Faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko hipertensi pada usia muda
Faktor-Faktor Penyebab Hipertensi pada Usia Muda
Faktor faktor yang bisa meningkatkan risiko – Jakarta – Di tengah tren kehidupan modern yang semakin cepat, hipertensi tidak lagi menjadi penyakit yang hanya menyerang usia lanjut. Menurut dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, penyakit ini kini mulai menyebar ke kelompok usia muda. Dalam wawancara dengan ANTARA, dokter dari Rumah Sakit Universitas Indonesia ini menyoroti perubahan perilaku dan faktor-faktor yang turut memicu risiko tekanan darah tinggi pada generasi muda.
Kebiasaan Hidup Tidak Sehat sebagai Penyebab Utama
Dokter Anindia menjelaskan bahwa obesitas serta kebiasaan hidup tidak sehat menjadi pemicu utama hipertensi di usia muda. Kebiasaan seperti mengonsumsi makanan tinggi garam, minuman beralkohol, dan kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan tekanan darah secara signifikan. “Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang muda yang terbiasa mengabaikan asupan garam atau mengurangi olahraga karena kesibukan pekerjaan,” katanya. Hal ini berpotensi menyebabkan akumulasi lemak dalam tubuh dan gangguan pada sistem sirkulasi.
Salah satu faktor yang sering diabaikan adalah penggunaan minuman berenergi. “Minuman ini biasanya mengandung kafein dan gula dalam jumlah tinggi, yang bisa memengaruhi denyut jantung dan beban kerja jantung,” terang dr. Anindia. Ia menambahkan, jika dikonsumsi secara berkelanjutan, kandungan ini berisiko mengakibatkan perubahan jangka panjang pada tekanan darah. “Bahkan, kebiasaan ini bisa memicu kekakuan pembuluh darah, yang merupakan salah satu gejala awal hipertensi,” katanya.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023
Menurut dr. Anindia, angka kejadian hipertensi pada usia muda menunjukkan peningkatan signifikan. Data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 10 persen dari kelompok usia 18–24 tahun mengalami tekanan darah di atas normal. Angka ini meningkat menjadi 17 persen pada kelompok usia 25–30 tahun. “Pada dekade lalu, hipertensi biasanya ditemukan di usia 50-an, tapi kini banyak ditemukan pada usia 20 sampai 30-an tahun,” ujarnya.
Dr. Anindia menyebutkan bahwa tingkat prevalensi ini lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. “Tekanan darah di atas 140/90 mmHg sudah sering ditemukan pada remaja dan dewasa muda, bahkan sebelum usia 40 tahun,” imbuhnya. Faktor-faktor seperti pola makan, gaya hidup, dan kurangnya kesadaran akan kesehatan jantung berperan besar dalam kondisi ini. Ia menekankan bahwa hipertensi pada usia muda bukanlah hal yang mustahil, melainkan hasil dari akumulasi risiko yang terlewat.
Peran Perubahan Gaya Hidup dalam Pencegahan
Untuk mengatasi masalah ini, dr. Anindia menyarankan perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Ia menyebutkan bahwa adaptasi pola makan rendah garam, rutin berolahraga, serta menghindari rokok dan vape menjadi kunci utama. “Aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu bisa membantu menjaga keseimbangan metabolisme dan menurunkan risiko hipertensi,” katanya. Selain itu, mengatur berat badan agar tidak berlebihan juga menjadi faktor penting.
Dokter ini juga menyoroti peran penting dari pengetahuan masyarakat. “Banyak dari mereka yang belum menyadari bahwa kebiasaan kecil, seperti mengonsumsi makanan pedas atau minuman berenergi, bisa berdampak besar pada kesehatan jantung jangka panjang,” terangnya. Ia menambahkan bahwa perubahan gaya hidup yang konsisten dapat mengurangi risiko hipertensi secara signifikan. “Jika faktor risiko seperti obesitas dan stres bisa dikelola, maka tekanan darah dapat diatasi tanpa harus mengandalkan obat,” kata dr. Anindia.
