Key Discussion: Papua Selatan, WWF bahas sisa pangan jadi energi terbarukan
Papua Selatan, WWF Bahas Sisa Pangan Jadi Energi Terbarukan
Key Discussion – Jayapura, Papua Selatan – Dalam upaya meningkatkan pengelolaan sampah, Pemerintah Provinsi Papua Selatan melalui Dinas Ketenagakerjaan, Transmigrasi, Energi, dan Sumber Daya Mineral mengadakan lokakarya bersama World Wildlife Fund (WWF) Indonesia. Acara ini berfokus pada pemanfaatan limbah pangan sebagai sumber energi terbarukan, dengan harapan bisa mengurangi dampak lingkungan serta meningkatkan efisiensi pengelolaan sisa makanan di wilayah tersebut.
Kegiatan yang dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk pejabat daerah, pelaku usaha, dan lembaga swadaya, bertujuan membahas strategi terpadu untuk mengubah sampah organik menjadi energi. Guritno, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Papua Selatan, menjelaskan bahwa ini adalah langkah penting untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dalam mengelola limbah pangan dan organik secara efektif.
“Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah organik dan Food Loss and Waste (FLW) di daerah ini,” kata Guritno dalam siaran pers yang diterima Antara di Jayapura, Jumat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat untuk mendorong pengelolaan limbah pangan yang lebih berkelanjutan.
Guritno mengungkapkan bahwa metode pengolahan sampah organik saat ini masih mengandalkan pendekatan konvensional, seperti pembuangan ke tempat penampungan akhir. Dalam banyak kasus, limbah tersebut dibiarkan begitu saja setelah dikeluarkan, yang mengakibatkan pemborosan ruang dan meningkatkan emisi gas metana. Menurutnya, gas ini menjadi salah satu penyebab utama perubahan iklim, sehingga perlu diatasi dengan solusi yang lebih inovatif.
Menurut Guritno, sampah organik, terutama sisa makanan dari rumah tangga, pasar, kawasan wisata, serta sektor pertanian dan perkebunan, memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai energi terbarukan. Ia menjelaskan bahwa dengan teknik seperti pembuatan kompos atau pemanfaatan biomassa, limbah ini bisa diubah menjadi bahan bakar alternatif yang berguna bagi masyarakat setempat. “Sampah organik sebenarnya menyimpan energi yang bisa dimanfaatkan secara optimal,” tambahnya.
Dalam lokakarya tersebut, pihak pemerintah dan mitra menyepakati rencana kerja bersama, mulai dari wacana awal hingga implementasi proyek percontohan. Guritno menegaskan bahwa kolaborasi ini akan membuka peluang untuk mengembangkan sistem pengelolaan sisa pangan yang terintegrasi, berbasis data, dan teknologi tepat guna. “Dengan pendekatan ini, kita bisa menciptakan solusi yang berkelanjutan,” jelasnya.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat hukum adat dan lembaga pemasyarakatan, akan memastikan bahwa solusi yang diusulkan sesuai dengan kebutuhan lokal. “Kehadiran mereka memberikan perspektif unik terkait pengelolaan sampah di lingkungan adat,” kata Guritno. Ia juga menyebutkan bahwa lokakarya ini membuka ruang bagi diskusi mengenai kebijakan dan kebijakan teknis yang bisa diterapkan secara bersama.
WWF Indonesia, sebagai mitra dalam acara ini, memberikan dukungan teknis, fasilitasi, dan penguatan kapasitas bagi pihak daerah. Guritno mengapresiasi kontribusi lembaga tersebut dalam membantu pengelolaan sisa pangan dan sampah organik. “Kolaborasi ini menjadi contoh yang baik antara pemerintah daerah dan mitra pembangunan dalam menghadapi tantangan lingkungan,” ujarnya.
Dalam pembahasan, para peserta menyepakati beberapa langkah konkret. Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi pengolahan sampah yang ramah lingkungan, seperti penguraian anaerobik dan produksi biogas. Guritno menambahkan bahwa pihaknya berharap kerja sama ini bisa menjadi langkah awal dalam mewujudkan kota berkelanjutan di Papua Selatan. “Pendekatan ini tidak hanya mengurangi limbah tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi ekonomi lokal,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Guritno menyatakan bahwa pengelolaan sampah organik perlu didukung oleh data yang akurat dan analisis risiko yang memadai. Ia menyarankan penggunaan teknologi informasi untuk memantau pengolahan limbah secara real-time, sehingga bisa diambil keputusan yang tepat. “Dengan data yang terpadu, kita bisa membuat kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan lingkungan,” jelasnya.
WWF Indonesia, sebagai partner, berkomitmen untuk memberikan bantuan teknis dan pelatihan bagi pelaku usaha pengolahan sampah. Dalam beberapa tahun terakhir, lembaga tersebut telah bekerja sama dengan berbagai daerah untuk mengembangkan inisiatif serupa. “Kita melihat potensi besar dari limbah pangan, terutama di wilayah yang memiliki sumber daya alam dan pertanian yang luas,” kata salah satu perwakilan dari WWF.
Kegiatan ini juga menjadi platform untuk membangun kemitraan yang lebih kuat. Guritno menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat hukum adat akan menjadi kunci suksesnya. “Kita perlu memperkuat sinergi antar sektor agar semua pihak bisa berkontribusi secara optimal,” tambahnya. Selain itu, pihaknya juga berharap lembaga pendidikan bisa terlibat dalam sosialisasi teknologi dan pemanfaatan sisa pangan sebagai energi.
Dalam jangka panjang, pengelolaan sisa pangan yang terpadu bisa membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Guritno mengatakan bahwa daerah ini memiliki potensi untuk menjadi model pengelolaan sampah yang inovatif. “Kita ingin menunjukkan bahwa sampah bukan lagi menjadi masalah, tapi bisa diubah menjadi peluang,” ujarnya.
Pembahasan dalam lokakarya tersebut menyoroti pentingnya partisipasi aktif dari masyarakat. Guritno menyampaikan bahwa masyarakat hukum adat memiliki peran kunci dalam memastikan bahwa program ini sesuai dengan adat setempat. “Keterlibatan mereka akan memudahkan proses implementasi di tingkat masyarakat,” jelasnya. Selain itu, pihaknya juga mengajak masyarakat umum untuk ikut serta dalam menjaga lingkungan dengan cara memilah sampah dan memanfaatkan sisa makanan secara bijak.
Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari perubahan besar dalam cara pengelolaan sampah di Papua Selatan. Guritno menyata
