Topics Covered: Mentan pastikan kualitas stok beras baik dan layak salur

Mentan Pastikan Kualitas Stok Beras Nasional Terjaga dengan Baik

Topics Covered – Jakarta – Dalam rapat kerja Komisi IV DPR RI di ibu kota, Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, memberikan penegasan bahwa kualitas stok beras nasional tetap terjaga dalam kondisi optimal. Ia menjelaskan bahwa dari total cadangan beras sebesar 5,3 juta ton, hanya sebagian kecil—yaitu 3.619 ton—yang mengalami kerusakan, sementara sisa stok masih dalam kondisi aman dan layak untuk disalurkan kepada masyarakat di seluruh Indonesia.

Stok Beras Nasional dan Langkah Pemerintah

Amran menanggapi kekhawatiran Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati Hariyadi, atau Titiek Soeharto, yang menginginkan percepatan perputaran stok beras untuk mencegah penurunan kualitas, terutama pada beras yang telah tersimpan lebih dari satu tahun. Menurut data yang diungkapkan dalam rapat tersebut, Jawa Timur memiliki stok beras sekitar 1,4 juta ton, dari mana 400 ribu ton telah disimpan lebih dari setahun. Titiek meminta pihak terkait untuk lebih memperhatikan stok tersebut agar bisa berputar lebih cepat.

“Di Jawa Timur itu stok totalnya 1,4 juta ton dan 400 ribu ton umurnya lebih dari satu tahun (di gudang). Jadi tolong diperhatikan lagi stoknya. Supaya berputarnya lebih cepat lagi,”

Persoalan kualitas stok beras, menurut Amran, bukanlah indikasi kegagalan pemerintah, melainkan hasil dari keberhasilan dalam memperkuat cadangan pangan. Ia menyatakan bahwa kualitas beras yang menurun bisa menjadi fokus perbaikan melalui proses reproduksi, sehingga tetap bisa digunakan. Selain itu, pemerintah telah menjamin tidak ada beras kategori B yang harus dilepas, karena masih dalam kondisi baik.

Persentase Beras Turun Mutu dan Manfaat Stok Rusak

Berdasarkan laporan Perum Bulog, sebanyak 93.488 ton beras nasional termasuk dalam kategori turun mutu, namun masih dapat diolah kembali untuk didistribusikan. Total stok beras saat ini mencapai 5.305.594 ton, dengan 1,76 persen dari jumlah tersebut berada dalam kategori kurang sempurna. Amran menambahkan bahwa beras yang rusak akibat bencana seperti banjir dan longsor, khususnya di Aceh, sebanyak 3.619 ton, tetap bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku tepung beras.

“Akan tetapi kalau tidak, mungkin 10 persen atau sekitar 9 ribu ton (dari 93.488 ton) bisa dijadikan tepung dan harganya masih bagus. Jadi kita harus jujur dan terbuka,”

Dalam kunjungan lapangan, Amran menyebutkan bahwa timnya menemukan beberapa kasus beras dengan kualitas kurang memadai. Ia menjelaskan bahwa penemuan tersebut langsung direspon dengan langkah pemberian tahu kepada Perum Bulog untuk memperbaiki kondisi. “Kami temukan seperti yang Ibu (Ketua Komisi IV DPR RI) katakan tadi di daerah, kami kunjungan, langsung kami telepon Bulog, diganti hari itu juga, karena kualitas berasnya kurang bagus. Tetapi jumlahnya kecil. Kami minta Bulog waspada dari sekarang,” katanya.

Kinerja Pemerintah dan Tanggung Jawab Pihak Terkait

Amran menegaskan bahwa kondisi stok beras saat ini mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan produksi dan cadangan pangan nasional. Ia menyoroti bahwa stok yang terjaga baik berkat upaya besar untuk memastikan ketersediaan beras dalam jumlah yang cukup. “Kita sudah setengah mati kerja. Alhamdulillah ada yang rusak karena berasnya ada. Kalau dulu tidak rusak karena berasnya yang kurang, sehingga beras impor masuk,” ujarnya.

Dalam upaya menjaga kualitas, pemerintah terus melakukan pengawasan dan intervensi jika ditemukan stok beras yang tidak memenuhi standar. Langkah-langkah tersebut mencakup peningkatan sistem penyimpanan, penggunaan teknologi modern, serta kerja sama dengan lembaga pengelola seperti Perum Bulog. Amran juga mengingatkan bahwa kualitas beras yang menurun justru menjadi bukti bahwa stok nasional saat ini lebih besar dibandingkan masa lalu.

Peran Bulog dan Kesiapan Menghadapi Tantangan

Menurut Amran, Perum Bulog ditugaskan untuk melaporkan kondisi stok beras secara transparan. Ia menekankan bahwa laporan tersebut penting untuk mengambil langkah-langkah korektif secara tepat waktu. “Pemerintah memilih terbuka terkait kondisi stok beras dan langsung mengambil langkah jika ditemukan masalah,” jelasnya.

Kasus beras dengan kualitas rendah yang ditemukan selama kunjungan lapangan menunjukkan pentingnya keterlibatan langsung pihak terkait. Amran menilai bahwa manajemen stok beras perlu lebih terstruktur agar tidak terjadi kerusakan yang signifikan. Selain itu, ia menekankan perlunya kesiapan masyarakat dan pihak pengelola dalam mengantisipasi perubahan kondisi stok.

Dengan stok beras yang mencapai 5,3 juta ton, pemerintah berkomitmen untuk memastikan kebutuhan pangan rakyat terpenuhi secara konsisten. Meski ada sebagian kecil beras yang rusak, kualitas keseluruhan stok tetap dijaga dengan baik. Amran menilai bahwa keberhasilan ini menjadi bukti dari upaya yang dilakukan selama ini, termasuk pengawasan terhadap proses penyimpanan dan distribusi.

Masih ada peluang untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan stok, terutama dalam menekan persentase beras turun mutu. Dengan menambahkan langkah-langkah seperti penggunaan bahan bantu penyimpanan dan pengaturan waktu penyimpanan, kualitas stok beras bisa dipertahankan lebih lama. Amran pun berharap bahwa Perum Bulog dan lembaga terkait lainnya tetap waspada dan proaktif dalam menjaga kualitas stok tersebut.

Kebutuhan masyarakat akan beras menjadi fokus utama pemerintah. Dengan stok yang memadai, distribusi bisa dilakukan secara merata, terutama di daerah-daerah yang membutuhkan bantuan pangan. Amran yakin bahwa ketersediaan beras nasional akan terus ditingkatkan, seiring dengan peningkatan produksi dalam negeri dan pengelolaan stok yang lebih baik.