MTI sebut perlunya mitigasi kendaraan mogok di perlintasan kereta
MTI Tekankan Pentingnya Mitigasi untuk Kendaraan Mogok di Perlintasan Sebidang
MTI sebut perlunya mitigasi kendaraan mogok –
Jakarta, Selasa – Deddy Herlambang, Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), mengatakan bahwa terdapat kebutuhan akan langkah mitigasi saat kendaraan bermotor mengalami kegagalan di perlintasan sebidang. Ia menekankan bahwa faktor utama kecelakaan kereta api terjadi akibat kehadiran kendaraan yang terjebak di rel. “Pemicu utama Kecelakaan Kereta Api (KKA) adalah perlintasan sebidang JPL 85 Ampera di Jalan Ampera, Bekasi. Oleh karena itu, diperlukan adanya standar operasional prosedur (SOP) yang wajib diikuti pengguna jalan ketika kendaraan mogok di atas rel,” jelas Deddy dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta.
Kejadian Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur
Pada malam Senin, 27 April 2026, tepatnya pukul 20.55 WIB, terjadi kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur (BKST). Insiden tersebut melibatkan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya dan Kereta Rel Listrik (KRL) di kawasan Bekasi Timur. KRL PLB 5568a yang berhenti di peron 2 stasiun tersebut terlibat dalam tabrakan dengan bagian belakang KA 4 Argo Bromo Anggrek, yang menyebabkan gangguan total pada arus lalu lintas kereta api di jalur Jakarta hingga Cikarang.
“Kecelakaan ini berawal dari kecelakaan sebelumnya di perlintasan sebidang JPL 85 Ampera, tempat sebuah taksi listrik mengalami kegagalan dan tertahan di atas rel. Akibatnya, KRL PLB 5181 yang berjalan di depannya terhenti, sehingga KRL PLB 5568a di belakang tak bisa melanjutkan perjalanan,” tutur Deddy dalam pernyataannya.
Deddy menambahkan bahwa kejadian serupa membutuhkan penanganan cepat dan koordinasi antara pihak-pihak terkait. “SOP yang diusulkan Direktorat Perhubungan Darat (Hubdat) Kementerian Perhubungan dapat menjadi solusi untuk mencegah insiden seperti ini terulang,” katanya.
Detail Kecelakaan dan Pengaruhnya
Kejadian ini dimulai 35 menit sebelumnya di perlintasan sebidang JPL 85 Ampera, tempat taksi listrik mengalami kegagalan. Kendaraan tersebut berhenti di tengah rel dan menyebabkan KRL PLB 5181 tertahan. Selanjutnya, KRL PLB 5568a yang berjalan di belakangnya terpaksa berhenti karena mengalami tabrakan dengan KRL PLB 5181 yang sudah tertambat. Dampaknya, alur perjalanan kereta api di jalur Jakarta-Cikarang sempat terganggu.
Menurut informasi yang diperoleh, situasi kecelakaan terjadi di area yang padat lalu lintas. Kompol Robby Hefados, Kepala Bagian Pembinaan Operasional Ditlantas Polda Metro Jaya, menyebut bahwa kecelakaan tersebut berdampak signifikan pada kegiatan transportasi umum. “Kejadian ini menimbulkan keterlambatan di berbagai jalur, termasuk di perlintasan sebidang yang menjadi titik utama kecelakaan,” ujarnya.
Saat ini, petugas dari Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya bersama Satlantas Polres Metro Bekasi Kota sedang bekerja keras untuk mengatasi situasi darurat. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyiapkan perlintasan bagi ambulans yang akan mendatangi lokasi kejadian guna mengevakuasi korban. Robby juga menyebutkan bahwa kecelakaan melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di wilayah Bekasi Timur.
Rekomendasi untuk Mencegah Insiden Serupa
Deddy menyarankan bahwa Direktorat Perhubungan Darat (Hubdat) Kementerian Perhubungan dapat mengusulkan pembuatan SOP khusus ketika kendaraan bermotor mengalami kegagalan di perlintasan sebidang. “SOP ini harus mencakup langkah-langkah evakuasi yang jelas, serta kerjasama antara pengguna jalan dan pengelola transportasi kereta api,” tegasnya.
Menurut Deddy, kejadian tersebut menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem pengamanan di perlintasan sebidang. “Saat kendaraan mogok di atas rel, pengemudi harus segera memberitahu petugas dan melakukan tindakan pencegahan. Tanpa SOP yang jelas, risiko tabrakan terus meningkat,” imbuhnya.
Sebagai bagian dari upaya mitigasi, MTI menekankan perlunya pelatihan bagi masyarakat tentang cara menghadapi situasi darurat di perlintasan sebidang. “SOP tidak hanya berlaku untuk petugas, tetapi juga wajib dipahami oleh pengguna jalan agar mereka dapat mengambil langkah tepat saat keadaan darurat muncul,” jelas Deddy.
Kecelakaan kereta api di Bekasi Timur menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam mengoptimalkan keamanan lalu lintas darat dan rel. Robby Hefados menambahkan bahwa tim penyelidik masih bekerja untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan tersebut. “Pengamatan menunjukkan bahwa lalu lintas padat di sekitar lokasi menjadi faktor yang memperburuk kondisi,” kata dia.
Dengan adanya kecelakaan yang terjadi, MTI menyerukan perlunya perbaikan sistem komunikasi antara pengemudi kendaraan bermotor dan petugas kereta api. “Jika ada kendaraan mogok di rel, pengemudi harus segera menghubungi pihak terkait agar proses evakuasi dapat berjalan lancar,” pungkas Deddy.
Pold
