BMKG sebut lima daerah berstatus siaga kekeringan meteorologis di NTB
BMKG Sebut Lima Daerah Berstatus Siaga Kekeringan Meteorologis di NTB
BMKG sebut lima daerah berstatus siaga – Mataram – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan bahwa lima wilayah di Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini berada dalam kondisi siaga kekeringan meteorologis. Hal ini terjadi akibat siklus cuaca kering yang terus-menerus, yang dipengaruhi oleh fenomena iklim global El-Nino. Dalam pernyataannya, Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini menyebutkan bahwa durasi hari tanpa hujan secara umum termasuk dalam kategori menengah hingga sangat panjang, menciptakan risiko terhadap ketersediaan air di daerah-daerah tersebut.
Kecamatan Terdampak Kekeringan
Wilayah yang dianggap berada dalam level siaga kekeringan mencakup beberapa kecamatan di beberapa kabupaten. Di antaranya adalah Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat; Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah; serta Kecamatan Pringgabaya dan Suela, Kabupaten Lombok Timur. Selain itu, Kecamatan Hu’u dan Manggalewa di Kabupaten Dompu, serta Kecamatan Palibelo di Kabupaten Bima, juga termasuk dalam daftar wilayah yang membutuhkan perhatian khusus.
“Hari tanpa hujan berturut-turut secara umum pada kategori menengah hingga sangat panjang,” ujar Suci Agustiarini di Mataram, Sabtu.
Dalam laporan BMKG, catatan hari tanpa hujan paling ekstrem ditemukan di Stasiun Meteorologi Muhammad Salahuddin, Kabupaten Bima. Tempat ini mencatat 35 hari berturut-turut tanpa hujan, yang dikategorikan sebagai durasi sangat panjang. Selain itu, lembaga tersebut juga menetapkan sejumlah kecamatan lain, seperti di Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, dan Kota Bima, dalam level waspada kekeringan meteorologis. Daerah-daerah ini perlu melakukan pengawasan lebih ketat terhadap ketersediaan air bersih.
Analisis Iklim Global
Berdasarkan pemantauan terakhir, BMKG mencatat bahwa Indeks Oseanografi Dalam (IOD) berada dalam kondisi negatif dengan nilai minus 0,49. Fenomena ini menunjukkan bahwa wilayah Samudra Hindia sedang mengalami kekeringan yang memengaruhi hujan di Indonesia. BMKG memproyeksikan bahwa IOD berpotensi berpindah ke kondisi positif mulai bulan Agustus hingga Desember 2026, yang bisa memengaruhi pola cuaca di masa depan.
Dalam hal anomali Suhu Permukaan Laut (SST), wilayah Nino3.4 menunjukkan ENSO (El-Nino-Southern Oscillation) berada dalam kategori El-Nino Moderat dengan indeks +1,40. Fenomena El-Nino ini telah terjadi sejak beberapa bulan lalu dan diperkirakan akan terus berlangsung hingga akhir tahun 2026. Suci menambahkan bahwa ada kemungkinan 86 persen untuk ENSO meningkat menjadi El-Nino kuat, sementara peluang 100 persen untuk tetap stabil pada level moderat.
Kemungkinan Dampak Kekeringan
Kondisi kekeringan yang terus berlanjut berpotensi menimbulkan berbagai dampak di NTB. Selain mengancam ketersediaan air bersih, fenomena ini juga dapat memengaruhi pertanian dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Terutama di daerah-daerah yang bergantung pada pertanian sektor pertanian, keterlambatan hujan bisa mengurangi hasil panen dan mengganggu kebutuhan air untuk kegiatan sehari-hari.
Dalam periode dasarian III Juni 2026, atau 21-30 Juni, BMKG memperkirakan bahwa peluang hujan masih terbatas, dengan rata-rata lebih dari 20 milimeter per dasarian. Namun, probabilitas hujan mencapai sekitar 10 hingga 40 persen di beberapa bagian Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Meski begitu, kondisi ini memperkuat peringatan siaga dan waspada kekeringan di wilayah NTB.
Imbauan BMKG untuk Masyarakat
Menyikapi situasi tersebut, BMKG memberikan imbauan kepada masyarakat untuk menggunakan air secara bijak. Suci menekankan bahwa peningkatan penggunaan air wajib dilakukan guna mengantisipasi krisis yang bisa terjadi akibat luasnya wilayah yang masuk dalam status siaga dan waspada. Selain itu, lembaga ini juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan, lahan, maupun permukiman.
Kebakaran yang dipicu oleh kondisi kering bisa merusak lingkungan dan mengganggu kehidupan masyarakat. BMKG menyarankan untuk menghindari pembakaran sembarangan serta tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan. Peringatan ini penting terutama di daerah-daerah yang rentan terhadap kekeringan, seperti yang terjadi di beberapa kecamatan NTB.
Hasil Pemantauan BMKG
Hasil pemantauan BMKG menunjukkan bahwa kondisi iklim di NTB terus berubah sesuai dinamika El-Nino. Dengan indeks IOD negatif, pola hujan bisa menjadi lebih kering di beberapa wilayah. Suci menjelaskan bahwa pergeseran IOD ke kondisi positif akan menjadi faktor yang bisa memperbaiki kondisi cuaca, tetapi hingga saat ini, dampak El-Nino masih dominan.
Kondisi ENSO moderat juga menjadi indikator bahwa El-Nino akan berdampak signifikan terhadap pola hujan di Indonesia. BMKG memprediksi bahwa fenomena ini akan berlangsung hingga akhir tahun 2026, dengan kemungkinan menjadi lebih kuat jika indeksnya terus meningkat. Hal ini memperkuat perlunya kehati-hatian dalam pengelolaan sumber daya air di NTB.
Dalam rangka mengatasi kekeringan, BMKG menyarankan masyarakat untuk mengoptimalkan penggunaan air dalam rumah tangga, pertanian, dan industri. Peringatan ini juga mencakup dorongan untuk meningkatkan infrastruktur penampungan air dan mengelola sumber daya air secara lebih rasional. Selain itu, pemerintah daerah diminta untuk terus memantau kondisi cuaca dan mempersiapkan rencana mitigasi jika kekeringan berlanjut.
El-Nino, sebagai fenomena iklim global yang terjadi secara periodik, memengaruhi pola hujan di seluruh dunia. Di Indonesia, efeknya terasa lebih kuat, terutama di wilayah yang beriklim tropis. BMKG meminta masyarakat tetap waspada dan memperkuat kesiapan menghadapi perubahan cuaca yang bisa berdampak signifikan terhadap kehidupan sehari-hari. Dengan pemantauan terus-menerus dan respons yang cepat, wilayah NTB bisa mengurangi risiko kekeringan serta dampak negatifnya.
