Solving Problems: Lutesha ceritakan keseruan syuting film “Cerita Lila”

Lutesha Ceritakan Keseruan Syuting Film “Cerita Lila”

Solving Problems – Di Jakarta, aktris Lutesha berbagi pengalaman tak terlupakan selama proses produksi film drama horor berjudul “Cerita Lila.” Proyek ini menjadi momen penting dalam karier perempuan berusia 29 tahun tersebut, yang memadukan tantangan akting dengan elemen kebingungan dan kegembiraan. Lutesha memerankan tokoh Tari, seorang karakter yang terlibat dalam petualangan arwah gadis kecil bernama Lila, yang berusaha mencari saudari kembarnya, Lili. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 18 Juni 2026, dan menghadirkan sejumlah aktor ternama, seperti Firzanah Alya, Myesha Lin, Shareefa Daanish, Sara Wijayanto, serta Wisnu Hardana.

Adegan Tantangan Emosional

Lutesha mengungkap bahwa adegan tertentu selama syuting memicu kegembiraan dan kepuasan terbesar. “Adegan yang paling mengesankan adalah saat karakter Tari terjebak dalam pengaruh roh Rahma,” katanya dalam konferensi pers yang berlangsung di Jakarta, Jumat lalu. Di adegan tersebut, Tari harus mengejar anaknya yang diperankan oleh Myesha Lin, sambil menghadapi tekanan spiritual yang menyebabkan kebingungan. Lutesha menuturkan bahwa adegan ini membutuhkan koordinasi ketat antara tim produksi dan aktor, terutama dalam menciptakan kesan ketakutan yang mendalam.

“Bagi saya, momen paling menarik adalah ketika karakternya harus mengejar anaknya sambil mengalami kekacauan mental akibat roh Rahma,” ujar Lutesha.

Masalah kreatif ini juga diakui sebagai ujian dalam mengekspresikan emosi secara akurat. “Saya sempat merasa suaranya hilang setelah melakukan beberapa adegan kesurupan,” tambahnya. Meski mengalami kesulitan, Lutesha tetap berusaha memberikan performa terbaik agar audiens bisa merasakan ketegangan yang diinginkan sutradara. Ia menjelaskan bahwa tantangan utama bukan hanya suasana mencekam, melainkan kemampuan untuk menyampaikan perasaan yang kompleks melalui gerak dan ekspresi.

Koordinasi dengan Tim Produksi

Salah satu pengalaman unik yang diingat Lutesha adalah saat harus bermain sambil membawa kamera. “Adegan tersebut membutuhkan keseimbangan antara akting dan teknik pengambilan gambar,” katanya. Ia mengatakan bahwa kamera yang diperlengkapi dengan perangkat berat memengaruhi mobilitas, dan setiap langkah harus diatur agar tidak mengganggu kesan dramatis. “Kamera harus selalu mengikuti gerak saya, dan itu membutuhkan komunikasi terus-menerus dengan tim kamera,” imbuhnya.

“Bermain sambil membawa kamera jadi seperti berlari di tengah badai, tapi itu membuat performa lebih hidup,” tutur Lutesha.

Sebagai aktris yang juga berprofesi sebagai model, Lutesha menyadari bahwa peran Tari membutuhkan penyesuaian fisik dan mental. Ia menekankan bahwa proses syuting melibatkan kolaborasi yang intens, termasuk diskusi tentang alur cerita dan karakter. “Saya terus mengeksplorasi perasaan Tari, mulai dari kebingungan hingga ketakutan yang mengguncang,” katanya. Upaya ini membantu membangun hubungan emosional antara karakter dan penonton, yang menjadi inti dari film ini.

Kisah Lila dan Sahabatnya

Sebagai bagian dari cerita, Lila terus memperjuangkan pencarian saudari kembarnya, Lili, yang belum ditemukan. Setelah Nia, yang diperankan oleh Myesha Lin, dan ibunya pindah ke rumah yang menjadi tempat tinggal Lila, persahabatan antara keduanya mulai terbentuk. “Percakapan dan interaksi antara Nia dan Lila jadi kunci untuk mengungkap misteri di balik kisah ini,” ujar Lutesha. Dalam perjalanan mencari Lili, mereka menemukan rahasia kelam yang tersembunyi di masa lalu, sekaligus menghadapi tantangan spiritual yang semakin rumit.

Di balik layar, Lutesha merasa bangga bisa menjadi bagian dari film yang menggabungkan elemen horor dan drama. “Saya tertarik dengan konsep cerita yang memadukan masa lalu dengan dunia nyata,” katanya. Ia juga menekankan bahwa peran Tari tidak hanya tentang keseruan, melainkan tentang kesetiaan dan keberanian dalam menghadapi ketidakpastian.

“Saya tidak pernah takut meskipun suasana terasa mencekam. Kegembiraan saat menciptakan adegan yang menegangkan justru mengimbangi kecemasan,” kata Lutesha.

Di sisi lain, Lutesha menyebut bahwa pemeran lainnya juga memberikan kontribusi signifikan. “Para pemain saling mendukung dan berbagi ide untuk menjaga konsistensi cerita,” ujarnya. Adegan di mana Tari harus berada dalam keadaan di luar kendali, misalnya, membutuhkan kerja sama yang luar biasa antara aktris dan crew. “Kemacetan yang timbul selama syuting justru membuat proses lebih dinamis,” katanya.

Konsep Film dan Perspektif Lutesha

Film “Cerita Lila” dirancang untuk menghadirkan pengalaman menegangkan dan memikat bagi penonton. Konsep ini berfokus pada hubungan antara dua saudara yang terpisah oleh waktu, dengan penekanan pada keinginan untuk memperbaiki kesalahpahaman masa lalu. “Cerita ini menggambarkan betapa kuatnya ikatan saudara, bahkan setelah kematian,” kata Lutesha. Ia juga menyebut bahwa alur film ini terasa seperti sebuah perjalanan ke dalam pikiran manusia, yang terkadang penuh dengan kegundahan dan keraguan.

Sebagai aktris, Lutesha berharap film ini bisa memberikan dampak emosional yang dalam. “Saya ingin penonton merasakan kehangatan dan kegelapan yang diwakili oleh karakter Tari,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pengalaman ini tidak hanya mengasah keterampilan aktingnya, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang kisah manusia dan kehidupan setelah kematian. “Ini menjadi perjalanan yang membuka mata dan hati,” pungkasnya.

Dengan penyesuaian peran dan pengalaman syuting yang penuh dinamika, Lutesha yakin “Cerita Lila” akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi para penggemar genre horor dan drama. Saat ini, ia sedang menantikan peluncuran film tersebut, yang diharapkan bisa menginspirasi audiens dan memberikan pengalaman menegangkan yang berkesan.