New Policy: Kementan kembangkan pakan ternak legum dan rumput untuk hadapi El Nino

Kementan Kembangkan Pakan Ternak Legum dan Rumput untuk Hadapi El Nino

New Policy – Banjarbaru, Kalimantan Selatan—Kementerian Pertanian (Kementan) tengah berupaya mengatasi tantangan akibat fenomena El Nino dengan mendorong pengembangan pakan ternak berupa legum dan rumput yang memiliki kandungan protein tinggi serta tahan terhadap kekeringan. Upaya ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan bahan pakan ternak tetap terjaga, sehingga produktivitas peternakan tidak terganggu di tengah kemungkinan penurunan pasokan hijauan akibat kondisi iklim yang tidak menentu.

Legum dan Rumput Tahan Kekeringan Jadi Solusi

Dalam kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR RI ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan RI, Agung Suganda, menjelaskan bahwa tanaman pakan yang dikembangkan dirancang untuk bertahan di lingkungan lahan kering. Ia menekankan pentingnya adaptasi tanaman terhadap kondisi cuaca kering, sehingga mampu tumbuh tanpa menggantungkan pada curah hujan yang tidak pasti.

“Pengembangan ini dilakukan dengan mendorong penanaman luas tanaman pakan yang memiliki daya tahan tinggi terhadap kondisi lingkungan kering,” ujar Agung Suganda. “Dengan demikian, pasokan pakan tetap stabil meski musim kemarau berlangsung lama.”

Menurut Agung, jenis hijauan yang dikembangkan mencakup berbagai legum seperti indigofera, gamal, dan lamtoro. Selain itu, rumput berprotein tinggi seperti gajah umami juga menjadi fokus utama. Tanaman-tanaman ini dipilih karena kemampuannya bertahan di kondisi cuaca ekstrem, termasuk tingkat kekeringan yang tinggi.

Agung menjelaskan bahwa penggunaan hijauan tahan kekeringan bukan hanya sebagai solusi darurat, tetapi juga sebagai langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan produksi ternak di daerah-daerah rawan keterbatasan air. “Dengan mengandalkan bahan pakan yang tahan lama, peternak tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan alami yang rentan berkurang,” katanya.

Upaya Memitigasi Dampak El Nino

Kementerian Pertanian menganggap tanaman pakan berprotein tinggi dan tahan kekeringan sebagai kunci dalam memitigasi dampak negatif El Nino. Fenomena ini sering menyebabkan penurunan curah hujan signifikan, yang berdampak langsung pada ketersediaan hijauan. Dengan memperluas penanaman tanaman seperti yang disebutkan, pemerintah berharap dapat menjaga keseimbangan antara produksi dan konsumsi pakan.

Agung Suganda menambahkan bahwa pengembangan pakan ini juga berkontribusi pada peningkatan ketersediaan bahan pakan di tingkat lokal. “Dengan menumbuhkan tanaman yang sesuai, peternak tidak hanya memiliki sumber pakan lebih stabil, tetapi juga dapat meningkatkan pendapatan mereka melalui produksi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam rangka menguatkan strategi tersebut, Kementerian Pertanian juga mendorong teknologi pengolahan hijauan menjadi bentuk pakan awetan. Metode seperti fermentasi dan pengeringan diklaim dapat memperpanjang masa penyimpanan pakan, sehingga memungkinkan penggunaan di saat kebutuhan tinggi. “Ini menjadi strategi untuk memperkuat ketahanan nasional dalam hal bahan pakan sekaligus menjaga produktivitas ternak di tengah perubahan iklim,” tambah Agung.

Selain itu, Kementerian Pertanian berupaya mengedukasi para peternak tentang pentingnya beralih ke jenis tanaman yang lebih adaptif. Dengan meningkatkan pengetahuan teknis, peternak diharapkan mampu mengelola sumber daya secara optimal, terutama di wilayah yang rentan mengalami krisis air. “Kementan terus memberikan bimbingan teknis kepada peternak agar mereka mampu menanam dan merawat tanaman pakan yang cocok dengan kondisi lokal,” kata Agung.

Fenomena El Nino tidak hanya memengaruhi ketersediaan air, tetapi juga mengurangi produksi pakan alami. Hal ini berpotensi mengganggu kestabilan pasokan pakan di tingkat peternak, yang bisa memicu penurunan jumlah hewan ternak dan pendapatan dari sektor peternakan. Dengan pengembangan tanaman pakan berprotein tinggi, Kementerian Pertanian berharap mampu meminimalkan risiko tersebut.

Agung Suganda menekankan bahwa upaya ini juga bertujuan untuk mendukung ketahanan pangan nasional. “Peternakan menjadi bagian integral dari sistem ketahanan pangan, sehingga perlu diperkuat melalui pengelolaan pakan yang lebih cermat dan berkelanjutan,” ujarnya. “Dengan menggabungkan keberlanjutan produksi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, Kementerian Pertanian berupaya menciptakan solusi yang tangguh.”

Upaya pengembangan pakan ternak tahan kekeringan ini diperkirakan akan memberikan dampak signifikan di wilayah Kalimantan Selatan, yang termasuk dalam daerah rawan El Nino. Para peternak di sana diberikan bantuan dalam bentuk benih unggul dan teknik penanaman yang sesuai dengan kondisi lahan. “Kementan terus berupaya menyediakan sumber daya yang optimal bagi peternak, terutama di daerah yang rawan krisis pasokan pakan,” imbuh Agung.

Dengan adanya tanaman pakan yang tahan kekeringan, para peternak diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada bahan pakan impor atau bahan pakan yang berasal dari daerah lain. Selain itu, tanaman ini juga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak di musim kemarau, sehingga produksi tetap stabil dan tidak mengalami penurunan drastis.

Strategi Nasional untuk Kekayaan Sumber Daya

Agung Suganda menjelaskan bahwa pengembangan pakan ternak berprotein tinggi merupakan bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan ketahanan pangan. “Kementerian Pertanian berkomitmen mengatasi tantangan iklim melalui inovasi di bidang pertanian dan peternakan,” ujarnya. “Pakan yang tahan lama dan berprotein tinggi menjadi jawaban yang berkelanjutan untuk masa depan.”

Menurutnya, penggunaan hijauan tahan kekeringan juga memberikan manfaat ekonomi bagi peternak. Dengan menghasilkan pakan secara lokal, biaya produksi bisa ditekan, dan pendapatan dari peternakan tetap terjaga. “Ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesejahteraan peternak sekaligus memastikan stabilitas pangan nasional,” pungkas Agung.