BPS catat NTP Jatim turun 1,63 persen pada April 2026
BPS Catat Penurunan NTP Jawa Timur 1,63 Persen pada April 2026
BPS catat NTP Jatim turun 1 63 – Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa nilai tukar petani (NTP) di Jawa Timur pada April 2026 mengalami penurunan sebesar 1,63 persen dibandingkan bulan Maret 2026. Perubahan ini terjadi setelah angka NTP yang sebelumnya mencapai 118,39 turun menjadi 116,46. Penyebab utama dari penurunan ini adalah penurunan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,55 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,08 persen.
“NTP merupakan indikator penting untuk mengukur kemampuan daya beli petani di sektor perdesaan,” jelas Debora Sulistya Rini, Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Timur, dalam konferensi pers di Surabaya, Jawa Timur, Senin.
Dalam April 2026, terdapat tiga sub-sektor yang menunjukkan penurunan NTP, sementara dua sub-sektor mengalami peningkatan. Sub-sektor hortikultura menjadi yang paling signifikan dengan penurunan NTP sebesar 11,84 persen, dari angka 185,44 ke 163,47. Perikanan dan peternakan juga turun, masing-masing sebesar 1,73 persen dan 1,63 persen, dengan nilai NTP berturut-turut 104,25 menjadi 102,45 serta 107,61 menjadi 105,86.
Sementara itu, dua sub-sektor yang meningkat mencatatkan perubahan positif. Sub-sektor tanaman pangan menunjukkan kenaikan 1,40 persen, dari 112,03 menjadi 113,60, sedangkan tanaman perkebunan rakyat naik 0,54 persen, dari 106,24 ke 106,82. Perubahan ini mencerminkan dinamika harga di berbagai sektor pertanian.
Perubahan Indeks Harga yang Diterima dan Dibayar Petani
Indeks harga yang diterima petani (It) pada April 2026 turun 1,55 persen, dari 151,75 ke 149,40. Penurunan ini dipengaruhi oleh sub-sektor hortikultura, peternakan, dan perikanan, masing-masing mengalami penurunan sebesar 11,71 persen, 1,55 persen, dan 1,55 persen. Di sisi lain, tanaman pangan dan tanaman perkebunan rakyat menjadi sub-sektor dengan kenaikan It, masing-masing 1,43 persen dan 0,81 persen.
Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan tipis 0,08 persen, dari 128,18 ke 128,28. Perubahan ini didorong oleh kenaikan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,63 persen, dari 121,80 ke 122,57. Meskipun demikian, indeks konsumsi rumah tangga (KRT) menurun 0,22 persen, dari 132,97 ke 132,68.
Komoditas Utama yang Mempengaruhi Perubahan Harga
Dalam rangka menurunkan indeks harga yang diterima petani, sepuluh komoditas utama berkontribusi signifikan. Mereka termasuk gabah, sapi potong, tomat, jagung, buncis, kambing, kentang, apel, kopi, dan jeruk. Sebaliknya, sepuluh komoditas lainnya mempercepat penurunan It, seperti cabai rawit, telur ayam ras, bawang merah, ayam ras pedaging, kol/kubis, telur burung puyuh, wortel, bandeng payau, bawang daun, dan udang payau.
Di sisi indeks harga yang dibayar petani, sepuluh komoditas utama berperan dalam kenaikan Ib. Komoditas tersebut meliputi tomat sayur, minyak goreng, solar, urea, semangka, gula pasir, bakalan sapi (umur lebih dari 12 bulan), NPK, sigaret kretek mesin (SKM), dan buncis. Sementara itu, sepuluh komoditas lainnya menyebabkan penurunan Ib, antara lain cabai rawit, telur ayam ras, daging ayam ras, bawang merah, kelapa tua, tongkol, layang, emas perhiasan, bawang putih, dan mujair.
Perkembangan NTUP di Jawa Timur
Dalam kaitannya dengan nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP), terjadi penurunan sebesar 2,17 persen pada April 2026. Perubahan ini disebabkan oleh penurunan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,63 persen, sementara indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) naik 0,63 persen. Dari sisi sub-sektor, tiga sektor mengalami penurunan NTUP, yaitu hortikultura (turun 12,25 persen), perikanan (turun 2,02 persen), dan peternakan (turun 1,81 persen). Di sisi lain, tanaman pangan dan tanaman perkebunan rakyat menunjukkan peningkatan, masing-masing 0,65 persen dan 0,10 persen.
Penurunan NTUP mengisyaratkan bahwa daya beli petani mengalami tekanan, terutama di sub-sektor hortikultura yang mengalami penurunan terbesar. Sementara itu, peningkatan pada tanaman pangan dan perkebunan rakyat menunjukkan adanya stabilisasi harga di sektor-sektor tertentu. Hal ini penting untuk diperhatikan karena memengaruhi keberlanjutan usaha pertanian di Jawa Timur.
Analisis Ekonomi Pertanian
Perubahan NTP dan NTUP pada April 2026 mencerminkan dinamika harga yang kompleks di sektor pertanian. Meskipun penurunan harga yang diterima petani mengurangi daya beli, kenaikan harga yang dibayar petani menunjukkan adanya peningkatan biaya operasional. Dinamika ini perlu dianalisis lebih lanjut untuk memahami dampaknya terhadap produktivitas dan kesejahteraan petani.
Debora Sulistya Rini menambahkan bahwa fluktuasi NTP dan NTUP bisa terjadi karena berbagai faktor, termasuk perubahan permintaan pasar, biaya produksi, dan kondisi cuaca. “Penurunan harga komoditas seperti cabai rawit dan telur ayam ras sangat berpengaruh terhadap Indeks Harga yang Diterima Petani,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya kebijakan p
