Kombes Andi Sinjaya raih doktor lewat riset transformasi digital STIK
Daftar Isi
Perwira Polri Tempuh Gelar Doktor dengan Fokus pada Modernisasi Akademik Kepolisian
Programamal.com – Seorang perwira tinggi Polri baru saja menuntaskan perjalanan akademik tingkat doktoralnya dengan predikat cumlaude, kali ini melalui kajian yang menyentuh inti persoalan tata kelola pendidikan di lingkungan institusi keamanan negara. Kombes Pol Dr. Andi Sinjaya, S.H., S.I.K., M.H., resmi menyandang gelar Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor yang digelar di Sekolah Pascasarjana UNJ, Jakarta, pada Selasa (1/9). Sidang promosi tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ, Prof. Dr. Dedi Purwana ES, M.Bus.
Pencapaian ini bukan sekadar penambahan gelar di daftar riwayat hidup seorang pejabat kepolisian. Di balik prosesnya tersimpan upaya serius untuk menjawab tantangan nyata: bagaimana institusi pendidikan kedinasan yang telah puluhan tahun berjalan dengan mekanisme konvensional dapat beradaptasi terhadap tuntutan era Society 5.0 tanpa mengorbankan substansi pembentukan karakter dan kompetensi personel.
Disertasi yang Menyoroti Kesenjangan Integrasi Digital
Judul disertasi yang diangkat Andi Sinjaya berbunyi: “Model Transformasi Manajemen Akademik melalui Implementasi Teknologi Digital yang Berkelanjutan di Era Society 5.0 (Studi Kasus pada Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian/STIK Jakarta).” Kajian ini berpijak pada observasi langsung terhadap praktik operasional STIK Jakarta, tempat berbagai platform digital telah mulai diadopsi untuk mendukung layanan akademik.
Dalam penelitiannya, perwira yang kini mengemban tugas sebagai Pengawas Penyidikan di Bareskrim Polri mengidentifikasi sejumlah sistem yang sudah berjalan di lingkungan STIK, antara lain Computer Assisted Test (CAT), Learning Management System (LMS), Sistem Informasi Nilai Akademik (SINA), perpustakaan digital (e-library), mekanisme absensi berbasis kode batang (barcode), serta aplikasi e-Nimen. Temuan utamanya menunjukkan bahwa adopsi teknologi tersebut memang memberikan dampak positif, terutama dalam mempercepat proses administrasi dan meningkatkan transparansi penilaian akademik.
Akan tetapi, Andi Sinjaya juga mencatat kelemahan struktural yang cukup krusial. Sistem-sistem digital yang tersedia masih beroperasi secara terpisah-pisah, belum saling terhubung dalam satu ekosistem akademik yang utuh. Pemanfaatan LMS dan e-library, misalnya, dinilai belum mencapai potensi optimal karena ketiadaan integrasi lintas platform. Kondisi ini menciptakan inefisiensi ganda: beban administratif tetap tinggi, sementara manfaat teknologi tidak dapat dinikmati secara holistik oleh civitas akademika.
Model GADT sebagai Jawaban Strategis
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Andi Sinjaya merumuskan sebuah kerangka kerja yang ia beri nama Model GADT, singkatan dari Ghalib Academic Digital Transformation. Model ini dirancang bukan sekadar sebagai daftar rekomendasi teknis, melainkan sebagai arsitektur transformasi menyeluruh yang mengintegrasikan berbagai platform digital, infrastruktur pendukung, kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta mekanisme evaluasi ke dalam satu ekosistem akademik terpadu.
Arah kebijakan yang diusung melalui Model GADT melampaui sekadar percepatan tugas-tugas administratif. Visinya adalah membangun budaya akademik yang lebih efektif, efisien, transparan, dan berlandaskan data, dengan tetap menempatkan pengembangan karakter mahasiswa sebagai pilar yang tidak dapat dikompromikan. Dengan demikian, transformasi digital diposisikan sebagai alat penguatan substansi pendidikan, bukan pengganti nilai-nilai pembentukan perwira.
Gagasan ini diharapkan dapat menjadi acuan strategis bagi STIK Jakarta maupun institusi pendidikan kedinasan lain di Indonesia yang tengah menghadapi tekanan serupa untuk menyesuaikan tata kelola akademik dengan dinamika era Society 5.0, di mana manusia dan teknologi berinteraksi secara simbiosis dalam setiap aspek kehidupan.
Dukungan Institusional dari Puncak Polri
Pencapaian akademik Andi Sinjaya mendapat apresiasi langsung dari jajaran pimpinan Polri. Kabareskrim Polri Komjen Pol Drs. Syahardiantono, M.Si., menyampaikan sambutan yang diwakili oleh Karo Wassidik Bareskrim Polri Brigjen Pol Boy Rando Simanjuntak. Dalam kesempatan tersebut, langkah Andi Sinjaya dinilai sebagai kontribusi penting bagi pengembangan sumber daya manusia Polri, khususnya dalam dimensi penguatan kapasitas manajerial di sektor pendidikan internal.
“Pengembangan SDM Polri tidak dapat dilepaskan dari kualitas tata kelola pendidikan di dalamnya. Transformasi digital yang tepat sasaran akan memperkuat, bukan melemahkan, formasi karakter perwira,” demikian semangat yang disampaikan dalam sambutan tersebut.
Jejak Akademik dan Karier
Andi Sinjaya merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 2002. Sepanjang kariernya, ia juga menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan Sekolah Pimpinan Menengah (Sespimmen) Polri, dua lembaga yang menjadi jalur wajib bagi perwira yang hendak naik ke jenjang kepemimpinan strategis.
Di luar jalur pendidikan kepolisian, rekam jejak akademiknya cukup panjang. Ia sebelumnya meraih gelar Sarjana Hukum dan Magister Hukum dari Universitas Hasanuddin, Makassar, sebelum melanjutkan ke jenjang doktoral di bidang Ilmu Hukum melalui Universitas Brawijaya, Malang. Gelar Doktor Manajemen Pendidikan dari UNJ yang baru diraihnya melengkapi spektrum keilmuan yang ia bangun selama lebih dua dekade, menjadikannya salah satu perwira Polri dengan kombinasi kompetensi hukum, manajemen, dan teknologi informasi yang relatif lengkap.
Di tengah percepatan digitalisasi di berbagai sektor publik Indonesia, langkah seorang perwira tinggi untuk meneliti secara ilmiah bagaimana teknologi dapat diintegrasikan ke dalam ekosistem pendidikan kedinasan membawa implikasi yang melampaui satu institusi. Jika Model GADT dapat diadopsi dan diadaptasi secara proporsional, dampaknya berpotensi mempercepat modernisasi tata kelola akademik di seluruh lembaga pendidikan Polri, sekaligus menjadi rujukan bagi institusi kedinasan lain yang menghadapi tantangan serupa dalam konteks Society 5.0.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kombes Andi Sinjaya raih doktor lewat?
Kombes Andi Sinjaya raih doktor lewat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kombes Andi Sinjaya raih doktor lewat matter?
Kombes Andi Sinjaya raih doktor lewat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.