yang lebih modern dan efisien, seperti MRT dan Transjakarta, dianggap sebagai bagian penting dari strategi pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. “Selain mempermudah perpindahan warga, moda transportasi ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan destinasi baru yang belum terjamah sebelumnya. Misalnya, Kota Tua yang sebelumnya dianggap sebagai bagian dari sejarah, kini bisa lebih mudah diakses dan dikunjungi oleh masyarakat luas,” papar Abimantra.
Abimantra juga menyebutkan bahwa tren wisata dalam kota tidak hanya terbatas pada tempat-tempat wisata yang sudah populer, tetapi juga mencakup daerah-daerah dengan potensi besar. “Dengan aksesibilitas yang membaik, kota-kota kecil atau kawasan kumuh bisa berubah menjadi destinasi yang menarik, selama ada keunikan dan daya tarik yang memadai,” katanya. Contohnya, banyak kawasan sekitar stasiun MRT yang sekarang dihiasi oleh tempat-tempat makan, toko khusus, atau kafe yang menawarkan pengalaman berbeda bagi pengunjung.
Seiring dengan peningkatan aksesibilitas, Abimantra memproyeksikan bahwa minat terhadap wisata dalam kota akan terus meningkat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang berubah. “Orang-orang lebih memilih menghabiskan liburan di kota karena biaya transportasi yang lebih rendah dan kemudahan dalam memperoleh informasi,” ujarnya. Ini membuka peluang bagi pengembangan pariwisata yang lebih berkelanjutan, karena tidak hanya mengurangi dampak lingkungan dari perjalanan jarak jauh, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal.
Kota juga menjadi tempat yang cocok untuk menggabungkan berbagai aktivitas, seperti ekonomi, budaya, dan olahraga. Abimantra menilai bahwa keberhasilan pengembangan aksesibilitas akan membuka jalan bagi munculnya industri wisata yang lebih kreatif dan interaktif. “Kita perlu berpikir lebih luas tentang cara kota bisa menjadi tempat yang lebih menarik, baik secara ekonomi maupun sosial,” katanya. Dengan ini, kota bisa menjadi destinasi yang tidak hanya dikunjungi untuk sekadar bersantai, tetapi juga untuk mengeksplorasi segi-segi kehidupan yang beragam.
Dalam jangka panjang, Abimantra memprediksi bahwa wisata dalam kota akan menjadi pendorong utama dalam pembangunan ekonomi dan kota yang lebih baik. “Kota tidak lagi hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai sebuah kanvas yang bisa dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat,” imbuhnya. Dengan semakin lengkapnya aksesibilitas, para wisatawan akan lebih mudah menemukan tempat-tempat yang cocok dengan gaya hidup mereka, baik yang aktif, menikmati kebudayaan, maupun berkegiatan olahraga.
