Latest Program: ESDM sebut pemanfaatan panas bumi bisa jadi penggerak ekonomi baru
ESDM sebut pemanfaatan panas bumi bisa jadi penggerak ekonomi baru
Latest Program – Jakarta – Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menekankan bahwa pemanfaatan panas bumi tidak hanya terkait peralihan sumber daya energi, tetapi juga berpotensi menjadi motor penggerak perekonomian baru yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Pengembangan SDM dan Kewirausahaan, Benny Indra Batubara, dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa energi terbarukan bukan sekadar solusi teknis, tetapi juga merupakan alat untuk membangun perekonomian yang inklusif serta berkelanjutan.
Potensi Geothermal dalam Berbagai Sektor
Batubara menjelaskan bahwa pemanfaatan langsung panas bumi memiliki peluang besar dalam mendukung sejumlah sektor vital seperti pertanian, olahan hasil alam, budidaya perikanan, serta pariwisata yang didasarkan pada sumber daya geothermal. Selain itu, ia menyoroti peran panas bumi dalam memperkuat industri kecil dan menengah (UKM) serta meningkatkan nilai tambah produk lokal. Contoh nyata dari pemanfaatan ini dapat ditemukan di kawasan seperti Ciater dan Kamojang, yang menunjukkan bahwa sumber daya geothermal dapat menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
“Energi baru terbarukan bukan hanya solusi teknis, tetapi juga penggerak ekonomi baru yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Benny.
Kementerian ESDM memaparkan bahwa Indonesia, sebagai negara yang memiliki sekitar 40 persen dari total potensi panas bumi global, memiliki peluang besar untuk memanfaatkan sumber daya tersebut dalam pembangunan berkelanjutan. Lokasi Sukabumi, khususnya di sekitar Gunung Salak, Gunung Halimun, dan Kawah Ratu, dinilai sangat strategis untuk mengembangkan proyek pemanfaatan langsung panas bumi. Benny menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi pembangunan ekonomi hijau daerah, yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Program Pelatihan untuk Memperkuat SDM
Informasi tersebut muncul dalam acara Pelatihan Geothermal Direct Use Pemanfaatan Langsung Panas Bumi bagi Aparatur dan Penanggung Jawab Lapangan Lokasi Mata Air Panas yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) bersama Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada 29–30 April 2026. Acara ini dianggap sebagai langkah konkret dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) untuk mengoptimalkan pemanfaatan panas bumi secara langsung dalam kegiatan produktif masyarakat.
Sebanyak 20 peserta yang terdiri dari aparatur pemerintah daerah serta penanggung jawab lapangan di berbagai lokasi mata air panas mengikuti pelatihan tersebut. Mereka memperoleh pembekalan mengenai aspek regulasi, teknis pemanfaatan panas bumi, keselamatan kerja, perizinan, hingga praktik lapangan seperti uji sampling dan verifikasi SLO (Sumber Daya Lokal). Selain itu, para peserta juga belajar tentang penggunaan peralatan pendukung dalam proses pemanfaatan sumber daya tersebut.
Kemitraan antara Pusat dan Daerah
Acara ini tidak hanya menghadirkan wawasan teknis, tetapi juga menegaskan komitmen PPSDM KEBTKE dalam menyediakan program pengembangan SDM energi yang adaptif dan relevan terhadap kebutuhan industri serta potensi daerah. Benny Indra Batubara menambahkan bahwa pelatihan ini menjadi pijakan awal untuk membangun ekosistem pemanfaatan langsung panas bumi yang mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi masyarakat Sukabumi.
“Pemanfaatan langsung panas bumi memiliki irisan kuat dengan penguatan UMKM, hilirisasi produk lokal, pengembangan pariwisata, hingga penciptaan usaha berbasis energi terbarukan. Ini bagian dari strategi pembangunan ekonomi hijau daerah,” kata Benny.
Pembangunan ekonomi hijau daerah mencakup upaya untuk memanfaatkan sumber daya alam secara efisien tanpa merusak lingkungan. Pemanfaatan panas bumi langsung di Sukabumi, misalnya, dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus mendorong pertumbuhan industri berkelanjutan. Hal ini berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan memperkuat daya saing daerah di tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Benny, keberhasilan pemanfaatan panas bumi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat dan pengelolaan yang terstruktur. Ia menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam pengembangan sumber daya, mulai dari perencanaan hingga implementasi. Untuk mewujudkan hal ini, PPSDM KEBTKE berupaya menyediakan pelatihan yang komprehensif, dengan memadukan teori dan praktik langsung di lapangan. Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas SDM dalam mengelola sumber daya geothermal secara optimal.
Pelatihan di Sukabumi juga menjadi contoh bagaimana pemerintah pusat dan daerah dapat bekerja sama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan memperkuat SDM dan mengembangkan infrastruktur yang mendukung, pemanfaatan panas bumi bisa menjadi solusi berkelanjutan untuk kebutuhan energi masyarakat. Benny mengungkapkan bahwa pemanfaatan panas bumi bukan hanya tentang efisiensi energi, tetapi juga tentang kesejahteraan masyarakat dan keterlibatan aktif dalam proses pembangunan.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah memastikan bahwa proyek geothermal tidak hanya bermanfaat bagi sektor industri, tetapi juga dapat diakses oleh masyarakat umum. Benny menyoroti bahwa keberlanjutan pemanfaatan panas bumi memerlukan strategi yang mengintegrasikan kebutuhan ekonomi, lingkungan, dan sosial. Dengan demikian, pemanfaatan langsung panas bumi menjadi pilihan yang tepat untuk menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
PPSDM KEBTKE berharap pelatihan ini menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem yang solid untuk pemanfaatan panas bumi. Pemantapan SDM energi, baik dari segi pengetahuan maupun keterampilan, dianggap sangat penting untuk mewujudkan tujuan tersebut. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat memicu inisiatif lain dari pihak swasta dan masyarakat dalam mengembangkan sumber daya geothermal secara lebih luas.
Menurut Benny, pembangunan berkelanjutan memerlukan partisipasi aktif dari semua pihak, termasuk sektor swasta dan komunitas lokal. Dengan memperkuat SDM energi, pemerintah dapat memastikan bahwa kegiatan pemanfaatan panas bumi tidak hanya bermanfaat bagi industri, tetapi juga memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat. Hal ini menjadi penting dalam era transformasi energi global, di mana penggunaan sumber daya terbarukan dianggap sebagai jalan untuk menurunkan emisi karbon dan menciptakan ekonomi hijau.
Dalam konteks ini, pelatihan di Sukabumi menjadi bagian dari upaya nasional untuk mewujudkan keberlanjutan energi. Benny menambahkan bahwa pemanfaatan panas bumi langsung memiliki banyak manfaat, seperti mengurangi biaya energi, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan inovasi lokal. Dengan pendekatan yang tepat, sumber daya ini bisa menjadi penggerak perekonomian baru yang berdampak luas pada masyarakat.
Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama dua hari tersebut diharapkan menjadi sarana pembelajaran yang berkelanjutan. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam lingkungan kerja sehari-hari. Benny menyebutkan bahwa keberhasilan proyek pemanfaatan panas bumi bergantung pada kesiapan SDM energi yang terlat
