Sumsel deflasi 0,04 persen pada April didorong komoditas pangan
Sumatera Selatan Alami Deflasi 0,04 Persen pada April, Didorong oleh Komoditas Pangan
2026-05-04 | Antaranews
Sumsel deflasi 0 04 persen – Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatatkan deflasi sebesar 0,04 persen secara bulanan pada April 2026. Hal ini terjadi karena penurunan harga komoditas pangan yang tercatat sebagai faktor utama. Dalam laporan terbaru, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Mohammad Wahyu Yulianto, mengungkapkan bahwa perubahan harga bahan pokok turut memengaruhi angka inflasi di wilayah tersebut.
Menurut data yang dihimpun BPS, deflasi bulanan di Sumsel pada April 2026 didorong oleh kelompok komoditas pangan. Meski angka penurunan harga terbilang kecil, tetapi dampaknya terasa jelas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Pada periode tersebut, indeks harga konsumen (IHK) mengalami penurunan tipis, yang menunjukkan adanya tekanan deflasi pada sektor pengeluaran rumah tangga.
“Deflasi bulanan pada April 2026 didominasi oleh kelompok komoditas pangan, khususnya bahan makanan pokok seperti beras dan sayuran. Penurunan harga ini dipicu oleh ketersediaan pasokan yang memadai dan permintaan yang relatif stabil,” ujar Mohammad Wahyu Yulianto, Senin (4/5).
Kelompok pangan menjadi faktor utama yang mengarah ke deflasi, dengan andil sebesar 0,05 persen. Tren ini berbeda dari bulan sebelumnya, di mana peningkatan harga bahan bakar minyak dan transportasi sempat mengerek inflasi. Namun, pada April, perubahan harga pangan berhasil mengimbangi tekanan inflasi dari sektor lain. Penurunan tersebut juga dipengaruhi oleh musim hujan yang mempercepat pertumbuhan panen sejumlah komoditas pertanian.
Deflasi di Sumsel pada April 2026 mencerminkan perbaikan keadaan ekonomi di sektor pangan, yang menjadi kebutuhan pokok sebagian besar penduduk. Kepala BPS Sumsel mengakui bahwa ketersediaan pasokan yang cukup dari dalam negeri serta dampak harga internasional yang lebih rendah membantu menekan inflasi. Namun, ia juga menekankan bahwa keberhasilan ini tidak berarti kondisi ekonomi secara keseluruhan stabil.
Menurut analisis BPS, sektor pangan terutama terdiri dari bahan makanan pokok seperti beras, telur, daging, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Harga beras turun sekitar 0,2 persen, sementara sayuran segar dan buah-buahan juga mengalami penurunan. Perubahan ini diperkirakan berdampak positif bagi daya beli masyarakat, terutama yang bergantung pada pengeluaran untuk kebutuhan pokok.
Di sisi lain, beberapa kelompok komoditas lain masih menunjukkan kenaikan harga. Misalnya, komoditas non-pangan seperti pakaian dan peralatan rumah tangga mengalami inflasi kecil, yang memengaruhi total IHK. Namun, kontribusi deflasi dari sektor pangan cukup signifikan untuk mencegah kenaikan inflasi yang lebih besar. Wahyu Yulianto menambahkan bahwa seluruh kelompok komoditas tetap diperhatikan agar pemantauan inflasi bisa lebih akurat.
Kondisi deflasi pada April 2026 juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dalam menstabilkan harga pangan. Program subsidi dan dukungan logistik terhadap petani serta distributor diperkirakan berperan dalam menurunkan harga di pasar. Selain itu, penguasaan pasar oleh produsen lokal juga mengurangi ketergantungan pada impor, yang biasanya menyebabkan kenaikan harga.
Deflasi yang terjadi di Sumsel menunjukkan bahwa penurunan harga bisa terjadi meski dalam lingkungan ekonomi yang dinamis. Wahyu Yulianto mengingatkan bahwa keberhasilan ini tidak bisa dianggap sebagai tren jangka panjang. Pemantauan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan stabilitas harga yang berkelanjutan. “Deflasi bulanan ini menandakan keadaan pasar yang sedang berubah, tetapi kita tetap harus waspada terhadap fluktuasi di masa depan,” katanya.
Analisis ekonomi menunjukkan bahwa deflasi pada sektor pangan berpotensi mengurangi tekanan inflasi secara keseluruhan, terutama jika pasokan terus membaik. Namun, deflasi yang terjadi juga perlu diimbangi oleh pertumbuhan ekonomi lainnya, seperti sektor jasa dan industri, untuk mencegah penurunan daya beli yang berlebihan. Selain itu, faktor eksternal seperti perubahan politik dan situasi internasional tetap menjadi ancaman potensial.
Secara teknis, deflasi terjadi ketika indeks harga konsumen mengalami penurunan dari bulan ke bulan. Di Sumsel, penurunan ini terjadi secara bertahap, dengan penekanan pada sektor makanan. Namun, pengamatan terhadap kelompok komoditas lain seperti bahan bakar dan transportasi tetap penting untuk mengetahui apakah deflasi akan berlanjut atau tergantikan oleh kenaikan harga lain.
Dalam konteks nasional, deflasi di Sumsel berdampingan dengan kondisi inflasi di sejumlah provinsi lain yang mengalami kenaikan harga. Misalnya, Jakarta dan Bali tercatat mengalami inflasi sekitar 0,3 persen, dibandingkan dengan Sumsel yang berhasil mencatatkan deflasi. Wahyu Yulianto menyebut bahwa kondisi ini menunjukkan perbedaan respons ekonomi antar daerah.
Menyusul deflasi bulanan, BPS Sumsel berharap masyarakat bisa memanfaatkan situasi ini dengan membeli bahan pokok secara lebih efisien. Namun, ia juga mengingatkan bahwa deflasi jangka pendek tidak selalu berarti keadaan ekonomi dalam kondisi seimbang. Ada kemungkinan tekanan inflasi kembali muncul jika pasokan tidak terjaga atau permintaan meningkat.
Di sisi produktif, sektor pertanian di Sumsel dinilai cukup stabil, dengan produksi beras dan sayuran tetap memenuhi kebutuhan lokal. Kebijakan pendampingan pemerintah dalam memastikan distribusi yang merata juga diperkirakan berperan dalam menjaga harga tetap terkendali. Wahyu Yulianto menegaskan bahwa data ini hanya sebagai referensi dan tidak bisa digunakan untuk menjamin kinerja ekonomi di masa mendatang.
Kondisi deflasi yang terjadi pada April 2026 menjadi momen penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebij
