Latest Program: Wihaji: Pentingnya komunikasi keluarga cegah anak terjerumus narkoba

Wihaji: Komunikasi Keluarga sebagai Pilar Pencegahan Narkoba pada Anak

Latest Program – Di Yogyakarta, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji menekankan peran penting komunikasi antara orang tua, terutama ayah, dalam menjaga anak dari pengaruh narkoba dan pergaulan bebas. Pada puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026, ia menyoroti bahwa kekurangan kehangatan emosional dalam keluarga bisa menjadi akar masalah yang merusak kesehatan mental anak. Hal ini berpotensi memicu kecenderungan terhadap perilaku negatif, termasuk terlibat dalam masalah sosial seperti penyalahgunaan narkoba.

Kehangatan Emosional Ayah, Kunci Kesehatan Mental Anak

Menurut Wihaji, anak-anak yang terpapar narkoba atau kekerasan sering kali karena tidak merasa dicintai oleh orang tua di rumah. “Kehangatan emosional dari ayah sangat vital untuk mengembangkan mental anak yang kuat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kehadiran ayah yang aktif dan memberikan perhatian bisa mengurangi kekosongan emosional yang berujung pada pencarian pelarian di luar rumah tangga.

“Anak-anak yang kurang sayang di rumah lebih rentan terjerumus ke jalur yang salah. Jika tidak mendapatkan pelabuhan emosional, mereka akan mencari kehangatan di lingkungan yang tidak sehat,” kata Wihaji.

Lebih lanjut, ia menyoroti perubahan masyarakat modern yang membuat ancaman pergaulan bebas semakin merambah ke ruang keluarga melalui media digital. “Gawai dan layar ponsel telah mengubah dinamika komunikasi antara orang tua dan anak,” jelasnya. Wihaji memperingatkan bahwa kehadiran teknologi ini bisa menjadikan ayah terabaikan jika tidak disadari sejak dini.

Tiga Pilar Pembangunan Keluarga untuk Stabilitas Masa Depan

Untuk menghadapi tantangan ini, Wihaji menawarkan tiga aspek utama yang perlu diperkuat dalam pembangunan keluarga. Pertama, dalam bidang kesehatan, ia menekankan perlunya menuntaskan stunting melalui peningkatan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). “Kesehatan fisik dan mental anak harus diprioritaskan sejak awal, karena pengaruhnya terhadap pertumbuhan sepanjang hidup,” tutur Wihaji.

Kedua, dalam pendidikan karakter, rumah harus menjadi tempat pembelajaran abad ke-21. “Fungsi keluarga sebagai madrasah pertama tidak bisa digantikan oleh institusi luar,” tambahnya. Ia menekankan bahwa integritas, kejujuran, dan disiplin anak harus dibentuk melalui interaksi langsung dengan orang tua, terutama ayah, yang menjadi figur penjaga nilai-nilai tradisional.

“Pergaulan bebas dan pengaruh negatif bisa dihindari jika anak diberi dasar karakter yang kuat di rumah,” ujar Wihaji.

Ketiga, ketahanan mental keluarga harus dijaga sebagai pelabuhan emosional yang aman. “Anak-anak perlu mendapatkan kekuatan psikologis dari lingkungan keluarga, agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh,” katanya. Wihaji menilai bahwa tantangan zaman digital membuat anak lebih rentan stres, sehingga kehangatan dari orang tua menjadi sarana penting untuk mengimbangi tekanan tersebut.

Keluarga sebagai Hulu Kebijakan Publik

Menurut Wihaji, kekuatan keluarga bukan hanya urusan domestik, melainkan urgensi nasional yang berkorelasi langsung dengan kesejahteraan bangsa. “Jika institusi keluarga rapuh, usia produktif anak akan menjadi bencana demografi,” tegasnya. Ia menyebutkan bahwa stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat bergantung pada keluarga yang tangguh dan memiliki nilai moral.

“Jadikan rumah sebagai tempat yang paling aman dan diinginkan. Dengan kehangatan keluarga, anak akan selalu kembali ke jalan yang benar,” imbuh Wihaji.

Menyikapi perubahan masyarakat yang cepat, Wihaji mengajak seluruh elemen masyarakat untuk merubah pola pikir bahwa keluarga adalah pusat kebijakan publik. “Infrastruktur yang megah tidak akan bermakna jika tidak diimbangi dengan SDM yang memiliki etika dan moral,” katanya. Ia berharap setiap orang tua, terutama ayah, mampu menjadi panutan yang memberikan kehangatan emosional dan komunikasi yang berkualitas kepada anak.

Peran Ayah dalam Masa Depan Generasi Muda

Wihaji menekankan bahwa kehadiran ayah dalam keluarga adalah kunci utama dalam mencegah anak terpapar narkoba dan risiko lainnya. “Jangan biarkan meja makan sunyi karena kehadiran ayah bisa menjadi penghubung antara anak dan nilai-nilai kehidupan,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa algoritma digital, meski canggih, tidak bisa menggantikan peran orang tua dalam membentuk karakter anak.

Dalam pembangunan keluarga, Wihaji memaparkan bahwa kesehatan anak harus menjadi prioritas. “Stunting tidak hanya memengaruhi fisik, tetapi juga mental. Jika anak tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, mereka akan rentan terhadap tekanan lingkungan,” katanya. Hal ini mengingatkan bahwa kebijakan publik dalam bidang kesehatan perlu diintegrasikan dengan peran keluarga dalam memberikan asupan gizi yang tepat.

“Tidak ada yang lebih penting dari kehangatan emosional yang diberikan ayah kepada anak. Itu adalah langkah awal untuk mencegah masalah di masa depan,” ujar Wihaji.

Di sisi lain, ia menyoroti bahwa pendidikan karakter perlu dimulai dari lingkungan rumah. “Keluarga adalah tempat pertama yang membentuk identitas anak. Jika tidak diberi nilai-nilai yang baik, mereka akan mudah terpengaruh oleh kebiasaan negatif di luar rumah,” katanya. Ia mengingatkan bahwa kehadiran ayah dalam diskusi dan dialog dengan anak adalah bagian penting dari proses ini.

Wihaji juga menekankan bahwa kekuatan keluarga adalah benteng terkuat dalam melawan penyebaran narkoba. “Dengan komunikasi yang baik, anak akan merasa aman dan percaya diri,” katanya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan pembangunan nasional bergantung pada kesehatan keluarga, yang menjadi fondasi untuk menumbuhkan generasi muda yang berkualitas.

Dalam kesimpulannya, Wihaji meminta seluruh lapisan masyarakat untuk bekerja sama dalam memperkuat kehadiran orang tua di rumah. “Keluarga harus menjadi tempat yang paling dihargai, karena itu adalah tempat paling awal untuk membentuk masa depan anak,” katanya. Ia berharap kebijakan pemerintah dan masyarakat bisa sejalan dalam menciptakan lingkungan yang aman untuk perkembangan anak-anak Indonesia.