Latest Program: PLN IP gunakan biomassa sorgum masyarakat di PLTU Pelabuhan Ratu

PLN IP Gunakan Biomassa Sorgum Masyarakat di PLTU Pelabuhan Ratu

Latest Program – Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjadi sorotan sejak PT PLN Indonesia Power (PLN IP) mengumumkan penggunaan biomassa dari sorgum sebagai bagian dari strategi transisi energi bersih. Pemanfaatan serbuk sorgum, yang berasal dari hasil produksi warga sekitar, bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dalam operasional PLTU Pelabuhan Ratu. Proses ini dilakukan sebagai co-firing, yakni kombinasi antara bahan bakar batu bara dengan biomassa yang dihasilkan masyarakat. Langkah ini menunjukkan komitmen PLN IP untuk mengintegrasikan sektor pertanian dengan kebutuhan energi, sekaligus memberdayakan ekonomi lokal.

Kemitraan Berkelanjutan dengan Petani dan Pemerintah Daerah

Menurut Direktur Utama PLN IP, Bernadus Sudarmanta, program ini menjadi bukti nyata kerja sama antara perusahaan BUMN, lembaga pemerintah daerah, dan masyarakat pedesaan. “Kami ingin pastikan warga sekitar merasakan manfaat ekonomi dari transformasi energi yang kami lakukan,” tutur Bernadus dalam keterangan resmi. Ia menekankan bahwa kolaborasi ini tidak hanya mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam, tetapi juga mengamankan stabilitas pasokan energi. Sejak 2025, inisiatif ini telah mengalami beberapa tahapan, mulai dari penanaman hingga pengiriman serbuk sorgum pertama ke PLTU Pelabuhan Ratu. Kegiatan panen massal yang dilakukan di Perkebunan Sorgum Cilegok, Kecamatan Ciemas, menjadi penanda keberhasilan program tersebut.

“Kami berkomitmen untuk terus memperluas program ini sebagai bagian dari upaya mencapai target net zero emissions, sekaligus mewujudkan ekonomi sirkular yang mandiri,” ujar Bernadus.

Sorghum, yang sebelumnya hanya dianggap sebagai tanaman penghasil bahan baku pangan, kini memiliki peran ganda. Bagian utamanya, bulirnya, bisa digunakan untuk kebutuhan pangan warga, sementara batang dan daunnya diolah menjadi serbuk sorgum yang menjadi komponen bahan bakar untuk PLTU. Menurut Bernadus, penanaman sorgum di area pertanian lokal tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan petani. “Sinergi antara sektor energi dan pertanian membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, sejalan dengan visi nasional untuk energi bersih,” jelasnya.

Pemanfaatan biomassa sorgum ini juga menjadi jawaban atas tantangan kepastian pasokan bahan bakar. Dengan adanya PLN sebagai pembeli siaga, para petani bisa menjamin hasil panen mereka sekaligus memperkuat rantai pasok. Sebagai wujud kontribusi terhadap keberlanjutan energi, program ini menunjukkan bahwa pertanian tidak hanya berperan dalam produksi pangan, tetapi juga sebagai pelaku ekosistem energi. Bernadus menambahkan bahwa model ini bisa diadopsi di unit-unit PLN IP lainnya, terutama di daerah dengan potensi tanaman serupa.

Langkah Strategis untuk Energi Hijau dan Ketahanan Ekonomi

Harapan PLN IP adalah bahwa program ini tidak hanya menciptakan keuntungan ekonomi langsung, tetapi juga menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya partisipasi dalam pembangunan berkelanjutan. Selama tiga tahun terakhir, mereka telah menumbuhkan kemitraan dengan petani setempat, serta menawarkan bantuan teknis dan pasar yang pasti. “Pertanian menjadi penggerak utama dalam produksi energi hijau, dan kami ingin memastikan pengaruhnya dirasakan secara luas,” ujar Bernadus.

Kegiatan panen raya yang dihadiri Wakil Bupati Sukabumi Andreas, Kamis (18/6/2026), menandai awal dari ekosistem biomassa yang lebih besar. Pada tahun 2025, PLN IP memulai tahap penanaman sorgum di lahan pertanian warga, kemudian mengembangkan proses panen hingga distribusi ke PLTU Pelabuhan Ratu. Selama ini, keberhasilan transisi energi sering kali dianggap sebagai tanggung jawab perusahaan, tetapi langkah ini menunjukkan bahwa masyarakat juga bisa menjadi bagian aktif dari solusi. “Kolaborasi ini mengubah paradigma, karena masyarakat menjadi produsen energi, bukan hanya konsumen,” tambahnya.

Program ini terus diperluas ke berbagai wilayah, dengan fokus pada peningkatan kualitas serbuk sorgum dan efisiensi penggunaannya. PLN IP juga berupaya meningkatkan aksesibilitas bagi petani, termasuk memberikan pelatihan tentang pengolahan biomassa dan manajemen pertanian berbasis energi. Dengan demikian, petani bukan hanya mendapatkan hasil panen yang lebih stabil, tetapi juga memperoleh pengetahuan tentang keberlanjutan. “Masyarakat harus dijaga dan diberdayakan, agar mereka bisa berkontribusi pada kebijakan nasional energi hijau,” tegas Bernadus.

Dari sisi lingkungan, penggunaan biomassa sorgum di PLTU Pelabuhan Ratu diharapkan mampu mengurangi emisi karbon hingga 20%. Tahun ini, capaian ini menjadi contoh nyata bagaimana sektor energi bisa mengintegrasikan sumber daya alam dengan kebutuhan lingkungan. Selain itu, pembangunan ini juga meningkatkan ketahanan pangan, karena sorgum yang ditanam menjadi komponen dalam industri makanan. “Kita bisa mencapai dua tujuan sekaligus: energi bersih dan pangan lokal yang lebih aman,” jelasnya.

Potensi Ekspansi dan Dampak Jangka Panjang

Langkah transformatif ini menunjukkan bahwa inisiatif biomassa berbasis masyarakat bisa menjadi alternatif yang berkelanjutan. Dengan dukungan pemerintah daerah, PLN IP berupaya memperluas jangkauan program ini ke kabupaten lain di Jawa Barat, termasuk di daerah dengan kondisi pertanian yang mirip. “Kami akan terus menyempurnakan model ini, agar bisa diadaptasi ke berbagai kondisi lokal,” imbuh Bernadus.

Dari sudut pandang ekonomi, program ini menawarkan solusi jangka panjang bagi masyarakat. Mereka bisa menjual serbuk sorgum kepada PLN, yang memberikan harga jual yang kompetitif. Hal ini menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan, karena hasil pertanian tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari sistem energi. Bernadus juga menyoroti peran PLN sebagai pembeli siaga