RI upaya kuatkan ekosistem vaksin nasional-ASEAN untuk hadapi pandemi
RI Upaya Kuatkan Ekosistem Vaksin Nasional dan ASEAN untuk Hadapi Pandemi
RI upaya kuatkan ekosistem vaksin nasional – Jakarta, Rabu – Forum tingkat tinggi yang digelar di Jakarta menjadi ajang penting bagi pemerintah Indonesia dalam menguatkan ketahanan dan kemandirian sistem kesehatan nasional, termasuk pengembangan vaksin, obat, serta diagnostik. Acara ini bertujuan mengantisipasi kembali terjadinya wabah besar, seperti pandemi, dengan membangun kekuatan bersama di kawasan Asia Tenggara. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa sebagai negara dengan populasi sekitar 280 juta orang, Indonesia perlu memiliki ekosistem kesehatan yang solid agar dapat bertahan dalam situasi seperti lockdown.
Kebutuhan Teknologi dan Kolaborasi ASEAN
Dalam pidatonya setelah forum tersebut, Budi menggarisbawahi pentingnya membagi teknologi di bidang kesehatan. Ia menekankan bahwa teknologi bukan hanya untuk dimonopoli, tetapi harus dikembangkan secara bersama dengan negara-negara tetangga. Khususnya, negara dengan populasi besar seperti Malaysia dan Thailand perlu mendapatkan akses ke sumber daya kesehatan yang memadai agar dapat melindungi warganya ketika pandemi kembali menghantam. “Karena masing-masing negara pasti ingin menyelamatkan orang-orangnya lebih dahulu, maka teknologi ini harus dibagikan secara adil,” ujarnya.
“Teknologi di bidang kesehatan bukan hanya menjadi keuntungan individu, tapi harus berbagi. Negara-negara besar seperti Malaysia dan Thailand layak mendapatkan bantuan agar dapat menjaga kesehatan warga mereka ketika situasi darurat terjadi,” kata Budi.
Kemandirian ekosistem kesehatan, menurutnya, bukan hanya penting untuk Indonesia, tetapi juga untuk negara-negara ASEAN lainnya. Dengan membangun sistem yang mandiri, negara-negara tersebut dapat saling mendukung dalam produksi vaksin, pengadaan obat, dan penguasaan diagnostik. Ia mencontohkan bahwa kekuatan ini akan menjadi pelindung terhadap kekacauan ekonomi dan kesehatan yang mungkin terjadi dalam masa krisis. “Kolaborasi antar ASEAN harus diutamakan agar setiap negara dapat meraih manfaat dari kekuatan bersama,” tambahnya.
Upaya Meningkatkan Hilirisasi Produk Kesehatan
Untuk mencapai kemandirian tersebut, Budi mengajak Dewan Ekonomi Nasional (DEN) untuk memperkuat hilirisasi. Hilirisasi, atau proses peningkatan nilai tambah, dianggap kunci agar produk kesehatan yang belanja bisa diproduksi secara lokal. Ia menjelaskan bahwa meski Indonesia sudah menghabiskan lebih dari 10% dari anggaran belanja kesehatan setiap tahun, sebagian besar bahan baku masih diimpor. “Sehingga, manfaatnya justru berada di tangan negara lain,” katanya.
Contoh konkret yang diberikan Budi adalah parasetamol, obat yang sering digunakan untuk mengurangi demam. Ia menunjukkan bahwa parasetamol dapat dihasilkan dari bensin yang sudah diproduksi di Indonesia. Namun, proses hilirisasi yang tidak sempurna membuat bensin belum berubah menjadi cumene, lalu phenol, dan akhirnya parasetamol. “Kita harus mengatasi hambatan ini agar belanja kesehatan bisa jadi kontributor signifikan bagi Produk Domestik Bruto (PDB) di sektor kesehatan,” jelasnya.
Kebutuhan hilirisasi juga terlihat dalam pengolahan darah menjadi berbagai produk medis, seperti plasma, albumin, imunoglobulin, serta faktor VIII dan IX. Meski Indonesia memiliki pasokan darah yang cukup besar karena jumlah penduduknya, Budi menyebut bahwa semua produk ini masih mengandalkan impor. “Jika kita mampu mengolah darah secara mandiri, maka ketergantungan pada luar negeri akan berkurang,” tuturnya.
Target Pertumbuhan Ekonomi dan Peran DEN
Menurut Budi, berhasilnya hilirisasi akan memberi dampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi. Ia mengingatkan bahwa Presiden Joko Widodo menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8% di tahun depan, dan hilirisasi menjadi salah satu strategi untuk mencapainya. “Dengan belanja kesehatan yang terpimpin dalam negeri, kita bisa memperkuat daya saing sektor kesehatan,” katanya.
Dalam sesi yang sama, Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menyebut bahwa pengembangan sektor kesehatan akan langsung memberi manfaat bagi masyarakat. Ia menyoroti bahwa kolaborasi dalam bidang vaksin dan diagnostik bisa mengurangi ketergantungan pada impor. “Ini tidak hanya tentang kesiapan medis, tapi juga tentang ekonomi yang lebih tahan banting,” ujarnya.
Luhut juga menyoroti proyek pabrik plasma yang diinisiasi oleh pemerintah. “Pabrik plasma pertama telah selesai, dan sekarang tinggal menunggu izin produksi agar bisa beroperasi pada 2027,” katanya. Dengan kapasitas produksi 600 ribu liter per hari, Indonesia bisa mengurangi impor plasma yang saat ini masih mengalir dari luar negeri. “Ini adalah langkah penting untuk mengubah struktur belanja kesehatan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi,” tambah Luhut.
Potensi Ekosistem Kesehatan ASEAN
Kebijakan ini mencerminkan upaya Indonesia membangun ekosistem kesehatan yang tidak hanya mandiri tetapi juga berbagi dengan negara-negara ASEAN. Budi menekankan bahwa ASEAN perlu membangun kemitraan kuat dalam produksi vaksin, dengan mengintegrasikan kapasitas produksi masing-masing negara. “Kolaborasi ini akan memastikan bahwa setiap negara memiliki kekuatan untuk bertahan ketika krisis terjadi,” katanya.
Menurutnya, ekosistem kesehatan yang kuat juga akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan. Ia mencontohkan bahwa keberhasilan hilirisasi produk kesehatan akan mengurangi risiko ketergantungan pada luar negeri, terutama dalam masa pandemi. “Jika kita bisa menghasilkan semua produk kesehatan dalam negeri, maka kita tidak hanya menghemat anggaran, tetapi juga mendorong perekonomian lokal,” ujarnya.
Dalam konteks global, Budi menyebut bahwa kemandirian dalam produksi vaksin dan obat akan menjadi pertahanan terhadap tekanan ekonomi dari luar. “Dengan membangun sistem yang ku
