Topics Covered: Ahli: Paradigma pertahanan negara mengalami transformasi besar
Ahli Geopolitik: Paradigma Pertahanan Negara Alami Perubahan Mendasar
Topics Covered – Di Kota Malang, Jawa Timur, sebuah diskusi publik yang diadakan di kafe ternama menjadi ajang untuk menggali isu-isu kontemporer tentang keamanan nasional. Yusuf R. Hakim, seorang ahli geopolitik dan media, menyoroti bagaimana konsep pertahanan negara telah berubah secara signifikan dari masa ke masa. Menurutnya, kemarin, kekuatan suatu negara ditentukan oleh kemampuan menguasai wilayah darat, laut, dan udara. Namun kini, ruang siber menjadi elemen baru yang sangat menentukan dalam strategi pertahanan. “Kita sedang berada di tengah transformasi besar, di mana kontrol informasi di internet bisa mengubah keadaan politik dan sosial,” jelas Yusuf.
Peran Digital dalam Dinamika Global
Dalam kesempatan tersebut, Yusuf R. Hakim menekankan bahwa ancaman utama pada era ini berasal dari bidang geo-ekonomi, bukan hanya dari ancaman militer langsung. “Pertahanan modern tidak lagi sekadar tentang perang fisik, tetapi juga tentang kemampuan menguasai ruang digital,” tambahnya. Ia mencontohkan bagaimana algoritma media sosial bisa menggerakkan opini publik secara sistematis. Fenomena seperti polarisasi masyarakat, terutama melalui label-label politik, menjadi bukti betapa pentingnya kontrol informasi dalam era digital.
“Algoritma ini menyaring dan mengategorikan masyarakat agar pesan tertentu bisa disampaikan dengan mudah. Bahayanya, kemarahan dan sentimen negatif sengaja diproduksi di dunia maya lalu diaplikasikan ke kehidupan nyata. Ini yang perlu kita waspadai bersama,” ujar Yusuf R. Hakim.
Menurutnya, dominasi media arus utama sebagai sumber informasi utama masyarakat mulai tergantikan oleh platform digital. Data menunjukkan sekitar 70 persen populasi Indonesia kini mengandalkan media sosial sebagai sumber utama berita. Hal ini menciptakan tantangan baru dalam menjaga kestabilan sosial dan politik, karena algoritma bisa memperkuat kebiasaan berpikir yang terpolarisasi. Yusuf juga menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis di tengah arus informasi yang deras. “Indonesia tidak kekurangan orang-orang berbakat, tapi kita membutuhkan individu yang mampu berpikir secara realistis dan analitis,” ujarnya.
Indonesia di Mata Dunia: Potensi dan Tantangan
Di sisi lain, Penta Peturun, staf ahli Kementerian HAM, menyoroti letak strategis Indonesia dalam sistem global. Ia menyatakan bahwa Indonesia adalah negara besar yang memiliki sumber daya alam melimpah dan pasar domestik yang cukup luas. “Karena itu, negara ini menjadi fokus perhatian berbagai pihak dalam persaingan global,” paparnya. Menurutnya, Indonesia harus mampu membaca dinamika politik internasional secara jeli agar tidak tertinggal dalam permainan geopolitik.
Penta juga memperingatkan bahwa tantangan global saat ini membutuhkan generasi muda yang memiliki wawasan kebangsaan kuat. “Kemampuan memahami perubahan dunia secara objektif adalah kunci untuk menghadapi era baru ini,” lanjutnya. Ia menambahkan bahwa posisi Indonesia di tengah persaingan global memerlukan strategi yang lebih kompleks, tidak hanya sekadar menjaga keamanan wilayah.
Gerakan Sosial dan Pemahaman yang Komprehensif
Koordinator Wilayah PTNU Jatim, Hasan Husaini, menilai bahwa mahasiswa perlu memahami isu secara menyeluruh sebelum menyatakan pendirian atau melakukan aksi. “Jika kita tidak mengetahui akar masalah, gerakan sosial bisa jadi tidak efektif bahkan mengganggu stabilitas nasional,” ujarnya. Menurutnya, diskusi seperti ini adalah sarana penting untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan memperkaya wawasan kebangsaan generasi muda.
Hasan juga menekankan bahwa dalam dunia digital, masyarakat harus mampu memilah informasi dengan teliti. “Kita tidak hanya membutuhkan kemampuan mengakses data, tetapi juga mengolahnya secara tepat untuk mengambil keputusan yang baik,” tambahnya. Ia mengingatkan bahwa ruang dialog yang sehat harus dipertahankan agar tidak terjadi kebuntuan dalam membangun kesepahaman nasional.
“Mahasiswa perlu berdiskusi, merawat demokrasi, dan memahami dinamika global maupun nasional agar gerakan yang dilakukan benar-benar memberikan solusi,” ucap Hasan Husaini.
Perwakilan Kementerian Luar Negeri dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Malang (Unisma), Intan, menyatakan bahwa diskusi tersebut membuka wawasan baru bagi peserta. “Mahasiswa bukan hanya dituntut memahami informasi, tetapi juga mampu mengevaluasi diri dan berpikir tentang kontribusi mereka untuk negara di masa depan,” jelasnya. Intan menegaskan bahwa ancaman terhadap bangsa tidak selalu bersifat konflik fisik, melainkan bisa datang melalui pengendalian informasi dan ketahanan ekonomi.
Menurut Intan, pentingnya penguasaan informasi, ketahanan ekonomi, serta kemampuan masyarakat dalam memilah data menjadi aspek vital untuk menjaga kedaulatan Indonesia. “Ini menunjukkan bahwa pertahanan negara kini mencakup lebih dari sekadar militer, tetapi juga mencakup aspek non-fisik seperti komunikasi dan kebijakan digital,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa forum diskusi seperti ini harus terus digelar sebagai sarana pendidikan politik yang menyeluruh.
Dalam kesimpulannya, para peserta diskusi sepakat bahwa paradigma pertahanan negara berubah dari yang dulu fokus pada kekuatan fisik menjadi kekuatan intelektual dan digital. “Berpikir kritis, memahami persoalan secara utuh, dan menjaga ruang dialog yang sehat adalah modal utama menghadapi dinamika global yang semakin kompleks,” ujar Yusuf R. Hakim. Ia berharap masyarakat Indonesia, terutama generasi muda, mampu memanfaatkan teknologi untuk memperkuat persatuan dan keutuhan bangsa.
Secara keseluruhan, diskusi tersebut menyoroti betapa pentingnya adaptasi dalam menghadapi perubahan yang terus-menerus. Dengan memahami bahwa ruang siber menjadi medan strategis, negara modern harus membangun kekuatan di berbagai bidang, termasuk ekonomi, politik, dan sosial. Kombinasi antara kemampuan teknologi dan kebijakan yang tepat akan menjadi jalan untuk menjaga keseimbangan antara pertahanan dan pembangunan.
