Meeting Results: Menlu: Potensi kerja sama ekonomi RI-Belarus capai 500 juta dolar AS

Menlu: Potensi kerja sama ekonomi RI-Belarus capai 500 juta dolar AS

Meeting Results – Jakarta, Kamis — Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Sugiono, dalam jumpa pers di Istana Merdeka, menyatakan bahwa pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan Presiden Belarus, Alexandr Lukashenko, menjadi momentum penting untuk mendorong kerja sama ekonomi antara dua negara. Menlu mengungkapkan bahwa forum bisnis yang diadakan beberapa hari sebelumnya telah menghasilkan proyeksi nilai kerja sama mencapai sekitar 500 juta dolar AS. Forum ini dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkuat hubungan bilateral yang telah terjalin sejak beberapa tahun terakhir.

Pertemuan sebagai Tindak Lanjut dari Lawatan Presiden

Pertemuan antara kedua pemimpin tersebut merupakan kelanjutan dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Belarus pada 15 Juli 2025. Dalam lawatan pertama, pihak Indonesia dan Belarus telah menyetujui komitmen untuk memperluas kerja sama bilateral. “Kita sepakat bahwa angka 500 juta dolar AS ini menunjukkan komitmen kuat kedua negara untuk meningkatkan pertukaran ekonomi,” tutur Sugiono. Menurutnya, angka tersebut mencerminkan potensi di berbagai bidang, termasuk perdagangan dan investasi, yang dinilai perlu ditingkatkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kedua negara.

“Kalau saya tidak salah laporannya itu 500 juta (dolar AS) dan saya kira ini juga kedua Presiden sepakat bahwa angka-angka yang ada, baik di bidang perdagangan maupun investasi, merupakan angka-angka yang perlu peningkatan untuk kemajuan kedua negara,”

Menlu menjelaskan bahwa forum bisnis tersebut dilaksanakan pada Selasa (30/6) dan menjadi wadah untuk mengupas berbagai peluang kolaborasi. Salah satu isu utama yang dibahas adalah pengembangan kerja sama di sektor pertanian dan energi, yang dianggap menjadi prioritas dalam jangka pendek. Menurut Sugiono, pembahasan ini memperlihatkan komitmen bersama untuk menggarap sektor strategis yang bisa memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan rakyat.

Perjanjian Dagang dan Peta Jalan Hubungan Bilateral

Dalam menjawab tantangan global, Indonesia dan Belarus telah mengambil langkah konkret melalui penandatanganan perjanjian dagang dengan Eurasian Economic Union (EAEU). Perjanjian ini, kata Sugiono, menjadi dasar untuk memperluas kerja sama ekonomi dalam skala lebih besar. “Belarus merupakan salah satu negara yang telah meratifikasi perjanjian ini, sehingga kita memiliki dasar yang kuat untuk mengembangkan kerja sama di berbagai sektor,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan hari ini, pemerintah Indonesia dan Belarus meluncurkan peta jalan hubungan bilateral yang mencakup berbagai bidang strategis. Peta jalan ini dirancang untuk menjembatani kebutuhan ekonomi kedua negara, terutama dalam menghadapi situasi pasar yang dinamis. “Ini menunjukkan bahwa hubungan bilateral kita memasuki satu, kalau saya boleh katakan, tahap yang baru yang lebih intensif,” lanjut Menlu. “Dari situ pada hari ini juga akan diluncurkan suatu roadmap (peta jalan) hubungan bilateral di berbagai sektor antara Indonesia dengan Belarus,” tambahnya.

Peta jalan ini mencakup peningkatan kerja sama dalam bidang energi, ketahanan pangan, dan teknologi. Sugiono menekankan bahwa kerja sama di bidang pertanian, khususnya pengadaan bahan baku pupuk, menjadi fokus utama. “Kita membahas beberapa produk pertanian yang memiliki potensi ekspor besar, termasuk bahan baku untuk industri pertanian di dalam negeri,” ujarnya. Dengan peningkatan kerja sama ini, diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan Indonesia sekaligus mengefisiensikan rantai pasok global.

Kunjungan Presiden Lukashenko sebagai Langkah Kunci

Kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia kali ini juga dinilai sebagai langkah penting dalam mempererat hubungan bilateral. Sugiono mengungkapkan bahwa ini adalah kunjungan kedua Presiden Lukashenko ke RI setelah lawatan pertama pada 2013. “Kedua presiden sepakat bahwa kerja sama ekonomi ini bukan hanya sekadar kolaborasi teknis, tapi juga refleksi dari kepercayaan politik yang semakin meningkat,” katanya.

Dalam diskusi, Menlu menyebutkan bahwa kerja sama di bidang energi menjadi salah satu isu yang paling menarik. Dengan adanya kebijakan energi yang diperkuat oleh EAEU, Indonesia dan Belarus berharap dapat meningkatkan pasokan energi dalam negeri, terutama untuk menekan ketergantungan pada pasar internasional. “Kita juga mengupas potensi investasi di sektor energi, terutama pengembangan sumber daya alam yang ada di Belarus,” jelasnya.

Selain itu, kedua negara sepakat untuk mempercepat proses integrasi pasar. Sugiono menegaskan bahwa forum bisnis ini menunjukkan keinginan kuat untuk melibatkan sektor swasta dalam mengakselerasi proyek-proyek kerja sama. “Swasta menjadi mitra penting dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan ekspor,” katanya. Dengan adanya perjanjian dagang yang telah ditandatangani, Menlu yakin bahwa Indonesia dan Belarus dapat mencapai target kerja sama ekonomi yang lebih besar dalam waktu dekat.

Kemitraan yang Memberikan Dampak Luas

Kerja sama antara Indonesia dan Belarus, menurut Sugiono, tidak hanya menguntungkan kedua negara, tetapi juga memberikan dampak positif bagi wilayah Asia Tenggara dan Eropa Timur. “Ini adalah langkah penting dalam membangun kemitraan ekonomi yang inklusif dan saling menguntungkan,” tuturnya. Dengan meningkatnya volume perdagangan, diharapkan dapat meningkatkan akses pasar bagi produk Indonesia ke Eropa Timur, sekaligus membuka peluang ekspor dari Belarus ke Asia Tenggara.

Menlu juga menyoroti pentingnya kemitraan dalam bidang teknologi. Ia menegaskan bahwa Indonesia berkomitmen untuk mendukung inisiatif-inisiatif inovatif yang dapat diaplikasikan di negara-negara berkembang. “Kerja sama teknologi menjadi bagian dari roadmap ini, terutama dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor industri,” kata Sugiono. Dengan menggandeng Belarus, Indonesia berharap dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam pengembangan sektor-sektor kritis.

Menurut Sugiono, peluncuran peta jalan ini juga menjadi wadah untuk mengkoordinasikan kebijakan ekonomi kedua negara. “Kita perlu menyelaraskan kebijakan agar kerja sama ini bisa berjalan lancar dan memberikan manfaat maksimal,” ujarnya. Dengan adanya perjanjian dagang dan roadmap yang telah disusun, Menlu meyakini bahwa Indonesia dan Belarus akan melangkah lebih jauh dalam membangun hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.