Penggunaan Obat Anti-Hipertensi dan Konsultasi Medis
Meski perubahan gaya hidup penting, dr. Anindia menekankan bahwa konsultasi dengan dokter tetap diperlukan. Bagi individu yang memiliki tekanan darah tinggi meskipun sudah mengadopsi gaya hidup sehat, ia merekomendasikan penggunaan obat anti-hipertensi sesuai dengan kondisi pasien. “Dengan menyesuaikan dosis obat, pasien bisa bertahap meninggalkan penggunaannya jika penyebab utama adalah gaya hidup yang tidak baik,” katanya.
Dokter ini juga memperingatkan bahaya jika hipertensi tidak diatasi tepat waktu. “Hipertensi pada usia muda bisa memicu komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, atau gagal ginjal,” ujarnya. Dalam konteks ini, peningkatan kesadaran masyarakat dan penerapan kebiasaan hidup sehat menjadi solusi yang efektif. “Bukan hanya usaha individu, tetapi juga peran keluarga dan lingkungan sekitar dalam mendukung kesehatan jangka panjang,” tambah dr. Anindia.
Strategi Pencegahan yang Terukur
Menurut dr. Anindia, langkah-langkah pencegahan hipertensi pada usia muda perlu dilakukan secara terencana. Ia menyarankan pengukuran tekanan darah rutin sebagai alat deteksi awal. “Mengidentifikasi masalah ini lebih dini bisa menghindari dampak jangka panjang yang serius,” katanya. Selain itu, pendidikan tentang nutrisi dan manfaat olahraga perlu diberikan lebih luas, terutama di kalangan remaja.
Perubahan kecil, seperti mengurangi konsumsi garam atau mengganti minuman berenergi dengan air putih, bisa menjadi awal dari gaya hidup sehat. “Pendekatan ini perlu dijelaskan secara sederhana agar lebih mudah diterapkan oleh masyarakat,” kata dr. Anindia. Ia menegaskan bahwa kunci utama dari pencegahan hipertensi adalah kesadaran individu dan konsistensi dalam menjalani pola hidup seimbang.
Kelompok usia muda sering kali menganggap hipertensi sebagai penyakit yang “terlalu tua” untuk terkena. Namun, dr. Anindia menegaskan bahwa risiko ini bisa terjadi di mana saja jika faktor-faktor penyebab tidak diatasi. “Pola hidup sehat tidak hanya membantu mencegah hipertensi, tetapi juga mencegah berbagai penyakit lain yang terkait,” ujarnya. Dengan menggabungkan pola makan sehat, olahraga teratur, dan pengelolaan stres, usia muda bisa meminimalkan risiko hipertensi secara signifikan.
Perspektif Global tentang Hipertensi di Usia Muda
Menurut dr. Anindia, tren hipertensi pada usia muda bukan hanya fenomena lokal. Ia menyoroti bahwa data SKI 2023 sejalan dengan penelitian internasional yang menunjukkan peningkatan kejadian hipertensi di kalangan remaja dan dewasa muda. “Pola hidup yang kurang sehat seperti kurang tidur, stress kronis, dan kebiasaan konsumsi gula tinggi berdampak pada kesehatan jantung,” katanya. Ia menambahkan bahwa peningkatan kebiasaan ini terjadi karena pengaruh sosial dan lingkungan, termasuk gaya hidup komersial yang mengutamakan kecepatan daripada kesehatan.
Dokter ini menekankan bahwa hipertensi pada usia muda bisa diatasi dengan pendekatan holistik. “Selain perubahan gaya hidup, faktor genetik dan lingkungan juga perlu diperhatikan,” ujarnya. Ia menyebutkan bahwa individu dengan riwayat keluarga hipertensi harus lebih waspada dalam mengawasi asupan nutrisi dan aktivitas fisik. “Dengan dukungan dari keluarga dan komunitas, masyarakat muda bisa mengambil langkah-langkah preventif yang lebih efektif,” tambah dr. Anindia.
Menurut dr. Anindia, langkah-langkah pencegahan harus dimulai sejak
