BPBD Sigi butuh bantuan tangani karhutla di Gunung Lembosa Lindu
Daftar Isi
Api di Gunung Lembosa Tak Kunjung Padam, BPBD Sigi Minta Perkuatan Darurat
Programamal.com – Asap tebal masih mengepul dari lereng Gunung Lembosa di Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Kebakaran hutan dan lahan yang melahap kawasan tersebut telah merambat hingga mencakup sekitar 20 hektare, dan hingga hari Minggu belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Jarak antara titik api dan sumber air terdekat mencapai 1,5 kilometer, sebuah jarak yang membuat upaya pemadaman manual menjadi sangat berat bagi tim di lapangan.
Kondisi medan yang terjal dan minimnya akses air bersih di sekitar area kebakaran membuat setiap upaya memadamkan api harus dilakukan dengan cara paling dasar: membawa air secara manual atau menggunakan mesin semprot berkapasitas terbatas. Tanpa dukungan logistik yang memadai, petugas hanya mampu memadamkan sebagian kecil area yang terbakar, sementara api terus menjalar ke sisi lain lereng gunung.
“Hingga saat ini karhutla di Gunung Lembosa belum dapat dipadamkan, disebabkan titik api ke sumber air mencapai 1,5 kilometer,” ujar Ahmad Yani, Kepala Bidang Bencana BPBD Kabupaten Sigi, saat memberikan keterangan di Dolo pada hari Minggu.
57 Personel Berjuang di Medan Terbatas
Operasi pemadaman yang berlangsung melibatkan total 57 personel dari berbagai unsur. Komposisi tim tersebut mencakup anggota TNI dan Polri, petugas Balai Kehutanan, personel BPBD, perwakilan pemerintah kecamatan dan desa, serta warga Desa Olu yang turun langsung membantu. Keragaman unsur ini menunjukkan bahwa penanganan bencana di wilayah pegunungan Sigi sangat bergantung pada gotong royong lintas institusi.
Meski demikian, jumlah personel tersebut dinilai jauh dari kata cukup mengingat luas area yang terus bertambah. Ahmad Yani menegaskan bahwa peralatan mesin semprot air yang tersedia di lokasi masih sangat terbatas untuk menangani kebakaran berskala puluhan hektare di medan pegunungan.
“Tim di lapangan saat ini sangat membutuhkan tambahan bantuan tenaga serta peralatan pendukung pemadaman,” tegasnya.
Ketidakseimbangan antara luas kebakaran dan kapasitas respons menjadi persoalan klasik yang berulang setiap musim kemarau di kawasan pegunungan Sulawesi Tengah. Tanpa dukungan helikopter water bombing, tambahan tangki air, atau mesin semprot berkapasitas besar, petugas hanya mampu membentuk garis pengaman sempit di sekitar titik api, bukan memadamkan seluruh area yang terbakar.
Lima Kecamatan di Sigi Catat Laporan Karhutla Selama Agustus 2026
Gunung Lembosa bukan satu-satunya titik panas di Kabupaten Sigi pada periode ini. Data internal BPBD mencatat bahwa selama Agustus 2026, laporan kebakaran hutan dan lahan diterima dari lima kecamatan sekaligus: Marawola, Gumbasa, Sigi Kota, Dolo Barat, dan Dolo Selatan. Pola sebaran yang tersebar di berbagai wilayah menunjukkan bahwa ancaman karhutla bukan lagi kejadian lokal di satu titik, melainkan fenomena musiman yang menyentuh hampir seluruh bagian kabupaten.
Periode Agustus berada di puncak musim kering di Sulawesi Tengah, ketika curah hujan turun drastis dan kelembapan udara berada di titik terendah sepanjang tahun. Kondisi ini membuat vegetasi kering menjadi bahan bakar yang sangat mudah menyala, bahkan dari percikan kecil akibat pembakaran sampah atau pembukaan lahan secara tradisional. Di kawasan pegunungan seperti Lindu, angin yang bertiup dari lembah ke puncak mempercepat penyebaran api secara eksponensial.
Implikasi ekologis dari kebakaran di Gunung Lembosa tidak dapat diabaikan. Kawasan tersebut merupakan bagian dari ekosistem hutan pegunungan yang berperan sebagai penyangga air bagi wilayah hilir. Jika lapisan vegetasi dan tanah humus terkikis oleh api, kemampuan tanah menahan air akan menurun drastis, meningkatkan risiko longsor dan banjir bandang saat musim hujan tiba beberapa bulan kemudian.
Ajakan Pencegahan ke Seluruh Warga
Di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung, BPBD Sigi mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan atau pembakaran sampah terbuka, terutama pada siang hari ketika suhu udara tinggi dan angin bertiup kencang. Langkah sederhana ini, menurut Ahmad Yani, merupakan kunci utama untuk mencegah munculnya titik api baru yang akan menambah beban tim pemadam.
“Kami mengimbau seluruh pihak untuk menghindari pembakaran lahan maupun sampah untuk mencegah terjadinya karhutla,” kata Ahmad Yani.
Imbauan tersebut sejalan dengan pengalaman berulang di berbagai daerah Sulawesi Tengah, di mana sebagian besar kebakaran hutan dan lahan bermula dari aktivitas pembakaran berskala kecil oleh warga—mulai dari pembersihan kebun, pembakaran sisa panen, hingga pembakaran sampah rumah tangga di tepi jalan. Ketika musim kering tiba, percikan kecil yang tampak sepele dapat berubah menjadi kebakaran yang melahap puluhan hektare dalam hitungan jam, terutama di kawasan yang sulit dijangkau oleh armada pemadam.
Sementara api di Gunung Lembosa masih berkobar, masyarakat Desa Olu dan warga sekitar Lindu diimbau untuk tetap waspada terhadap percikan api yang terbawa angin, terutama pada malam hari ketika visibilitas rendah dan suhu udara turun. Koordinasi antarwarga, pemerintah desa, dan petugas BPBD menjadi lapisan pertahanan terakhir sebelum kebakaran meluas ke pemukiman atau area pertanian di kaki gunung.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is BPBD Sigi butuh bantuan tangani karhutla?
BPBD Sigi butuh bantuan tangani karhutla is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does BPBD Sigi butuh bantuan tangani karhutla matter?
BPBD Sigi butuh bantuan tangani karhutla matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.