Key Strategy: Gibran tekankan pentingnya perdamaian saat buka Pesparawi XIV
Gibran Tekankan Peran Perdamaian dalam Pembangunan Papua
Key Strategy – Manokwari, Papua Barat (ANTARA) – Di tengah perayaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV pada Sabtu malam, Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka memaparkan pentingnya suasana damai sebagai fondasi pembangunan di tanah Papua. Acara pembukaan yang berlangsung di Manokwari ini menjadi kesempatan bagi Gibran untuk menyoroti peran kesadaran akan persatuan dalam mempercepat pertumbuhan wilayah yang masih dianggap keterbelakangan.
Sambutan Gibran: Kondisi Damai Membuka Peluang Pengembangan
Dalam pidato pembukaannya, Gibran menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak bisa terlepas dari situasi sosial yang stabil. Ia menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya menyama ratakan kemajuan di seluruh pelosok negeri, termasuk di Papua. “Kami memandang bahwa keberhasilan pembangunan selalu dipengaruhi oleh keadaan masyarakat yang harmonis,” jelas Gibran.
“Situasi yang kondusif dan damai menjadi syarat utama untuk mencapai kesejahteraan bersama. Oleh sebab itu, saya mengapresiasi tema Pesparawi tahun ini yang menitikberatkan pada penciptaan suasana perdamaian dan persaudaraan di tanah Papua,” ujar Gibran.
Kunjungan ke Borarsi: Tanda Progres Pembangunan di Papua Barat
Konser paduan suara di Lapangan Borarsi yang digunakan sebagai lokasi utama acara ini menjadi bukti nyata peran kementerian dalam meratakan infrastruktur. Dalam kunjungan kerja November 2025 lalu, Gibran sempat memantau progres pembangunan lokasi tersebut, namun kini Lapangan Borarsi telah siap digunakan sebagai pusat kegiatan budaya dan sosial. “Tidak hanya wilayah Pulau Jawa yang dinanti, tapi juga daerah-daerah seperti Papua Barat,” tambahnya.
Menurut Gibran, hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk tidak membiarkan daerah tertentu tertinggal. “Kami ingin memastikan bahwa setiap wilayah memiliki akses yang setara, baik dalam pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi,” katanya. Dengan demikian, keberhasilan Pesparawi XIV tidak hanya menjadi simbol kebudayaan, tapi juga momentum untuk membangun masyarakat yang lebih solid.
Proyek Strategis: Membangun Papua dari Bawah ke Atas
Salah satu kebijakan yang menjadi fokus Gibran adalah pembangunan infrastruktur yang mengakar ke kebutuhan masyarakat. Ia menyoroti sejumlah program yang telah dan sedang dijalankan, seperti pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Manokwari, penyelesaian jalan Trans Papua, serta pengembangan Sekolah Rakyat. “Program-program ini dirancang untuk mendorong akses pendidikan yang merata, terutama di daerah pedesaan,” jelasnya.
Bukan hanya dalam bidang kesehatan dan pendidikan, Gibran juga menyoroti upaya peningkatan kualitas hidup melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan bahwa kebijakan ini tidak hanya meringankan beban ekonomi keluarga, tetapi juga membantu masyarakat memenuhi kebutuhan gizi yang esensial. “MBG adalah bentuk perhatian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat yang terabaikan,” tambahnya.
Kunjungan kerja Gibran ke Papua Barat juga menyoroti keberhasilan pembangunan infrastruktur seperti Kampung Nelayan, yang menjadi inisiatif untuk meningkatkan ekonomi lokal melalui pengembangan sektor perikanan. “Kami ingin masyarakat bisa berdaya secara ekonomi, tidak hanya tergantung pada bantuan pemerintah,” katanya.
Pesparawi XIV: Melebur Budaya dan Pemikiran Kebangsaan
Kehadiran Gibran di Manokwari menunjukkan bahwa kegiatan seperti Pesparawi XIV menjadi ajang untuk menyatukan kepentingan nasional dan lokal. Ia menyatakan bahwa acara ini memiliki makna lebih dari sekadar pertunjukan musik, melainkan sebagai sarana untuk memperkuat persaudaraan dan semangat kebersamaan. “Pesparawi adalah bukti bahwa kebudayaan gerejawi bisa menjadi pembawa pesan perdamaian,” ujarnya.
Menurut Gibran, momentum ini juga memberi ruang bagi masyarakat Papua untuk mengekspresikan identitas budaya mereka sambil tetap merangkul keberagaman. “Kita perlu membangun semangat persatuan tanpa menghilangkan nilai-nilai lokal,” tambahnya. Hal ini sejalan dengan misi pemerintah untuk memperkuat ikatan kebangsaan sekaligus melindungi keragaman budaya sebagai bagian dari keberagaman nasional.
Kunjungan Selanjutnya: Fokus pada Fasilitas Publik di Asmat
Selama kunjungan kerjanya ke Papua Barat, Gibran berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan fasilitas publik yang melayani kebutuhan masyarakat. Dalam jadwal kunjungan kerjanya yang berlangsung 18-21 Juni 2026, Gibran akan menyambangi Kabupaten Asmat pada hari terakhir untuk meninjau berbagai proyek yang telah selesai atau masih dalam proses. Fasilitas yang akan dilihat mencakup Asmat Museum of Culture and Progress, Sekolah Lapang Sagu, RSUD Agats, dan Gereja Katedral Salib Suci.
Gibran menggarisbawahi bahwa pengawasan langsung terhadap proyek ini penting untuk memastikan keberlanjutan dan kualitas hasil. “Dengan meninjau langsung, kami bisa menilai apakah proyek tersebut sesuai dengan harapan masyarakat,” katanya. Ia juga menegaskan bahwa pembangunan kini lebih terarah pada kebutuhan lokal, bukan hanya keuntungan politik atau simbolis.
Pesparawi XIV diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana kegiatan kebudayaan bisa menjadi perisai dari kesan terbelakang. Dengan adanya perpaduan antara nilai-nilai lokal dan semangat nasional, Gibran yakin bahwa Papua akan semakin mendekatkan diri pada kemajuan yang seimbang. “Kami ingin melihat hasil dari kerja keras selama beberapa tahun terakhir,” katanya.
Kehadiran Gibran juga memberi semangat baru kepada masyarakat untuk terus berkontribusi dalam membangun wilayah mereka. Ia menegaskan bahwa persatuan tidak hanya diawali dari pemerintah, tetapi juga dari kesadaran masyarakat dalam menjaga fasilitas yang telah dibangun. “Mari kita jaga setiap bangunan, jalur, dan fasilitas yang telah kami tinggalkan,” pungkasnya.
