Dinsos Semarang kejar kuota siswa SD Sekolah Rakyat lewat jemput bola
Dinsos Semarang Intensifkan Upaya Meningkatkan Kuota Siswa SD Sekolah Rakyat
Program Jemput Bola Targetkan Pemenuhan 90 Siswa
Dinsos Semarang kejar kuota siswa SD Sekolah – Kota Semarang, Jumat, 26 Juni 2026 – Dinas Sosial Kota Semarang sedang melakukan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan jumlah siswa yang mendaftar di Sekolah Rakyat. Program ini dilakukan sebagai upaya memenuhi target kuota 90 siswa, meskipun hingga saat ini hanya sekitar 37 siswa yang berhasil terdaftar. Untuk mencapai tujuan tersebut, Dinsos bekerja sama dengan para pekerja sosial di masyarakat, dengan fokus pada keluarga yang kurang mampu berdasarkan data yang diperbarui secara berkala.
Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Agus Junaedi, mengungkapkan bahwa strategi jemput bola menjadi kunci dalam menjangkau calon siswa. Metode ini dilakukan dengan menyebar ke berbagai wilayah untuk memastikan informasi tentang sekolah rakyat sampai ke masyarakat. “Kami ingin memastikan bahwa seluruh keluarga yang memenuhi kriteria bisa mengakses pendidikan secara lebih mudah,” jelas Junaedi dalam wawancara yang dilakukan di Semarang, Jumat, 26 Juni 2026.
Kami menargetkan 90 siswa, tetapi hingga kini hanya 37 yang terdaftar. Untuk mengatasi hal ini, kami mengandalkan jemput bola dan kerja sama dengan para pekerja sosial,” kata Junaedi.
Sekolah Rakyat, yang merupakan salah satu lembaga pendidikan non-formal, dirancang sebagai solusi untuk meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin. Dinsos berupaya memastikan bahwa seluruh potensi siswa yang layak diidentifikasi dan didaftarkan. Pemetaan data yang terpadu menjadi dasar dalam menentukan prioritas, sehingga program ini bisa berjalan secara efektif.
Menurut Junaedi, pendekatan jemput bola dilakukan untuk mengatasi hambatan yang sering dialami oleh keluarga berpenghasilan rendah dalam mengikuti proses pendaftaran. “Banyak orang takut mengajukan permohonan karena takut ditolak atau tidak memahami prosedur,” tambahnya. Dengan kehadiran pekerja sosial yang sudah dikenal oleh masyarakat, Dinsos yakin strategi ini bisa meningkatkan jumlah pendaftar.
Program ini juga melibatkan komunitas lokal, termasuk para guru, tokoh masyarakat, dan organisasi nirlaba. Mereka berperan sebagai mediator dalam menjangkau keluarga yang belum terdokumentasi. “Kerja sama ini sangat vital, karena mereka yang berada di garda depan bisa memberikan informasi yang lebih tepat dan terpercaya,” ungkap Junaedi.
Selain itu, Dinsos juga melakukan sosialisasi melalui berbagai media, termasuk sosial media dan brosur yang disebar di area terpencil. “Kami mengharapkan partisipasi aktif dari masyarakat untuk mempercepat pencapaian target,” jelasnya. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengisi kuota, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak miskin.
Menurut data yang dihimpun, Sekolah Rakyat di Semarang masih menghadapi tantangan dalam menarik calon siswa. Meski terdapat 90 kuota, jumlah pendaftar masih jauh dari target. Hal ini disebabkan oleh kurangnya promosi dan kesadaran akan manfaat program tersebut. “Kami masih perlu berupaya lebih keras, terutama di daerah-daerah yang kurang terjangkau,” terang Junaedi.
Dinsos menargetkan peningkatan pendaftaran hingga mencapai 50% dari kuota dalam kurun waktu satu bulan ke depan. Untuk mendorong hal ini, mereka juga memberikan bantuan biaya pendidikan bagi keluarga yang memenuhi kriteria. “Selain itu, kami menyediakan pelatihan bagi para guru dan pengelola sekolah rakyat agar bisa memberikan layanan yang lebih optimal,” tambah Junaedi.
Menurut laporan dari tim pelaksana, program jemput bola telah mencapai beberapa wilayah dengan tingkat keberhasilan yang menjanjikan. Pada beberapa desa, Dinsos telah berhasil mendaftarkan sejumlah siswa dari keluarga miskin. “Hasilnya cukup baik, tetapi kami masih harus mengejar siswa yang belum teridentifikasi,” ujarnya.
Adapun Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) menjadi dasar utama dalam menentukan keluarga yang layak diikutsertakan. Data ini mencakup informasi tentang kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, dan kebutuhan spesifik setiap keluarga. Dengan memanfaatkan data tersebut, Dinsos bisa memprioritaskan keluarga yang paling membutuhkan.
Selain itu, Dinsos juga berupaya mengoptimalkan kerja sama dengan pihak-pihak lain, termasuk instansi pemerintah daerah dan organisasi masyarakat. “Kolaborasi ini akan mempercepat proses penerimaan siswa dan meningkatkan kualitas program,” jelas Junaedi. Ia menambahkan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan program ini secara berkala.
Dengan kegiatan jemput bola dan sosialisasi yang intens, Dinsos berharap bisa mencapai target penerimaan siswa dalam waktu dekat. Program ini juga diharapkan bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang ingin meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak miskin. “Kami yakin, dengan upaya yang konsisten, Sekolah Rakyat bisa menjadi solusi pendidikan yang inklusif,” tegas Junaedi.
Reporter dari Antaranews, Fx. Suryo Wicaksono, Sandy Arizona, dan Arsy Fitriady, menambahkan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat. “Masyarakat harus menjadi bagian dari solusi, bukan hanya penerima bantuan,” tutur mereka. Hal ini mendukung upaya Dinsos untuk membangun kepercayaan dan kemitrahan dengan masyarakat setempat.
