WHO tegaskan wabah hantavirus di kapal pesiar bukan awal pandemi
WHO Tegaskan Wabah Hantavirus Di Kapal Pesiar Bukan Awal Pandemi
WHO tegaskan wabah hantavirus di kapal – Jenewa, 7 Mei 2023 — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam konferensi pers hari ini menyatakan bahwa klaster wabah hantavirus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik tidak menandai dimulainya pandemi seperti yang diakibatkan virus corona (SARS-CoV-2). Penegasan ini diberikan oleh Maria Van Kerkhove, kepala bidang kesiapsiagaan dan pencegahan epidemi serta pandemi di WHO, yang memastikan bahwa situasi saat ini tidak setara dengan epidemi global yang dimulai pada 2020 lalu.
Konteks Wabah di MV Hondius
Pada awal April, kasus hantavirus yang mematikan tercatat di antara penumpang kapal pesiar MV Hondius, yang berlayar dari Korsika ke Portugal. Puluhan orang terinfeksi, dengan sebagian mengalami gejala parah hingga kematian. Namun, WHO mengklaim bahwa penyebaran virus ini berbeda secara mendasar dari pola penularan virus corona, yang menyebar melalui droplet dan kontak dekat. Hantavirus, kata Van Kerkhove, lebih berpotensi menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh hewan pengerat seperti tikus.
“Ini bukan markah awal pandemi,” ujar Van Kerkhove dalam pernyataan resmi. “Situasi ini sangat berbeda dari apa yang terjadi enam tahun lalu, ketika virus corona menyebar dengan cepat antar manusia.”
Van Kerkhove menambahkan bahwa hantavirus memiliki mekanisme penularan yang unik. “Sebagian besar strain hantavirus tidak menular secara langsung dari manusia ke manusia,” jelasnya. Ia menjelaskan bahwa virus ini sering kali ditemukan di daerah terpencil, khususnya di Asia Tenggara, Amerika Selatan, dan Afrika. Contoh terkenal termasuk wabah hantavirus yang mengguncang Tiongkok pada 2003, yang menyebabkan ratusan kematian di kota Wuhan.
Pengertian Hantavirus
Hantavirus termasuk dalam keluarga Bunyaviridae, yang berbeda dari virus corona yang tergolong dalam familinya Coronaviridae. Meski kedua virus ini menyebabkan penyakit menular, pola penyebarannya jauh lebih sederhana. Hantavirus mengandalkan keterlibatan hewan pengerat, terutama tikus, sebagai reservoir utama. Penyebaran terjadi saat manusia terpapar feses, air liur, atau kotoran hewan tersebut, misalnya melalui inhalasi partikel kecil yang bercampur udara atau kontak langsung dengan permukaan terkontaminasi.
Dalam kasus MV Hondius, kemungkinan penularan terjadi karena penumpang terpapar hewan pengerat yang hadir di kapal. Berdasarkan laporan, sebagian besar kasus diakui sebagai infeksi akibat interaksi dengan tikus atau hewan lainnya, bukan melalui kontak antar manusia. Dengan demikian, WHO menekankan bahwa hantavirus tidak memiliki kapasitas untuk menyebar secara masif seperti SARS-CoV-2, yang menginfeksi jutaan orang di seluruh dunia.
“Penyebarannya tidak seperti virus corona. Ini sangat berbeda,” tambah Van Kerkhove. “Hantavirus membutuhkan kontak langsung dengan sumber infeksi alami, yaitu hewan pengerat, untuk menular ke manusia.”
Kasus hantavirus di kapal pesiar ini menimbulkan kekhawatiran karena mengingatkan kembali tentang keberadaan penyakit yang dapat menyebar dari hewan ke manusia. Namun, Van Kerkhove menegaskan bahwa hal ini tidak berarti bahwa hantavirus akan menjadi ancaman serupa dengan pandemi yang sedang berlangsung. “Kita harus memahami bahwa hantavirus dan virus corona termasuk dalam kategori berbeda,” katanya. “Kedua virus ini memang berbahaya, tetapi potensinya untuk menyebar secara global berbeda.”
Perbandingan dengan Pandemi Sebelumnya
WHO juga mengingatkan bahwa pandemi SARS-CoV-2 tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari serangkaian klaster penyebaran yang berkembang di berbagai wilayah. Dalam masa transisi awal, jumlah kasus hantavirus di MV Hondius terasa lebih besar dibandingkan wabah lokal di daerah pedesaan, tetapi tidak memiliki potensi untuk menjadi pandemi global.
Van Kerkhove menyebut bahwa hantavirus cenderung lebih stabil dalam lingkungan dan membutuhkan kondisi tertentu untuk menyebar. Contohnya, suhu dan kelembapan di sekitar kapal pesiar mungkin menciptakan lingkungan yang memudahkan penularan, tetapi itu tidak berarti bahwa virus ini bisa menyebar secara massal seperti SARS-CoV-2. Dalam konteks pandemi, WHO menjelaskan bahwa keberhasilan penyebaran virus tergantung pada efisiensi dalam menular ke manusia, laju reproduksi, dan durasi inkubasi.
Secara teknis, hantavirus menginfeksi manusia melalui partikel virus yang terbawa udara, terutama ketika hewan pengerat menginfeksi tubuh mereka melalui tikus yang berkeliaran di kapal. Penelitian menunjukkan bahwa virus ini bisa menetap di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar selama beberapa hari, sehingga meningkatkan risiko infeksi. Namun, angka penularan antarmanusia tetap rendah dibandingkan virus corona.
Kesiapan dan Pengendalian
Menghadapi ancaman wabah, WHO meminta pihak terkait di Eropa dan Afrika untuk terus memantau situasi di daerah-daerah yang rawan infeksi hantavirus. Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara tersebut telah meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang menyebar dari hewan ke manusia, terutama setelah kejadian serupa di Asia Tenggara. Pihak berwenang di beberapa wilayah telah menerapkan kebijakan pencegahan, seperti pemeriksaan hewan pengerat di lingkungan makanan dan pengendalian serangga yang menjadi vektornya.
Van Kerkhove menekankan bahwa wabah hantavirus di kapal pesiar bukanlah tanda akan munculnya pandemi baru, tetapi lebih mirip dengan klaster penyakit yang terjadi secara sporadis. “Kita perlu membedakan antara wabah lokal dan pandemi global,” katanya. “Ini adalah kasus isolasi yang terjadi di lingkungan tertentu, bukan peristiwa yang bisa menyebar ke seluruh dunia seperti yang kita alami dengan SARS-CoV-2.”
Penegasan WHO ini bertujuan untuk mencegah kepanikan di masyarakat. Meskipun hantavirus memiliki tingkat keparahan yang tinggi, risiko penularannya terbatas. Untuk memastikan keselamatan, penumpang kapal pesiar dianjurkan untuk menghindari kontak dengan hewan pengerat, terutama jika mereka berada di lingkungan yang kumuh atau belum terkendali. Dengan mengetahui mekanisme penularan yang berbeda, masyarakat dapat lebih siap menghadapi kemungkinan wabah serupa di masa depan.
Dalam kesimpulan, Van Kerkhove mengingatkan bahwa WHO terus memantau kejadian penyakit menular di seluruh dunia. “Pandemi seperti yang kita alami sekarang adalah fenomena khusus, dan hantavirus hanyalah satu dari banyak penyakit yang perlu diwaspadai,” katanya. “Tetapi ini bukan awal dari hal yang sama.”
