Jakbar gencar tekan produksi residu sampah dari sumbernya
Jakbar Gencar Tekan Produksi Residu Sampah dari Sumbernya
Jakbar gencar tekan produksi residu sampah – Jakarta – Dalam upaya mengatasi masalah sampah, Pemerintah Kota Jakarta Barat (Jakbar) sedang mengintensifkan pengurangan limbah ber residu di tingkat sumber melalui program pemilahan yang dimulai dari tingkat RT dan RW, serta diterapkan di berbagai institusi seperti sekolah, kantor, dan pasar. Wali Kota Jakbar, Iin Mutmainnah, mengatakan bahwa sampah yang berasal dari permukiman, sekolah, kantor, taman, pasar, dan area lainnya menjadi fokus utama. “Kita berharap semua entitas di wilayah ini sudah mulai melakukan pemilahan,” ujarnya saat meninjau proses pengelolaan sampah di Taman Gajah RT 006 RW 03, Meruya Selatan, Senin lalu.
Langkah Strategis sesuai Instruksi Gubernur
Pemkot Jakbar melakukan inisiatif ini sesuai dengan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026, yang menekankan pentingnya mengurangi sampah di sumber terasah. “Ini memastikan bahwa persoalan sampah harus mulai kita kurangi dari sumbernya,” tambah Iin. Ia menjelaskan bahwa pemilahan sampah pada dasarnya dilakukan dengan memisahkan limbah organik dan anorganik, serta residu yang tidak bisa diolah lebih lanjut. “Sampah anorganik bisa ditabung atau diolah di Bank Sampah, sementara limbah organik seperti daun-daun diubah menjadi pupuk kompos untuk dimanfaatkan kembali,” tuturnya.
“Sampah organik seperti daun-daun, diolah menjadi pupuk kompos untuk dimanfaatkan kembali. Sehingga sampah residu yang menjadi persoalan di tempat sampah akan sedikit,” kata Iin.
Menurut Iin, langkah pemilahan sampah tidak hanya mengurangi volume limbah yang diangkut ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga memperkuat kesadaran masyarakat tentang manajemen lingkungan. Pemkot Jakbar siap melaksanakan gerakan ini bersama masyarakat dan Suku Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Barat melalui Satuan Pelaksana Sudin LH di masing-masing kecamatan. Ia juga menekankan pentingnya RW-RW yang telah menerapkan pemilahan sampah menjadi percontohan untuk RW lain. “Melakukan pemilahan sampah dari sumbernya secara bersama,” imbuh Iin.
Pengurangan Sampah dalam Angka
Jakarta Barat masih menghadapi tantangan berupa tingginya produksi sampah, sekitar 807.966 ton per tahun. Dari jumlah tersebut, hanya 212.450 ton atau sekitar 26 persen yang berhasil dimanfaatkan kembali setiap tahunnya. Pemkot Jakbar terus berupaya untuk mengurangi residu sampah yang diangkut ke pembuangan akhir, termasuk melalui program pemilahan yang diterapkan secara masif.
Keterbatasan Kapasitas TPST Bantar Gebang
Salah satu faktor utama yang menyebabkan penumpukan sampah di Jakarta Barat adalah pembatasan kuota pengangkutan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Sebelumnya, kapasitas pengangkutan sampah di wilayah ini mencapai 308 truk per hari, tetapi kini dikurangi menjadi 190 truk akibat insiden longsor yang terjadi pada 8 Maret lalu. Insiden tersebut mengakibatkan TPST Bantar Gebang, yang merupakan salah satu tempat pengolahan sampah terbesar di Asia Tenggara, harus menghentikan operasional sementara waktu.
Kondisi ini menyebabkan pengangkutan sampah di sejumlah Tempat Penampungan Sementara (TPS) wilayah Jakarta Barat terhambat. Meski demikian, produksi sampah masyarakat tidak berkurang. Dengan adanya pembatasan kuota, penumpukan sampah menjadi tidak terhindarkan. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemkot Jakbar telah mengambil langkah-langkah konkret, seperti meningkatkan pemilahan di tingkat sumber, agar volume limbah yang harus dibuang ke TPST bisa dikurangi.
Manfaat Pemilahan Sampah
Proses pemilahan sampah di tingkat sumber, menurut Iin, memiliki manfaat yang signifikan. Selain mengurangi beban lingkungan, kegiatan ini juga mendorong penggunaan sumber daya daur ulang yang lebih efisien. Misalnya, sampah organik seperti kulit buah, daun, atau sisa makanan dapat diubah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi pertanian dan kebun warga. Sementara itu, sampah anorganik seperti kertas, plastik, atau logam bisa dihimpun di Bank Sampah untuk kemudian dijual kembali atau diproses lebih lanjut.
Iin menyebutkan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. “Kita perlu kolaborasi antara pemerintah, lingkungan, dan warga,” katanya. Untuk memastikan hal tersebut, Pemkot Jakbar memberikan pendampingan kepada RW-RW yang sudah menerapkan sistem pemilahan. Ia juga berharap adanya peningkatan kesadaran warga terhadap pentingnya memilah sampah sejak di sumber, sehingga limbah yang dihasilkan bisa diminimalkan sebelum sampai ke tempat pembuangan akhir.
Tantangan dan Prospek
Dengan adanya pembatasan kapasitas TPST Bantar Gebang, Jakarta Barat diharapkan dapat mengoptimalkan kegiatan pemilahan sampah di tingkat RW dan masyarakat. Langkah ini dianggap sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi residu sampah yang mengendap di tempat-tempat penampungan. Iin menegaskan bahwa pihaknya akan terus memperluas program ini ke lebih banyak area, agar semua pemukim bisa berpartisipasi dalam mengelola sampah secara mandiri.
Kebijakan ini juga sejalan dengan upaya pemerintah DKI Jakarta dalam mencapai target pengurangan sampah. Dengan memilah sampah sejak di sumber, Jakarta Barat berharap dapat mencapai penurunan volume limbah hingga 25 persen dalam waktu dua tahun. Iin yakin, jika semua pihak bekerja sama, Jakarta Barat bisa menjadi contoh terbaik dalam mengelola sampah secara berkelanjutan. “Kita harus bergerak bersama, karena sampah bukan hanya masalah pemerintah, tapi tanggung jawab bersama,” katanya.
Potensi Daur Ulang Sampah
Pemilahan sampah di tingkat sumber memberikan peluang besar bagi daur ulang. Dengan memisahkan sampah organik dan anorganik, Jakarta Barat dapat meningkatkan efisiensi pengolahan limbah. Selain itu, program ini juga membantu mengurangi polusi dan menghemat biaya pengangk
