Ekonom: Orientasi ekonomi RI harus “outward looking” agar rupiah kuat
Daftar Isi
Rupiah Rentan: Didik J Rachbini Soroti Ketergantungan Ekonomi Domestik dan Kelemahan Cadangan Devisa
Programamal.com – Ekonom – Stabilitas nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan tajam ketika Ekonom Senior Didik J Rachbini menegaskan bahwa arsitektur kebijakan ekonomi Indonesia selama ini terlalu condong ke dalam negeri. Dalam pandangannya, tanpa penguatan sektor eksternal secara struktural, Bank Indonesia akan kesulitan menjaga rupiah tetap kokoh di tengah tekanan global. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Minggu, dan langsung memicu diskusi mengenai arah kebijakan moneter serta perdagangan luar negeri ke depan.
Perputaran Domestik Bukan Fondasi Mata Uang yang Kokoh
Didik menjelaskan bahwa ekonomi Indonesia yang berputar semata-mata dalam lingkaran domestik—ditopang oleh populasi besar dan kelas menengah yang terus melebar—sebenarnya merupakan titik lemah fundamental. Ketika jutaan konsumen membeli barang dan jasa di dalam negeri, transaksi tersebut hanya menghasilkan perputaran rupiah tanpa mendatangkan satu pun dolar baru ke dalam sistem keuangan nasional.
Ia mengakui bahwa skala aktivitas domestik memang menciptakan jutaan lapangan kerja, menghasilkan laba korporasi, dan mengerek angka produk domestik bruto. Namun, tanpa aliran devisa segar dari luar, fondasi nilai tukar tetap rapuh. Rupiah yang ditopang hanya oleh permintaan dalam negeri tidak memiliki penyangga eksternal yang memadai.
“Sementara itu, ekonomi perlu mengembangkan kebijakan ekonomi yang berbasis ekspor yang akan mendatangkan cadangan devisa dolar yang besar. Ini yang sebenarnya dibutuhkan Indonesia untuk mendukung nilai tukar yang kuat.”
Perbandingan Cadangan Devisa: Indonesia Tertinggal dari Tetangga ASEAN
Data cadangan devisa menunjukkan kesenjangan yang mencolok. Per akhir Juli 2026, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar 145,3 miliar dolar AS. Angka ini, menurut Didik, tergolong kecil untuk negara dengan ukuran ekonomi dan populasi sebesar Indonesia.
Sebagai pembanding, Singapura—negara kota dengan populasi jauh lebih sedikit—menyimpan cadangan devisa sekitar 426,2 miliar dolar AS. Thailand, yang pernah mengalami kejatuhan mata uang secara dramatis pada krisis 1998, kini memiliki cadangan sekitar 279,2 miliar dolar AS, yakni hampir dua kali lipat posisi Indonesia. Bahkan Malaysia, dengan basis penduduk yang relatif kecil, mencatat cadangan devisa sekitar 132,6 miliar dolar AS.
“Bagi negara sebesar Indonesia, cadangan devisa sebesar ini tidak cukup dan bahkan terlalu kecil untuk menjadi penyangga eksternal.”
Konteks historis memperkuat argumen tersebut. Krisis Asia 1997–1998 menunjukkan bahwa negara dengan cadangan devisa tipis sangat rentan terhadap arus keluar modal massal. Rupiah sendiri sempat jatuh hingga level ekstrem pada periode itu, dan pemulihan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Didik mengingatkan bahwa tanpa penguatan fundamental ekspor, skenario serupa berpotensi terulang dalam bentuk berbeda.
Ketergantungan pada Harga Komoditas Mentah
Indonesia memang dikaruniai sumber daya alam yang berpotensi besar sebagai penghasil devisa. Batu bara, minyak kelapa sawit, dan nikel merupakan tiga pilar ekspor yang secara historis menyumbang porsi signifikan terhadap penerimaan valuta asing. Namun, Didik menekankan bahwa ekspor komoditas mentah atau setengah jadi memiliki ketergantungan tinggi terhadap siklus harga global.
Apabila harga komoditas di pasar internasional sedang tinggi, arus devisa masuk deras dan rupiah menguat. Sebaliknya, ketika harga turun, penerimaan devisa menyusut sementara kebutuhan impor barang modal dan bahan baku tetap berjalan. Ketimpangan ini menciptakan tekanan struktural pada nilai tukar yang sulit diatasi hanya melalui instrumen moneter.
“Ekspor komoditas ini berjalan sangat baik ketika harga global sedang tinggi. Namun, Indonesia sendiri masih belum menjadi harga global untuk komoditas-komoditas tersebut.”
Implikasinya jelas: selama Indonesia belum naik ke rantai nilai yang lebih tinggi—misalnya melalui hilirisasi nikel menjadi baterai atau pengolahan sawit menjadi produk bernilai tambah—maka fluktuasi harga global akan terus menjadi sumber volatilitas bagi rupiah.
Investasi Asing: Potensi yang Belum Terealisasi
Di sisi lain, aliran modal asing seharusnya menjadi penopang tambahan bagi cadangan devisa. Namun, Didik mengingatkan bahwa investor internasional memiliki banyak alternatif pasar berkembang. Persepsi risiko di Indonesia—yang mencakup persoalan korupsi, ketidakpastian hukum, dan biaya transaksi yang relatif tinggi—membuat keputusan masuk menjadi lebih hati-hati.
“Persepsi risiko berinvestasi di Indonesia tidak dijaga dengan baik sehingga investasi berpikir dua tiga kali untuk masuk ke Indonesia. Jika negara lain menawarkan lingkungan bisnis yang lebih baik dan hukum yang lebih dipercaya, maka dana investasi bisa kabur dan pindah ke negara tersebut.”
Artinya, tanpa perbaikan tata kelola dan kepastian regulasi, potensi devisa dari investasi asing tidak akan terealisasi secara optimal. Investor akan mengalihkan dana ke yurisdiksi yang menawarkan perlindungan hukum lebih kuat dan biaya operasional lebih rendah.
Implikasi bagi Kebijakan Bank Indonesia
Didik menutup pandangannya dengan peringatan keras kepada otoritas moneter. Ia menyatakan bahwa tanpa fondasi daya saing di sektor luar negeri, Bank Indonesia tidak akan mampu menjadikan rupiah stabil dan kuat dalam horizon lima tahun ke depan, apalagi jika hanya mengandalkan instrumen suku bunga.
“Tetapi, tanpa fondasi daya saing di sektor luar negeri dan hanya dengan fondasinya pasar domestik, maka lima tahun ke depan jangan harap BI bisa menjadikan rupiah menjadi stabil dan kuat. Apalagi hanya dengan memainkan instrumen kebijakan suku bunga.”
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kebijakan moneter bersifat reaktif, bukan korektif struktural. Suku bunga dapat memperlambat arus keluar modal dalam jangka pendek, tetapi tidak mampu membangun cadangan devisa secara berkelanjutan. Yang dibutuhkan adalah transformasi orientasi ekonomi dari konsumsi domestik menuju ekspor bernilai tambah, disertai perbaikan iklim investasi agar modal asing mengalir masuk secara konsisten.
Bagi pembuat kebijakan, pesan dari analisis Didik bersifat mendesak: penguatan sektor eksternal bukan lagi pilihan, melainkan prasyarat agar rupiah tidak terus-menerus menjadi variabel yang paling rentan dalam setiap guncangan ekonomi global.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Ekonom?
Ekonom is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Ekonom matter?
Ekonom matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.