Latest Program: Philips kenalkan strategi monitoring pasien berbasis AI

Philips kenalkan strategi monitoring pasien berbasis AI

Latest Program – Singapura – Perusahaan teknologi kesehatan asal Belanda, Philips, menghadirkan inovasi terbaru dalam sistem pemantauan pasien selama acara Innovation Summit yang berlangsung di Singapura, Rabu. Strategi ini bertujuan meningkatkan kapasitas rumah sakit dalam menghadapi keterbatasan tenaga kerja serta memperkuat kerja sama antar layanan perawatan. Dengan memanfaatkan platform terbuka yang didasarkan pada kecerdasan buatan (AI), Philips memungkinkan integrasi data pasien dari berbagai fasilitas kesehatan, menciptakan sistem yang lebih efisien dan terkoordinasi.

Kolaborasi untuk Penanganan Tantangan Global

Stephanie Sievers, Managing Director Philips Asia Pasifik, menjelaskan bahwa perusahaan bekerja sama dengan rumah sakit guna mengatasi tantangan struktural dalam dunia klinis. “Dengan penggunaan basis instalasi pemantauan terbesar di dunia dan pengalaman inovasi yang telah berlangsung selama puluhan tahun, Philips menawarkan solusi untuk meningkatkan efektivitas layanan kesehatan,” katanya. Ia menekankan bahwa teknologi ini dirancang untuk diterapkan dalam skala luas, mulai dari rumah sakit hingga sistem perawatan klinis yang lebih kompleks.

“Teknologi pemantauan pasien yang dikembangkan Philips, berdasarkan pengalaman inovasi berkelanjutan, telah mendukung perawatan jutaan pasien setiap tahunnya,” tambah Stephanie.

Dalam upaya mempercepat respons medis, solusi ini menggabungkan otomatisasi, AI, serta data yang terhubung untuk menghasilkan wawasan yang bernilai tinggi dan peringatan cerdas. Teknologi ini memungkinkan tim medis mendeteksi risiko kesehatan lebih dini, mengambil keputusan secara lebih cepat, dan meningkatkan keterlibatan antar sektor. Dengan dukungan dari platform AI yang terbuka, rumah sakit dapat mengakses informasi pasien secara real-time, sehingga meminimalkan kesenjangan dalam pemantauan.

Fitur Inovatif dalam Pemantauan Pasien

Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam acara tersebut adalah Enterprise Command and Care Coordination Center, sistem yang memungkinkan pemantauan kesehatan jantung secara terus menerus dan dukungan pengambilan keputusan klinis yang lebih akurat. Sharad Jhingan, Head of Hospital and Ambulatory Monitoring, Philips Asia Pasifik, mengatakan bahwa teknologi nirkabel memberikan wawasan langsung mengenai aktivitas jantung dan parameter vital pasien. “Algoritma berbasis AI mampu mengidentifikasi pola-pola abnormal, seperti aritmia atau serangan jantung, serta menandai tanda-tanda awal gangguan,” ujarnya.

“Manajemen alarm yang terintegrasi membantu memprioritaskan peringatan penting agar dapat ditangani tepat waktu,” tambah Sharad.

Bukan hanya untuk gangguan jantung, pendekatan ini juga mendukung kondisi medis lain seperti nyeri dada, gagal jantung, serta penyakit pernapasan kronis. Integrasi alur kerja virtual, termasuk proses penerimaan, pemulangan, dan observasi berbasis kamera, memberikan manfaat signifikan dalam mengurangi beban pekerjaan tenaga medis. Sistem ini memastikan pengawasan tetap konsisten tanpa mengorbankan kualitas layanan.

Interoperabilitas dan Pemantauan Berkelanjutan

Philips menekankan pentingnya interoperabilitas dalam solusi pemantauan pasien. Teknologi pemantauan jarak jauh dari pihak ketiga, serta perangkat wearable, dapat terintegrasi ke dalam stasiun pusat melalui solusi yang dikembangkan perusahaan. Hal ini memperluas cakupan pemantauan hingga ke layanan rawat jalan dan perawatan pasca-pemulangan, sehingga menciptakan kesinambungan dalam pengelolaan kesehatan pasien.

Dalam beberapa tahun terakhir, Philips telah berkolaborasi dengan sejumlah rumah sakit untuk menguji implementasi teknologi ini. Hasilnya menunjukkan efisiensi signifikan dalam pengelolaan perawatan. Contohnya, jumlah alarm ICU yang tidak relevan atau bisa dihindari berkurang hingga 40 persen. Selain itu, waktu perawatan ICU berkurang sebesar 69 persen, sementara biaya per pasien yang dikeluarkan rumah sakit dipangkas sekitar 1.770 dolar AS.

Keberhasilan dalam Pengurangan Risiko dan Biaya

Dalam hal pengendalian risiko, solusi ini juga berhasil mengurangi kejadian serangan jantung hingga 86 persen. Untuk mendukung kinerja optimal, Philips menyediakan alat yang memungkinkan penggantian baterai dan pengurangan penggunaan kertas secara signifikan. Proses digitalisasi alur kerja menurunkan penggunaan 420.000 baterai dan 6,5 juta lembar kertas per tahun, menggantinya dengan sistem yang lebih ramah lingkungan.

Kolaborasi dengan institusi kesehatan telah menghasilkan transformasi dalam cara layanan diproses. Dengan menggabungkan kecerdasan buatan dan data real-time, Philips memastikan bahwa keputusan medis didasarkan pada informasi yang akurat dan tepat waktu. “Kami berupaya menciptakan sistem yang sesuai dengan kebutuhan nyata dunia klinis, sehingga pasien menerima perawatan saat mereka paling membutuhkannya,” jelas Stephanie Sievers.

Manfaat untuk Pasien dan Tenaga Medis

Kolaborasi ini tidak hanya berdampak pada efisiensi sistem kesehatan, tetapi juga meningkatkan kualitas perawatan pasien. Dengan mengurangi beban pekerjaan medis, tenaga kesehatan dapat fokus pada tugas-tugas yang lebih kritis. Selain itu, teknologi ini memastikan bahwa perawatan berjalan secara terus menerus, terlepas dari lokasi pasien, baik di dalam maupun di luar rumah sakit.

Philips menekankan bahwa inovasi ini merupakan langkah strategis dalam meningkatkan daya tahan sistem kesehatan di tengah tantangan global. Dengan memadukan AI, otomatisasi, dan data terkait, rumah sakit dapat menghadapi tantangan seperti kekurangan tenaga kerja serta peningkatan volume pasien secara lebih baik. “Sistem ini memungkinkan layanan kesehatan menjadi lebih responsif, akurat, dan berkelanjutan,” ucap Sharad Jhingan.

Dalam konteks keberlanjutan, Philips menawarkan solusi yang tidak hanya fokus pada pengelolaan data, tetapi juga pada penyediaan layanan yang lebih holistik. Dengan menempatkan pasien di pusat perhatian, teknologi ini mendorong penerapan pendekatan kolaboratif dan proaktif dalam mengatasi masalah kesehatan. “Kami yakin bahwa keberhasilan ini akan terus berkembang dengan dukungan komunitas kesehatan yang lebih luas,” tutur Stephanie Sievers.

Kol