Key Strategy: MIND ID kawal hilirisasi tembaga dan emas terintegrasi
MIND ID Kawal Hilirisasi Tembaga dan Emas Terintegrasi
Key Strategy – Jakarta – Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) terus berupaya memastikan pengembangan industri hilirisasi tembaga dan emas secara terpadu di Gresik, Jawa Timur. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah meningkatkan produksi lokal untuk mengurangi ketergantungan pada impor, serta menambahkan nilai tambah di sektor manufaktur nasional. Dengan menguasai seluruh rantai pasok, dari sumber daya alam hingga produk akhir, MIND ID berperan sebagai penggerak utama dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Langkah Strategis untuk Memperkuat Industri Nasional
Direktur Strategi Hilirisasi dan Ekosistem Mineral MIND ID, Tedy Badrujaman, menegaskan bahwa inisiatif ini menjadi bagian dari Proyek Hilirisasi Danantara, yang bertujuan membangun kapasitas produksi secara menyeluruh dan meningkatkan fondasi industri strategis nasional. “Program ini tidak hanya memperkuat kapasitas manufaktur, tetapi juga menciptakan integrasi antara sektor pertambangan, manufaktur, dan pertahanan,” kata Tedy dalam pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu.
“Langkah strategis ini merupakan bagian dari rangkaian besar Proyek Hilirisasi Danantara, sebuah program yang tidak hanya membangun kapasitas produksi, tetapi memperkuat fondasi industri strategis nasional secara menyeluruh, dari hulu ke hilir, dari bahan baku hingga produk akhir yang dibutuhkan bangsa,” ujar Direktur Strategi Hilirisasi dan Ekosistem Mineral MIND ID Tedy Badrujaman dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu.
Kolaborasi antara Freeport Indonesia dan PINDAD
MIND ID menggandeng Freeport Indonesia, yang menyuplai katoda tembaga, serta PINDAD sebagai anggota DEFEND ID untuk meningkatkan produksi brass mill dan brass cup di Gresik. Proyek ini dirancang dengan kapasitas 10.000 ton per tahun, dan menjadi langkah kritis dalam memperkuat rantai pasok komponen amunisi untuk industri pertahanan Indonesia. Sinergi antara kedua pihak bertujuan mengoptimalkan penggunaan bahan baku lokal, sekaligus mendukung pengembangan teknologi manufaktur yang inovatif.
PINDAD, sebagai salah satu anggota DEFEND ID, memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan ketersediaan bahan baku bagi industri pertahanan. Dengan integrasi dari Freeport Indonesia sebagai penyedia katoda tembaga, MIND ID mendorong peningkatan efisiensi produksi di sektor manufaktur kritis, yang menjadi kebutuhan utama dalam era persaingan global. Selain itu, proyek ini juga menjawab tantangan logistik yang sering menjadi hambatan dalam pengembangan industri strategis.
Pengembangan Fasilitas Produksi Tembaga
MIND ID berencana memperluas kapasitas produksi berbagai bentuk tembaga, seperti batang dan kawat, dengan target mencapai 300 KTPA. Fasilitas ini akan didukung oleh infrastruktur multimodal yang memadukan jalan raya dan pelabuhan, serta sistem perizinan yang terpadu di Kawasan JIIPE Gresik. Konektivitas yang baik diharapkan mempercepat distribusi produk akhir ke berbagai wilayah, sekaligus meningkatkan daya saing industri lokal.
Selain itu, proyek hilirisasi tembaga juga akan mencakup produksi pipa dengan kapasitas 100 KTPA. Proses ini dirancang untuk menjawab permintaan industri manufaktur yang semakin tinggi, serta memastikan sumber daya alam dikonversi menjadi produk bernilai tinggi. Dengan demikian, MIND ID berkomitmen mengubah potensi sumber daya menjadi keunggulan ekonomi yang berkelanjutan.
Peningkatan Kapasitas Emas untuk Kebutuhan Nasional
Dalam sektor emas, MIND ID menekankan perluasan kapasitas produksi logam mulia. Proyek ini akan memanfaatkan bahan baku anoda dari proses pemurnian tembaga di Freeport Indonesia untuk menghasilkan batangan emas dengan skala 30 ton per tahun atau setara 5 juta keping per tahun. Fasilitas produksi ini diharapkan menjawab kebutuhan industri dan masyarakat dalam mengakses logam mulia secara mandiri.
Penggunaan teknologi mutakhir dalam pemurnian dan pengolahan emas akan memastikan kualitas produk sesuai standar internasional. Selain itu, proyek ini juga diharapkan meningkatkan aksesibilitas logam mulia bagi sektor ekonomi yang berkembang, seperti perbankan, perindustrian, dan investasi masyarakat. Dengan demikian, MIND ID menegaskan bahwa hilirisasi emas bukan hanya berdampak pada sektor pertahanan, tetapi juga menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Infrastruktur dan Koordinasi dengan PELINDO
Kawasan JIIPE Gresik menjadi lokasi strategis bagi pengembangan industri hilirisasi. Infrastruktur yang lengkap, termasuk jaringan logistik terpadu dan layanan perizinan yang efisien, dianggap sebagai fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan industri manufaktur. Koordinasi dengan PELINDO memastikan aksesibilitas transportasi laut dan darat, serta kepastian dalam pengadaan bahan baku.
Dalam acara Groundbreaking Hilirisasi Tembaga dan Emas Terintegrasi di Kawasan JIIPE Gresik, Presiden Prabowo Subianto secara virtual menyampaikan peran strategis hilirisasi dalam menghadapi tantangan geopolitik global. Menurutnya, semakin banyak negara yang bersaing untuk menguasai sumber daya alam, sehingga Indonesia perlu memperkuat kapasitas produksi lokal untuk tetap kompetitif.
“Dengan langkah strategis hilirisasi yang dijalankan, Indonesia berupaya menguasai kekayaan alam dan manfaatkannya untuk kepentingan bangsa,” kata Prabowo dalam acara tersebut. Ia menekankan bahwa proyek ini menjadi bagian dari upaya nasional untuk meningkatkan kemandirian ekonomi, sekaligus mengurangi risiko ketergantungan pada impor.
Tantangan dan Peluang di Era Globalisasi
MIND ID menyadari bahwa hilirisasi tidak hanya membutuhkan investasi besar, tetapi juga persiapan yang matang di sektor teknologi dan logistik. Dengan pengembangan fasilitas produksi yang terintegrasi, MIND ID berharap menciptakan ekosistem industri yang kuat, dari sumber daya hingga produk akhir. Ini menjadi langkah penting dalam menghadapi persaingan internasional yang semakin ketat.
Koordinasi antara sektor pertambangan, manufaktur, dan pertahanan akan memastikan keterpaduan dalam memenuhi kebutuhan industri nasional. Peningkatan produksi lokal tidak hanya meningkatkan daya tahan ekonomi, tetapi juga menciptakan peluang kerja dan pendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Dengan demikian, hil
