New Policy: Pacu ekonomi, Kepala BRIN dorong penguatan ekosistem riset dan inovasi

Pacu ekonomi, Kepala BRIN dorong penguatan ekosistem riset dan inovasi

Peran Strategis Riset dan Inovasi dalam Pembangunan Ekonomi

New Policy – Jakarta – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan bahwa penguatan ekosistem riset dan inovasi menjadi kunci utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam pidatonya di Jakarta, Kamis lalu, Arif menekankan bahwa kemajuan ekonomi suatu negara tidak terlepas dari kemampuan dalam melakukan riset, mengembangkan inovasi, dan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Menurutnya, di tengah perubahan global yang terus berlangsung, inovasi menjadi faktor penentu dalam menentukan daya saing bangsa.

“Inovasi berperan sebagai pendorong utama dalam pengembangan ekonomi. Oleh karena itu, penguatan pada bidang riset dan inovasi harus terus ditingkatkan untuk meningkatkan daya saing bangsa,” ujar Arif.

Tantangan dalam Peringkat Global dan Perbaikan yang Diperlukan

Arif menyoroti bahwa Indonesia, meski memiliki potensi, masih menghadapi tantangan dalam menempatkan diri di Global Innovation Index (GII). Pada tahun 2024, negara ini menempati peringkat 54, namun turun ke peringkat 55 pada tahun 2025. Penurunan tersebut, menurutnya, menjadi indikator bahwa percepatan penguatan ekosistem inovasi nasional diperlukan segera, baik dari segi kebijakan, pendanaan, maupun kerja sama lintas sektor.

Menurut Arif, tingkat inovasi dan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan yang erat. Negara dengan indeks inovasi tinggi, umumnya, mampu menciptakan produktivitas dan kesejahteraan yang lebih baik. “Negara yang memiliki tingkat inovasi tinggi cenderung menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Hal ini menegaskan bahwa riset dan inovasi memainkan peran kritis dalam mendorong kemajuan ekonomi,” tambahnya.

Strategi BRIN untuk Memperkuat Pusat Riset dan Inovasi

Sebagai pengelola utama ekosistem riset dan inovasi nasional, Arif menyatakan bahwa BRIN berkomitmen untuk memperkuat seluruh rangkaian proses, mulai dari riset dasar hingga hilirisasi teknologi. Ia menekankan bahwa riset fundamental tetap menjadi fondasi penting, meski hasilnya tidak selalu terlihat secara langsung. “Riset dasar memang tidak selalu menghasilkan dampak langsung, tetapi menjadi dasar bagi pengembangan teknologi di masa depan,” jelasnya.

Di samping itu, BRIN terus mendorong peningkatan produktivitas riset melalui publikasi ilmiah dan pengurusan paten. Meski jumlah paten di Indonesia telah menunjukkan tren peningkatan, negara ini masih tertinggal dari China, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. Arif menilai bahwa peningkatan dalam hal ini membutuhkan kolaborasi yang lebih intensif antara lembaga riset, sektor industri, serta pemerintah.

Focus pada Sektor Strategis untuk Penguatan Inovasi

Arif menyoroti bahwa inovasi yang diarahkan ke sektor strategis akan berdampak luas pada pertumbuhan ekonomi. Sektor-sektor yang menjadi prioritas, seperti pangan, energi, kesehatan, pertahanan, material maju, serta transformasi digital, diperlukan untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045. “Dengan fokus pada sektor-sektor ini, kita dapat memastikan inovasi berkontribusi secara signifikan pada kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional,” tambahnya.

Untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset, BRIN mengembangkan konsep Rumah Inovasi Indonesia sebagai pusat layanan terpadu. Platform ini bertujuan menghubungkan peneliti, industri, pemerintah, dan investor, sehingga mendorong proses hilirisasi inovasi secara efisien. Arif menegaskan bahwa pengembangan ini penting untuk memastikan bahwa produk riset tidak hanya dihasilkan, tetapi juga diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan sehari-hari.

Kesiapan Sosial dalam Menghadapi Percepatan Teknologi

Di sisi lain, Arif menyoroti pentingnya kesiapan sosial masyarakat dalam menghadapi kemajuan teknologi. Tanpa persiapan yang memadai, kecepatan transformasi teknologi berisiko menciptakan kesenjangan antara kemampuan teknologi dan kemampuan masyarakat dalam mengadopsinya. “Pengembangan teknologi harus diimbangi dengan kesiapan sosial. Jika tidak, akan muncul ketimpangan antara kemajuan teknologi dan kemampuan masyarakat untuk merasakan manfaatnya,” lanjutnya.

Untuk mengatasi hal ini, BRIN aktif mendorong pengembangan riset sosial. Kebutuhan ini bertujuan agar inovasi yang dihasilkan tidak hanya inovatif, tetapi juga mampu diterima secara luas oleh masyarakat. Arif menyatakan bahwa kesadaran masyarakat akan peran teknologi dalam mempercepat kemajuan ekonomi perlu ditingkatkan melalui pendidikan, pelatihan, dan komunikasi yang lebih efektif.

Upaya BRIN untuk Memastikan Kesinambungan dan Pertumbuhan Berkelanjutan

Arif juga menekankan bahwa penguatan ekosistem riset dan inovasi bukan hanya tugas sekarang, tetapi juga perlu dipertahankan secara berkelanjutan. Ia menyatakan bahwa BRIN akan terus berupaya memperbaiki sistem, meningkatkan aksesibilitas, dan menciptakan lingkungan yang mendukung kreativitas dan inisiatif para peneliti. “Kita harus membangun ekosistem yang dinamis dan adaptif agar mampu menyesuaikan dengan kebutuhan ekonomi di masa depan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Arif menyoroti bahwa keterlibatan sektor swasta menjadi elemen penting dalam mempercepat proses hilirisasi. Dengan sinergi antara lembaga penelitian dan industri, hasil riset dapat diimplementasikan lebih cepat, mengurangi risiko kegagalan, dan memperkuat ekonomi nasional. Ia juga berharap adanya keterlibatan masyarakat luas dalam mengapresiasi inovasi, baik melalui konsumsi produk inovatif maupun dukungan terhadap kebijakan yang memfasilitasi inovasi.

Harapan untuk Masa Depan dan Kemitraan yang Kuat

Dalam upayanya, BRIN berharap mampu menciptakan sistem yang lebih kuat dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor, termasuk kementerian, lembaga, dan masyarakat, menjadi kunci keberhasilan penguatan ekosistem riset dan inovasi. “Kita perlu membangun jaringan yang lebih luas, agar setiap kontribusi dapat diintegrasikan secara optimal dalam pembangunan ekonomi,” jelas Arif.

Arif juga berharap adanya