Bisnis

Kemenhub perkuat kesiapsiagaan pencemaran laut lewat MARPOLEX

811604E2-5628-4AA9-AFDC-DDC5353B896A
Foto : Fajar Utami - programamal.com
Daftar Isi
  1. MARPOLEX 2026 Uji Respons Bersama terhadap Risiko Pencemaran Laut di Selat Lembeh
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

MARPOLEX 2026 Uji Respons Bersama terhadap Risiko Pencemaran Laut di Selat Lembeh

Programamal.com – Kesiapan menghadapi insiden pencemaran laut kembali diuji melalui Regional Marine Pollution Exercise (MARPOLEX) 2026 di Selat Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara. Latihan lintas negara ini mempertemukan unsur maritim dari Indonesia, Filipina, dan Jepang, dengan total 21 kapal yang terlibat dalam serangkaian simulasi penanganan keadaan darurat di laut.

Kegiatan tersebut menjadi ruang latihan operasional bagi personel dan kapal-kapal yang berperan dalam pengawasan keselamatan pelayaran, penanggulangan tumpahan minyak, pemadaman kebakaran kapal, hingga pencarian dan pertolongan. Dalam kondisi darurat di perairan, kecepatan komunikasi, pembagian tugas, serta kesiapan peralatan menjadi unsur penting agar dampak kejadian dapat ditekan.

“Latihan penanggulangan pencemaran laut melalui Regional MARPOLEX 2026 berhasil dilaksanakan di Selat Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara,”

Pernyataan itu disampaikan Pelaksana Tugas Direktur Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran (KPLP) Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Triono, di Jakarta pada Minggu. Ia menjelaskan bahwa latihan tersebut melibatkan kapal dari tiga negara untuk mengukur kesiapan operasi, koordinasi antarunsur, dan kemampuan merespons bersama apabila terjadi pencemaran laut.

Tiga skenario utama

MARPOLEX 2026 disusun melalui tiga skenario penanganan. Skenario pertama adalah Oil Spill Response Operation atau operasi respons tumpahan minyak. Skenario kedua berfokus pada Fire Fighting, yaitu penanganan kebakaran di kapal. Adapun skenario ketiga meliputi Search and Rescue atau SAR, yang berkaitan dengan pencarian dan pertolongan.

“Latihan ini mencakup tiga skenario, yakni penanggulangan tumpahan minyak (Oil Spill Response Operation), pemadaman kebakaran kapal (Fire Fighting), serta pencarian dan pertolongan (Search and Rescue/SAR),”

Rangkaian skenario tersebut mencerminkan sejumlah risiko yang dapat muncul dalam aktivitas pelayaran. Tumpahan minyak berpotensi menyebar mengikuti kondisi perairan sehingga tindakan awal perlu dilakukan untuk membatasi area terdampak. Kebakaran kapal juga membutuhkan pengendalian cepat karena dapat mengganggu keselamatan awak, kapal, dan lingkungan sekitarnya. Sementara itu, operasi SAR menuntut koordinasi yang jelas di antara unsur yang berada di lapangan.

Pelaksanaan latihan bersama memberi kesempatan bagi masing-masing unsur untuk menguji pola komunikasi dan pengerahan aset. Dalam operasi lintas batas, kesamaan pemahaman terhadap pembagian peran penting agar penanganan tidak terhambat ketika beberapa kapal dan lembaga bekerja pada waktu yang bersamaan.

Penanganan tumpahan minyak dalam tiga lapisan

Pada skenario respons tumpahan minyak, latihan dilakukan melalui tiga lapisan penanganan. Lapisan pertama atau Layer 1 melibatkan MB Rancung IV serta MB Transko Sepat 16. Kedua kapal tersebut mendukung tindakan awal yang ditujukan untuk menahan penyebaran minyak di perairan.

Tahap berikutnya, Layer 2, menempatkan KN Gandiwa P-118 sebagai unsur utama operasi. Dalam pelaksanaannya, kapal tersebut mendapat dukungan dari KT Anoman V untuk pengoperasian perangkat penanggulangan tumpahan minyak. Penggunaan unsur pendukung dalam latihan ini memperlihatkan pentingnya kesiapan peralatan sekaligus personel yang mampu mengoperasikannya secara terpadu.

Pada Layer 3, Philippine Coast Guard turut mengambil peran melalui BRP Gabriela Silang dan BRP Tubbataha. Kedua kapal itu melakukan penggelaran oil boom, yakni penghalang terapung yang digunakan untuk membantu membatasi pergerakan tumpahan minyak di permukaan air. Penggelaran peralatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar area penanganan dapat dikendalikan sebelum dampaknya meluas.

Pendekatan berlapis dalam simulasi tumpahan minyak menekankan bahwa penanganan pencemaran tidak hanya bertumpu pada satu kapal atau satu institusi. Tahap awal membutuhkan reaksi cepat, sedangkan pengerahan dukungan lanjutan diperlukan apabila situasi memerlukan kemampuan dan peralatan yang lebih besar.

Simulasi pemadaman kebakaran kapal

Selain respons pencemaran, MARPOLEX 2026 juga menguji penanganan kapal yang mengalami kebakaran. Dalam skenario Fire Fighting, Fireboat Wisnu 3 menjadi unsur yang memulai pemadaman menggunakan air pada kapal yang disimulasikan terbakar.

Operasi kemudian diperkuat oleh sejumlah kapal dari berbagai unsur. SHIKISHIMA PLH-31 milik Japan Coast Guard ikut mendukung simulasi tersebut, bersama KN Chundamani P-116, KN P-380, KT Bunaken, dan BRP Gabriela Silang. Keterlibatan kapal-kapal ini memperlihatkan operasi pemadaman yang dilaksanakan secara kolaboratif, bukan melalui tindakan tunggal.

Latihan seperti ini juga penting untuk membangun kesiapan teknis ketika kapal menghadapi keadaan darurat. Penanganan kebakaran di laut memiliki tantangan tersendiri karena operasi dilakukan di ruang yang bergerak, dengan kapal lain tetap harus menjaga posisi aman dan koordinasi harus berlangsung tanpa jeda.

Selat Lembeh sebagai lokasi latihan menjadi tempat seluruh unsur menguji kemampuan bersama dalam skenario yang dirancang menyerupai kebutuhan respons maritim. Melalui MARPOLEX 2026, Kementerian Perhubungan memperkuat kesiapsiagaan penanggulangan pencemaran laut sekaligus kerja sama operasional dengan Filipina dan Jepang. Latihan ini menempatkan koordinasi, kesiapan kapal, serta penggunaan peralatan tanggap darurat sebagai bagian penting dari upaya menghadapi risiko di perairan.

Frequently Asked Questions

What is Kemenhub perkuat kesiapsiagaan pencemaran laut lewat?

Kemenhub perkuat kesiapsiagaan pencemaran laut lewat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kemenhub perkuat kesiapsiagaan pencemaran laut lewat matter?

Kemenhub perkuat kesiapsiagaan pencemaran laut lewat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Fajar Utami - programamal.com

Fajar Utami - programamal.com

Fajar Utami memiliki pengalaman dalam pengelolaan program CSR (Corporate Social Responsibility) dan kegiatan sosial perusahaan. Ia memahami bagaimana sistem donasi dapat dikelola secara profesional dan transparan.

Kontribusinya di Program Amal berfokus pada edukasi manajemen donasi dan praktik terbaik dalam penyaluran bantuan.