Latest Program: Pejabat WHO puji upaya China dorong aktivitas fisik
Pejabat WHO Puji Upaya China Dorong Aktivitas Fisik
Latest Program – Beijing menjadi fokus perhatian dunia setelah Pemerintah Tiongkok berhasil mengembangkan berbagai strategi untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam aktivitas fisik. Ini diakui oleh Martin Taylor, perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Tiongkok, yang menyatakan bahwa negara tersebut telah menciptakan lingkungan yang sangat mendukung kegiatan olahraga, terutama bagi negara-negara berkembang.
Langkah Kebijakan dan Infrastruktur Publik
Taylor menekankan bahwa upaya Tiongkok dalam menyediakan ruang publik yang ramah untuk olahraga merupakan langkah penting. Ia menyebutkan bahwa kota-kota besar dan kecil di Tiongkok kini menyediakan fasilitas seperti jalur lari, taman rekreasi, serta area untuk berjalan kaki dan menari, yang membuat masyarakat lebih mudah mengakses aktivitas fisik sehari-hari.
“China berada di posisi yang sangat baik dengan fondasi yang kuat, terutama dalam membangun lingkungan yang memudahkan warga untuk berolahraga,” kata Taylor setelah menandatangani surat pernyataan niat (letter of intent/LoI) dengan Institut Ilmu Olahraga Tiongkok (China Institute of Sport Science). Ia menyoroti berbagai inisiatif yang dilakukan, mulai dari kebijakan nasional hingga peningkatan infrastruktur ruang terbuka.
Dalam konteks ini, Taylor menyoroti peran pemerintah Tiongkok dalam mengintegrasikan olahraga ke dalam pembangunan nasional. “Komitmen Pemerintah dalam Rencana Lima Tahun ke-15 untuk Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional sangat jelas, dengan penekanan pada kesehatan sebagai prioritas utama,” tambahnya. Menurutnya, Tiongkok berusaha memastikan bahwa olahraga tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi juga dipandang sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Contoh Nyata: Olympic Forest Park
Sebagai bukti konkrit, Taylor mengungkapkan pengalaman di Taman Hutan Olimpiade Beijing. “Di tempat ini, Anda akan menemukan ruang yang selalu ramai, dengan banyak orang melakukan berbagai jenis olahraga setiap akhir pekan, seperti lari, berjalan, atau bahkan panjat tebing,” jelasnya. Taman tersebut dianggap sebagai contoh bagus dalam mengubah area kota menjadi ruang yang bermanfaat untuk kesehatan fisik.
“Pada 8 Agustus 2024, tepatnya dalam Hari Kebugaran Nasional Tiongkok, kita bisa melihat bagaimana taman-taman seperti ini menjadi pusat kegiatan masyarakat,” katanya. Menurut Taylor, keberadaan tempat seperti Olympic Forest Park menunjukkan upaya Tiongkok untuk menggabungkan keindahan alam dengan manfaat kesehatan.
Selain itu, Taylor juga memuji pengembangan layanan sewa sepeda yang mendukung kebiasaan bersepeda di berbagai kota. “Dua puluh tahun lalu, bersepeda untuk pergi ke tempat kerja adalah hal yang mustahil. Namun kini, berkat infrastruktur sepeda yang semakin lengkap, jutaan orang dapat menikmati olahraga ini secara mudah,” ujarnya. Layanan ini dianggap sebagai bagian dari inovasi untuk mendorong mobilitas sehat.
Data WHO: Tantangan Global dalam Aktivitas Fisik
Menurut data yang diungkapkan oleh WHO, kurangnya aktivitas fisik masih menjadi ancaman utama kesehatan global. Diperkirakan 31 persen dari populasi orang dewasa di seluruh dunia, atau sekitar 1,8 miliar orang, tidak memenuhi standar aktivitas fisik yang direkomendasikan. Angka ini meningkat menjadi 80 persen di kalangan remaja.
“Setiap tahun, sekitar 830.000 kasus kematian akibat penyakit tidak menular dikaitkan dengan kurangnya kegiatan fisik,” imbuh Taylor. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam olahraga adalah solusi penting untuk mengatasi masalah tersebut.
Dalam konteks ini, Tiongkok dianggap sebagai negara yang telah melakukan inisiatif signifikan. Taylor menyatakan bahwa upaya negara tersebut dalam membangun lingkungan yang mendorong olahraga bisa menjadi contoh untuk negara lain, terutama yang memiliki tantangan serupa dalam akses fasilitas kesehatan.
Penguatan Komunitas Melalui Olahraga
Taylor juga menyoroti integrasi antara layanan kesehatan dan olahraga di tingkat komunitas. “Dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan, masyarakat bisa memperoleh informasi tentang kondisi tubuh mereka, lalu beralih ke aktivitas fisik yang sesuai untuk memperbaikinya,” jelasnya. Inisiatif seperti ini dianggap sangat efektif dalam meningkatkan keterlibatan warga secara langsung.
“Kini, banyak orang memiliki kesempatan 20 atau 30 menit setiap hari untuk berolahraga, yang sebelumnya sering digunakan untuk kegiatan digital di media sosial,” tambah Taylor. Menurutnya, perubahan pola ini menunjukkan bahwa olahraga tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga menambah kesenangan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan berbagai langkah tersebut, Tiongkok mencoba menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Taylor berharap inisiatif-inisiatif ini bisa menjadi inspirasi bagi negara-negara lain, terutama yang ingin meningkatkan kualitas hidup masyarakat tanpa mengorbankan kesehatan. “Olahraga tidak hanya menyehatkan, tetapi juga menyenangkan,” pungkasnya. Hal ini menjadi kesimpulan dari kritik yang diajukan oleh pejabat WHO terhadap upaya Tiongkok dalam mendorong aktivitas fisik.
