Solving Problems: Mahasiswa tampilkan Tari Gotong Royong Klasik yang hampir punah di PKB
Persembahan Tari Gotong Royong Klasik di PKB 2026: Upaya Melestarikan Budaya Tari Bali
Solving Problems – Denpasar, Jumat – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tari Bandha Iswari dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar menampilkan Tari Gotong Royong Klasik dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Tarian ini menggambarkan kehidupan masyarakat Bali di masa lampau dan kini tengah mengalami risiko kepunahan. Kesenian yang disajikan menjadi perhatian utama para pengunjung, karena menghadirkan cerita yang tidak hanya menyentuh emosi, tetapi juga mengenalkan warisan budaya yang kurang dikenal secara luas.
Konsep Pementasan yang Unik dan Bermakna
Tari Gotong Royong Klasik memperlihatkan nuansa kehidupan masa lalu yang sering kali terlupakan dalam arus kehidupan modern. Pementasan ini didasari oleh keinginan untuk menyampaikan nilai-nilai gotong royong yang kental dalam budaya Bali. “Gotong royong sebagai bagian dari tari Bali memiliki makna mendalam, karena mencerminkan kehidupan sosial dan spiritual masyarakat kuno,” jelas Ni Putu Anggi Permatasari, Ketua Umum UKM Tari Bandha Iswari, saat berbicara tentang tujuan mereka.
“Kami bertujuan untuk mengenalkan tarian-tarian yang belum populer kepada masyarakat, serta berharap pementasan berjalan lancar dan ajang PKB 2026 serta ke depannya menjadi lebih baik lagi,” ujar Anggi.
Pementasan yang berjudul “Nitya Praba Ing Lango” ini mengisahkan sejarah karya Maestro I Nyoman Kaler di Karang Masdjati Pedungan pada dekade 1950-an. Melalui gerakan-gerakan tari yang penuh makna, penari menghadirkan narasi tentang perjalanan seniman terkenal tersebut dan kontribusinya terhadap kekayaan seni Bali. Selain itu, tarian ini juga mengangkat kisah sejarah dari Karangasem, yang selama ini kurang mendapat perhatian dari seniman muda.
Rekonstruksi Karya Klasik untuk Generasi Masa Kini
Melalui upaya rekonstruksi, UKM Tari Bandha Iswari berusaha memperkenalkan kembali karya-karya lama yang mulai luntur dari ingatan publik. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk edukasi terhadap generasi muda, agar mereka memahami keanekaragaman seni budaya Bali. “Kami ingin mengeksplorasi kembali tarian klasik yang belum banyak dikenal, agar warisan ini tetap hidup dan tidak punah,” kata Anggi.
Perwakilan dari dunia akademik ini memastikan bahwa setiap gerakan tari diatur secara rapi dan bermakna. Dalam latihan yang berlangsung intensif selama sebulan, tim artistik menghadapi tantangan mengatur waktu antara perkuliahan dan pementasan. Namun, dengan konsistensi dan kerja sama, mereka berhasil menghasilkan penampilan yang memadukan keaslian tari Bali dengan bentuk modern yang menarik.
Pelaku Seni dan Teknis Penyajian yang Mumpuni
Pementasan di PKB 2026 melibatkan 22 penari terampil dan 35 pemusik tradisional yang memperkuat suasana dramatis tarian. Setiap gerakan penari dan alunan musik diatur agar selaras dengan narasi yang ingin disampaikan. “Kombinasi antara seni tari dan musik tradisional memperkaya pengalaman penonton, sekaligus menunjukkan bagaimana seni Bali bisa tetap relevan di era sekarang,” tambah Anggi.
Dalam kesenian ini, tidak hanya Tari Gotong Royong yang ditampilkan, tetapi juga tiga karya legendaris lainnya dari Maestro I Nyoman Kaler. Ketiga tarian tersebut yaitu Tari Panji Semirang, Tari Cakra Wakre, dan Tari Rakyat. Setiap tarian memiliki cerita dan makna unik, yang melalui pementasan terintegrasi dengan tema gotong royong sebagai inti dari budaya Bali. Dengan cara ini, para penari mencoba menyampaikan pesan yang lebih luas tentang kebersamaan dan perjuangan dalam seni.
Kesan dan Apresiasi dari Publik
Pementasan di PKB 2026 memperoleh respons positif dari para pengunjung. Mereka menyambut baik upaya UKM Tari Bandha Iswari dalam menghidupkan kembali tarian klasik yang hampir dilupakan. “Penampilan ini menunjukkan bagaimana seni tradisional bisa diadaptasi tanpa kehilangan ciri khasnya,” puji seorang penonton yang hadir di acara tersebut.
Anggi menjelaskan bahwa persembahan ini menjadi sarana untuk mengenalkan khazanah seni Bali kepada kalangan yang lebih luas. “Kami harap tarian ini tidak hanya dilihat sebagai hiburan, tetapi juga menjadi wawasan baru tentang kehidupan masyarakat Bali di masa lalu,” imbuhnya. Dengan mengangkat kisah sejarah dan menggabungkannya dengan teknik penyajian modern, pementasan ini diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk mengenal seni tradisional secara lebih mendalam.
Langkah Strategis untuk Masa Depan
Dalam persiapan pementasan, tim artistik UKM Tari Bandha Iswari memperhatikan detail setiap elemen karya. Mereka tidak hanya mempelajari teknik tari, tetapi juga memahami konteks sejarah dan filosofi di balik setiap gerakan. “Mempelajari dan memahami makna tarian adalah langkah penting agar penyajian tidak sekadar meniru, tetapi benar-benar mempersembahkan inti kebudayaan Bali,” tutur Anggi.
Dengan menghadirkan tarian klasik dalam format yang lebih menarik, UKM Tari Bandha Iswari mencoba mengubah persepsi publik terhadap seni tradisional. Mereka juga berharap kegiatan seperti PKB bisa menjadi platform yang lebih luas untuk melestarikan seni Bali. “Kami percaya bahwa PKB tidak hanya ajang pertunjukan, tetapi juga ruang bagi pengembangan seni secara berkelanjutan,” pungkas Anggi.
Tari Gotong Royong Klasik yang dipertunjukkan di PKB 2026 menjadi simbol dari upaya mempertahankan warisan budaya Bali. Dengan melibatkan mahasiswa sebagai pelaku utama, pementasan ini juga menunjukkan betapa pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan seni tradisional. Kesempatan ini diharapkan menjadi awal dari perubahan yang lebih besar, baik dalam penghargaan terhadap seni Bali maupun dalam penguasaan keterampilan yang terkait dengan budaya.
Di sisi lain, pementasan ini juga memberikan pelajaran bahwa keunikan seni tradisional bisa tetap relevan jika diadaptasi dengan gaya modern. “Dengan menampilkan tarian klasik di panggung modern, kami ingin menunjukkan bahwa seni Bali bisa menjadi bagian dari kontekstualisasi kehidupan sekarang,” jelas Anggi. Pemikiran ini menjadikan PKB 2026 bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga momentum untuk menciptakan inovasi yang tetap mengakar pada nilai-nilai tradisi.
