BSI tuntaskan transformasi IT demi layani 40 juta nasabah pada 2030
BSI Tuntaskan Transformasi IT untuk Melayani 40 Juta Nasabah pada 2030
BSI tuntaskan transformasi IT demi layani 40 – Jakarta – Transformasi teknologi informasi (IT) di PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) telah rampung dilakukan guna memperkuat sistem dan meningkatkan kualitas layanan digital. Upaya ini bertujuan memastikan perseroan mampu melayani 40 juta nasabah pada 2030, dengan peningkatan signifikan dari jumlah sekitar 24 juta saat ini. Dalam acara “Ngopi Bareng Media” di Kantor Pusat BSI, Jakarta, Rabu, Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menjelaskan bahwa pengembangan infrastruktur teknologi adalah langkah penting untuk mencapai pertumbuhan yang lebih besar.
“Transformasi ini memang dibutuhkan karena perseroan harus menjadi besar. Kenapa IT ini harus di-upgrade, karena kami memiliki keinginan untuk bisa memberikan layanan yang sama seperti bank besar lainnya. Dan itu juga menjadi ekspektasi nasabah,” ujar Anggoro.
BSI juga menargetkan perluasan aset hingga mencapai Rp1.000 triliun serta meningkatkan return on equity (ROE) di atas 25 persen pada 2030. Dalam waktu yang sama, perusahaan ingin masuk ke lima besar bank syariah global. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, perusahaan terus memperkuat kemampuan teknologi sebagai fondasi utama dalam pengembangan layanan digital.
Modernisasi Sistem sebagai Dasar Pertumbuhan
Transformasi IT BSI mencakup migrasi sistem core banking dari versi R10 ke R24 yang selesai pada pertengahan Mei 2026. Proses ini dilakukan secara bertahap melalui berbagai simulasi, dengan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Danantara untuk memastikan keberhasilan implementasi. Menurut Anggoro, migrasi ini bertujuan mengantisipasi pertumbuhan yang akan datang dan meningkatkan kapasitas sistem.
Kapasitas IT yang ditingkatkan memberikan dampak langsung pada operasional. Pascamigrasi, availability seluruh saluran digital BSI mencapai 99,99 persen, sehingga transaksi melalui aplikasi, website, maupun cabang terasa lebih lancar. Selain itu, efisiensi operasional meningkat hingga sekitar 80 persen, serta proses close of business (COB) menjadi lebih cepat. “Ruang untuk menumbuhkan nasabah, inovasi untuk fitur baru di BYOND sangat luas karena kapasitas terpakai masih di bawah 10 persen. Nasabah akan merasakan manfaat dari kekuatan dan kecepatan IT BSI yang baru,” kata Anggoro.
Langkah Strategis Dalam Penyediaan Layanan
Migrasi core banking ini merupakan bagian dari rencana transformasi yang lebih luas. BSI memandang bahwa modernisasi teknologi tidak hanya meningkatkan keandalan sistem, tetapi juga membuka peluang untuk inovasi layanan digital. Dua produk utama, yaitu BYOND by BSI untuk nasabah ritel dan BEWIZE by BSI untuk nasabah institusi, diharapkan menjadi penggerak utama ekspansi bisnis hingga 2030.
Transformasi IT juga memperkuat kemampuan BSI dalam mengelola pertumbuhan yang berasal dari dual licence. Sejak diberikan lisensi bank emas pada Februari 2025, jumlah nasabah meningkat menjadi lebih dari 24 juta per April 2026. Anggoro menekankan bahwa proses ini tidak hanya memperluas jaringan, tetapi juga memastikan layanan digital tetap stabil dan andal. “Kami telah menyiapkan infrastruktur yang mampu menangani peningkatan volume transaksi dan kebutuhan nasabah di berbagai segmen,” tambahnya.
Pertumbuhan yang Signifikan dalam Tahun Pertama
Sejak awal 2026, BSI menerima status perseroan, yang menjadi momen penting dalam percepatan modernisasi. Pada Mei 2026, perusahaan mencatat laba bersih (unaudited) sebesar Rp3,39 triliun, tumbuh 16,73 persen secara tahunan (yoy). Total aset mencapai Rp444 triliun, dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp372 triliun, serta pembiayaan sebesar Rp335 triliun dengan kualitas yang terjaga. Pertumbuhan ini menunjukkan keberhasilan transformasi yang dijalankan selama satu tahun terakhir.
Layanan mobile banking BSI tercatat telah digunakan oleh lebih dari 10 juta pengguna sejak periode yang sama. Nilai transaksi melalui platform digital ini melampaui Rp450 triliun, menunjukkan tingkat adopsi yang signifikan. Di sisi lain, BEWIZE by BSI juga terus mencatat pertumbuhan pengguna dan transaksi, yang menjadi pendorong utama untuk bisnis wholesale. Anggoro menilai bahwa inisiatif ini tidak hanya meningkatkan volume operasional, tetapi juga memperluas jangkauan layanan bagi segmen bisnis yang lebih besar.
Stabilitas dan Kecepatan sebagai Fokus Utama
Kelancaran migrasi core banking menjadi bukti komitmen BSI dalam menjaga kualitas layanan. Seluruh proses dilakukan dengan pertimbangan ketat, termasuk uji coba berulang (rehearsal) untuk memastikan sistem bekerja secara optimal. Anggoro menambahkan bahwa penggunaan teknologi yang canggih akan memungkinkan BSI memberikan pengalaman transaksi yang lebih cepat dan efisien.
Peningkatan kemampuan sistem juga mendukung inovasi produk dan layanan. Dengan kapasitas IT yang lebih besar, BSI siap menghadirkan solusi keuangan digital yang lebih lengkap dan adaptif terhadap kebutuhan nasabah. Misalnya, platform BYOND by BSI diperkuat untuk memenuhi permintaan pasar ritel, sementara BEWIZE by BSI ditingkatkan agar bisa menunjang pertumbuhan bisnis institusi. Anggoro menyatakan bahwa langkah ini akan menjadi fondasi dalam membangun kepercayaan nasabah dan meningkatkan daya saing di industri perbankan syariah.
Transformasi Sebagai Kunci Pencapaian Target
BSI optimis bahwa investasi dalam transformasi IT akan mempercepat pencapaian target 40 juta nasabah pada 2030. Dengan sistem yang lebih canggih, perusahaan dapat merespons permintaan pasar dengan lebih cepat, termasuk dalam pengembangan fitur-fitur baru yang relevan. Selain itu, penggunaan teknologi juga memungkinkan BSI meningkatkan skalabilitas layanan, baik untuk nasabah pribadi maupun korporasi.
Pertumbuhan yang dicapai selama 2026 menunjukkan keberhasilan strategi modernisasi ini. Anggoro mengungkapkan bahwa progres ini adalah hasil kolaborasi yang intens antara tim internal dan mitra eksternal. Proses migrasi yang melibatkan sekitar 1.500 personel lintas fungsi dijalankan secara bertahap untuk meminimalkan risiko dan memastikan keseluruhan sistem berjalan tanpa gangguan. “Keberhasilan transformasi ini adalah bukti bahwa BSI siap bersaing di tingkat global,” tutur Anggoro.
Dengan transformasi yang berjalan lancar, BSI berharap dapat memenuhi ekspektasi nasabah dan meningkatkan kepuasan secara keseluruhan. Inisiatif teknologi ini tidak hanya memperkuat kapasitas operasional, tetapi juga memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan. Anggoro menegaskan bahwa langkah ini menjadi bagian integral dari visi BSI menjadi bank syariah yang lebih besar dan lebih maju dalam beberapa tahun mendatang.
