Solution For: Tim SAR temukan korban terakhir tabrakan kapal di perairan Kotabaru

Tim SAR Temukan Korban Terakhir Tabrakan Kapal di Perairan Kotabaru

Solution For – Setelah tiga hari berjalannya operasi pencarian, tim SAR gabungan akhirnya berhasil menemukan korban terakhir dari kecelakaan tabrakan kapal yang terjadi di perairan Desa Labuan Mas, Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Seorang pria berusia 23 tahun, Gilang, warga Desa Hilir Muara, Kecamatan Pulau Laut Sigam, ditemukan terpapar di wilayah pesisir pantai pada hari ketiga pencarian, sekitar pukul 17.08 Wita, dalam kondisi meninggal dunia. Pencarian yang berlangsung intensif melibatkan berbagai instansi, masyarakat, serta nelayan setempat, yang bekerja sama untuk menemukan korban yang hilang.

“Seluruh korban dalam kecelakaan pelayaran yang terjadi pada 17 Juni 2026 telah berhasil ditemukan dan dievakuasi,” ujar I Putu Sudayana, Kepala Kantor SAR Banjarmasin yang bertindak sebagai SAR Mission Coordinator (SMC) di Banjarmasin, Sabtu.

Dalam proses penyisiran, tim SAR telah menemukan tujuh korban, yaitu enam orang yang selamat dan satu orang yang berpulang. Gilang menjadi korban ketujuh yang sebelumnya dinyatakan hilang, sehingga tim terus melakukan upaya mencari hingga berhasil menemukan di hari ketiga operasi. Sebelumnya, lima korban lain telah ditemukan, dengan kondisi mereka dalam keadaan baik. Namun, pencarian terus dilakukan untuk memastikan semua korban ditemukan, termasuk Gilang.

Kolaborasi Lintas Instansi dalam Operasi SAR

Operasi SAR gabungan melibatkan sejumlah elemen kunci, seperti Rescue Pos SAR Kotabaru, Lanal Kotabaru, Polair Kotabaru, Polsek Sebuku, BPBD Kotabaru, serta nelayan lokal. Tim melakukan penyisiran di jalur laut dan wilayah pesisir pantai untuk menemukan korban yang belum teridentifikasi. Selama pencarian, berbagai alat pendukung dioperasikan, antara lain Rigid Inflatable Boat (RIB), kendaraan operasional, peralatan komunikasi, perlengkapan penyelamatan di air, peralatan selam, perangkat Starlink, dan bantuan lainnya yang dibutuhkan selama proses evakuasi.

Dalam upaya memastikan keberhasilan operasi, tim SAR bergerak secara terkoordinasi, memanfaatkan teknologi modern dan keterlibatan masyarakat setempat. Kerja sama antar instansi tersebut menjadi faktor utama dalam menemukan semua korban dalam waktu yang relatif singkat. Selain itu, keterlibatan nelayan yang memahami kondisi laut lokal juga memberikan kontribusi signifikan untuk mempersempit area pencarian.

Peran Cuaca dalam Tantangan SAR

Cuaca yang tidak menentu menjadi salah satu hambatan dalam operasi SAR. Perubahan kondisi cuaca, seperti angin kencang dan ombak tinggi, mengganggu proses penyisiran dan evakuasi. Namun, tim SAR tetap berupaya keras untuk melanjutkan pencarian, dengan menyesuaikan metode operasi sesuai situasi. Meski tantangan berat, semangat personel SAR tidak pernah surut, sehingga keberhasilan ditemukan pada hari ketiga pencarian.

Selama tiga hari, tim SAR tidak henti-hentinya bergerak, baik di laut maupun di darat. Mereka melakukan penyisiran melalui jalur yang berbeda, seperti menggunakan perahu dan drone untuk mencari tanda-tanda keberadaan korban. Keterlibatan BPBD Kotabaru juga membantu dalam menyediakan logistik dan koordinasi terkait kebutuhan operasional.

Penanganan Korban Setelah Ditemukan

Saat korban ditemukan, tim SAR segera melakukan evakuasi dengan memastikan keamanan selama proses. Jenazah Gilang kemudian dibawa ke Rumah Sakit Pangeran Jaya Sumitra untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut. Proses ini dilakukan secara hati-hati, mengingat kondisi korban yang dalam keadaan meninggal dunia.

Kepala Kantor SAR Banjarmasin, I Putu Sudayana, mengungkapkan rasa belasungkawa terhadap keluarga korban yang meninggal. “Kami menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga yang kehilangan anggota keluarga dalam musibah ini,” katanya. Ia juga mengapresiasi partisipasi seluruh pihak yang terlibat, termasuk aparat kepolisian yang melaporkan insiden tabrakan kapal sejak Rabu, 17 Juni 2026.

Dalam penjelasannya, I Putu Sudayana menekankan pentingnya keselamatan pelayaran. “Kami mengimbau seluruh pengguna jasa transportasi laut agar selalu mengutamakan keamanan dengan memperhatikan kondisi cuaca sebelum berlayar dan memastikan kelengkapan alat keselamatan,” ujarnya. Peringatan ini diharapkan bisa mencegah kecelakaan serupa terjadi di masa depan.

Proses Pencarian dan Evakuasi yang Berkelanjutan

Tabrakan kapal nelayan dengan kapal penumpang terjadi sejak Rabu, 17 Juni 2026, di perairan yang dipandu oleh nelayan setempat. Kejadian tersebut mengakibatkan tujuh korban, termasuk Gilang yang sempat dinyatakan hilang. Dengan berbagai upaya, tim SAR berhasil menemukan semua korban dalam waktu tiga hari, menunjukkan efisiensi dan komitmen dalam operasi penyelamatan.

Proses pencarian dan evakuasi melibatkan penggunaan teknologi modern seperti perangkat Starlink untuk komunikasi, serta peralatan selam yang digunakan untuk menyelam ke daerah yang sul